(dum = bagi, Javanese-red)

Sore hari.

Sore yang panas dan lengas. Debu tanah kapur Carangpedopo tak jarang terbawa angin, berputar menyelimuti segala macam benda yang mencoba menghalangi laju terbangnya. Kondisi seperti ini tak ayal mengurungkan langkah warga menuju rumah Cengkir untuk memulai Obrolan Sore. Mereka lebih memilih melanjutkan sedikit istirahat di sore yang penat ini.

Namun ada satu orang yang tetap semangat berderap memasuki pekarangan rumah Joglo kuno milik keluarga Cengkir turun temurun. Priyayi tersebut siapa lagi kalau bukan Lik Power. Lelaki lewat paruh baya yang masih gesit tingkah-lakunya. Cukup bangga dan nyaman sebagai Guru Desa Carangpedopo. Karena memang seluruh trah keluarganya sejauh yang bisa ditelusuri, adalah penguasa turun temurun desa ini.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 09 : Dum!”