(dum = bagi, Javanese-red)

Sore hari.

Sore yang panas dan lengas. Debu tanah kapur Carangpedopo tak jarang terbawa angin, berputar menyelimuti segala macam benda yang mencoba menghalangi laju terbangnya. Kondisi seperti ini tak ayal mengurungkan langkah warga menuju rumah Cengkir untuk memulai Obrolan Sore. Mereka lebih memilih melanjutkan sedikit istirahat di sore yang penat ini.

Namun ada satu orang yang tetap semangat berderap memasuki pekarangan rumah Joglo kuno milik keluarga Cengkir turun temurun. Priyayi tersebut siapa lagi kalau bukan Lik Power. Lelaki lewat paruh baya yang masih gesit tingkah-lakunya. Cukup bangga dan nyaman sebagai Guru Desa Carangpedopo. Karena memang seluruh trah keluarganya sejauh yang bisa ditelusuri, adalah penguasa turun temurun desa ini.

Ringan langkahnya, jumawa gerak-geriknya, Lik Power masuk ke teras rumah Joglo Cengkir. Bahkan saking semangatnya, debu coklat-keputihan (kenapa saya merasa ada yang salah dengan kata-kata ini, ya) yang menutupi meja dan kursi tempat ritual Obrolan Sore, musnah dalam sekali tiupan Lik Power.

“Ceng! Cengkir!” panggil Lik Power, dengan intonasi full power.

Tuan rumah tergopoh-gopoh keluar begitu mendengar “panggilan berkuasa” itu.

“Oalah, Lik Power to. Sendirian aja, Pak Lik?” sapa Cengkir ramah.

“Lha iya, panas-panas kayak gini ya mesti mereka pada tidur lagi.”Apalagi mereka-mereka pasti lagi pada kekenyangen.” jawab Lik Power dengan nada penuh arti.

“Oo..” kata Cengkir tanpa tau arti “kekenyangan” yang dimaksud Lik Power. Cengkir melanjutkan. “Kalo begitu, saya ambil wedangannya dulu, Pak Lik.”

“Weh, ndak usah, Ceng!” cegah Lik Power. “Aku juga lagi kekenyangen ini. Kamu duduk sini aja, temeni aku ngobrol.”

Cengkir pun duduk di salah satu kursi kayu beranyaman plastik yang mengelilingi meja bundar kayu jati yang telah menghitam. Cengkir mengamati Lik Power dengan seksama. Tidak lazim Obrolan Sore tanpa minuman dan sekedar kudapan.

“Ada apa to, Pak Lik? Kok kelihatannya sumringah betul. Sampai-sampai ndak berkenan saya buatkan minum?” selidik Cengkir.

“Maafnya aja, yo Ceng. Tapi aku bener-bener lagi gumbira, bungah. Anakku satu ini, emang oye bener.” kata Lik Power takjub. Anak yang dimaksud adalah putera Lik Power yang tengah menjabat Kepala Desa Carangpedopo seterah ayahnya, Lik Power, mewariskan jabatannya.

“Emangnya, Pak Kades gimana to, Pak Lik?” tanya Cengkir.

Sebelum menjawab, mantan Kepala Desa ini sengaja berdehem, biar terkesan berwibawa. Jurus ini selalu manjur digunakKan selama dia menjabat seumur hidupnya sebagai Kepala Desa. Kemudian, Lik Power mulai mengeluarkan buih-buih, menceritakan kehebatan anaknya yang menjabat Kepala Desa Carangpedopo periode beberapa tahun yang lalu hingga waktu tak terbatas, sak kemenge.

“Kemaren itu kan ada orang yang murka pengen nyicipi rasanya berkuasa di desa kita ini. Coba-coba ngrubah tatanan desa, kalo Kepala Desa Carangpedopo itu jabatan turun-temurun. Rame desa ini dibuatnya. Anak ku ngalah, dia mau nyelenggarain Pilkades. Tapi dia juga bikin slogan : ‘Pilkades 1 putaran, menghemat Kas Desa’.”

“Yang berarti, penghematan itu bisa buat balikin modal kampanye dan mbikin pesta mewah buat pelantikan anggota Lembaga Musyawarah Desa. Itung-itung persekot, buat mendukung Pak Kades terpilih.”  ulas Cengkir, jernih.

“Bener itu, Ceng. Tapi juga ada alasan lain. Yo kuwi, orang-orang yang kemarin kepecah ndak ndukung Kades terpilih, sekarang rame-rame bersatu, merapat mendukung anakku itu.” Lik Power berhenti sejenak. Mendekat ke Cengkir sebelum melanjutkan dengan nada bersekongkol. “Malahan ini ya Ceng, ya…Ini aku  mau cerita ini ke kamu soalnya kamu itu ndak suka nyebar-nyebarken rahasia ke orang-orang. Iyo to, Ceng?”

“Mulut saya tertutup rapat, Pak Lik.” janji Cengkir, pasti.

“Malahan gini, Ceng. Pak Roti yang terkenal enak Kue Lumpur-nya itu, yang kemaren jadi Kaur Kesra itu, tau ndak Ceng?”

Cengkir mengangguk.

“Nah, kemaren anakku mendukung Pak Roti buat jadi ketua RT wilayah gerumbul kuning sana. Kalau sudah jadi ketua RT gini, kan enak. Anakku tetep dapat dukungan dari gerumbul kuning, yang jumlah warganya banyak. Pak Roti juga tetep lancar bisnis Kue Lumpur-nya. Wis jan, soal bisnis kekuasaan anakku ndak kalah gesit dibanding Juragan Brono.” Lik Power geleng-geleng takjub dengan kepiawaian anaknya sendiri.”

“Kue Lumpur itu yang gimana, to Pak Lik?” tanya Cengkir yang lebih tertarik sama kue-nya Pak Roti daripada dagangannya Pak Kades.

“Welah, Kir – Cengkir. Masak produk kondang desa-nya sendiri kamu belum tau. Yo pantes, kalo nanti desa sebelah ngaku-aku. Ini, gambar kue lumpur-nya. Ngambil gambarnya dari sini.”

kue lumpur

“Oo..Lha warga grumbul Kedawung Banteng kan masih pengen nyicipi kekuasaan di desa ini, to Pak Lik?” tanya Cengkir kemudian.

“Wah, ini juga sudah diatasi sama anakku yang gantheng itu. Ketua RT gerumbul Kedawung Banteng sudah didukung dan diresmikan jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Desa. Wis to, semua sudah dibagi-bagi sama Kepala Desa terpilih. Pendukung utama yang sudah berjasa diberikan jabatan Kaur. Lawan-lawan dirangkulnya. Semua senang, semua kenyang. Sekarang anakku bisa bekerja mbangun desa ini dengan tenang.”

“Karena, warga desa Carangpedopo ini sukanya politiiik semua. Lha yang kerja siapa? Kalo semua sudah kebagian dan sudah senang seperti ini, Kepala Desa kan bisa kerja mbangun ndeso dengan tenang. Ndak selalu mikirin politik terus.”

“Lha tapi…misalnya ini, Pak Lik. Nyuwun sewu, sekarang semua jadi mendukung Pak Kades. Trus misalnya malah Pak Kades nyleweng, ndak amanah sama kekuasaannya. Trus yang mengingatkan siapa?” tanya Cengkir khawatir.

Lik Power tidak langsung menjawab, malah cengengesan. Kemudian berkata ringan. “Hehe…ya dimaklumi dan diterima saja, to Ceng. Orang jabatan Kades dari dulu sudah turun-temurun diwariskan, yo ndak pa-pa.”

blaik!

————————-

“Avé President! …Lucratori té salutant

(Selamat Presiden!…Salam dari Pendamba kekayaan dengan cepat)