Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

politik

Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik

Sore hari.

Cuaca desa Carangpedopo sedang tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas, kadang panas-panas turun hujan.

Kadang terasa panasnya perseteruan para calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kadang hujan duit dari mereka, kadang panas-panasan sambil bagi-bagi duit.

Perwakilan desa sudah terpilih. Hujan duit sudah usai. Hujan hujatan masih masih berhembus. Di tengah suasana inilah, beberapa tokoh pemuja Obrolan Sore kembali mendatangi rumah Cengkir.

Lik Power, Juragan Brono, dan Kang Guru memasuki teras rumah joglo tempat berlangsungnya Obrolan Sore selama beberapa generasi. Mereka duduk melingkar di depan meja jati bundar yang telah usang. Lik Power secara otomatis meracik rokok lintingan yang selalu tersedia di kaleng biskuit bekas di atas meja.

Tidak beberapa lama, seolah mempunyai indra keenam, Cengkir keluar membawa suguhan berupa kopi dan talas rebus. Setelah kopi terbagi, talas tercicipi, Cengkir ikut bergabung, Obrolan Sorepun dimulai.

Lanjutkan membaca “Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik”

Obrolan sore 18 : Antri

Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Mas Roy, telah duduk mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia.

Para pemuja Obrolan Sore kali ini menunjukkan ekspresi berdeba-beda.

Mas Roy terlihat segar. Rambut yang terlihat mengilap dan selalu basah. Wajah berseri. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan putri kaur Kesra Desa Carangpedopo. Senandung lagu romantis terlantun dari bibir Mas Roy.

Berbeda dengan Mas Roy sang Putra Mahkota Desa Carangpedopo,

Juragan Brono duduk sambil sesekali mengaduh kesakitan. Separuh wajahnya terlihat membengkak merah-kebiruan. Bibir Juragan Brono yang memang sudah tebal, semakin terlihat tak tertahankan, menggelembung mengerikan. Mata kirinya semakin tidak terlihat karena pipinya seolah baru saja disuntik silikon.
Lanjutkan membaca “Obrolan sore 18 : Antri”

Obrolan Sore 17 : Cengkir Hilang!

Sore Hari.

“Ceng! Cengkir!” panggil Kang Sronto.

“Kamu di mana, to Ceng?” seru Lik Power sambil menggeledah rumah.

“Gak akan kami apa-apain kok, Ceng.” bujuk Mas Roy sambil melongok, malu-malu, ke dalam kamar mandi.

“Nggak usah sembunyi di tempat gelap kayak gitu, to Ceng. Bisa bikin hatimu jadi gelap, lho Ceng!” kata Juragan Brono prihatin. Tangan gemuknya menggasak di kegelapan lemari makan sambil prihatin kenapa isinya sedikit sekali.

Berapa saat kemudian, Kang Sronto, Lik Power, Mas Roy dan Juragan Brono kembali berkumpul di teras. Duduk melingkar di depan meja bundar dari jati yang telah jadi saksi ratusan Obrolan Sore.

Tidak ada sekedar hidangan kopi pahit dan ketela goreng sore ini.Begitu juga tidak ada Cengkir sore ini sebagai tuan rumah.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 17 : Cengkir Hilang!”

Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!

Sore hari.

Lik Power, Mas Roy, Kang Sronto, burung-burung, Tukang Cerita, angin, semua terdiam-ternganga melihat apa yang dilakukan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Di depan mereka semua, Cengkir sedang melakukan ritual misterius. Cengkir berpindah dari tiang ke tiang yang lain di rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap tiang yang Cengkir pegang dengan satu tangan, tubuhnya bergelinjangan.

“Chaiya, chaiiiyaaa…” mulutnya yang tebal meneriakkan mantra-mantra aneh. Mukanya jadi sendu, tangan satunya yang tidak memegang tiang dilambai-lambaikannya.

“Kamu lagi apa, to Ceng?” tanya Kang Sronto, tidak tega melihat sohibnya tersesat melakukan ritual tidak jelas seperti itu.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!”

Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat

tolak_uu_ite

 

Sore hari.

Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat”

Obrolan Sore 09 : Dum!

(dum = bagi, Javanese-red)

Sore hari.

Sore yang panas dan lengas. Debu tanah kapur Carangpedopo tak jarang terbawa angin, berputar menyelimuti segala macam benda yang mencoba menghalangi laju terbangnya. Kondisi seperti ini tak ayal mengurungkan langkah warga menuju rumah Cengkir untuk memulai Obrolan Sore. Mereka lebih memilih melanjutkan sedikit istirahat di sore yang penat ini.

Namun ada satu orang yang tetap semangat berderap memasuki pekarangan rumah Joglo kuno milik keluarga Cengkir turun temurun. Priyayi tersebut siapa lagi kalau bukan Lik Power. Lelaki lewat paruh baya yang masih gesit tingkah-lakunya. Cukup bangga dan nyaman sebagai Guru Desa Carangpedopo. Karena memang seluruh trah keluarganya sejauh yang bisa ditelusuri, adalah penguasa turun temurun desa ini.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 09 : Dum!”

Obrolan Sore 07: Rame!

Sore hari.

Tidak seperti judulnya, tamu-tamu yang duduk melingkari meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia terdiam sepi. Lik Power, Kang Sronto, Juragan Brono dan Bang Sianturi duduk terdiam dengan wajah tegang. Sementara tuan rumah, Cengkir belum datang dari beres-beres rumah yang terkena lindu di wilayah grumbul kulon desa Carangpedopo. Gempa yang baru saha melanda memang tidak menimbulkan korban jiwa tapi menyebabkan kerusakan beberapa rumah di wilayah barat desa ini.

“We lah, kok cuman diam-diaman saja? Mentang-mentang ndak ada suguhannya ya?”  kata Cengkir ceria seperti biasa. Dia baru datang dan seluruh badannya masih berlumuran debu bangunan.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 07: Rame!”

Obrolan Sore : Waktu Luang

Sore hari.

Seperti biasa, telah berkumpul bapak-bapak di rumah pusaka turun-temurun keluarga Cengkir, untuk sekedar menikmati kopi gula aren dan obrolan sore. Suatu ritual yang juga sudah dilaksanakan turun temurun di kediaman Cengkir, demi menghabiskan waktu luang warga desa Carangpedopo.

Nah, masalah waktu luang ini juga yang sedang asik dibahas peserta Obrolan Sore kali ini.  Hadirin sepakat, kalau waktu luang bagaikan dua sisi mata pisau yang berbeda. Bisa bermanfaat, tapi bisa juga mencelakakan.

Wuah, kenapa para jelata ini bisa berkata-kata tingkat tinggi seperti itu? Ternyata, diantara pemuja waktu luang ini, hadir Mas Aris sang filsuf  Carangpedopo. Karna satu-satunya filsuf  di desa ini, beliau sering memanjangkan namanya sendiri, yang sebetulnya cekak-aos , cuma : Aris g. Aris memanjangkan namanya jadi Aristoteles. Tapi, lidah polos warga Carangpedopo melafalkannya : Aris-toteles (terjemahan buebas : Aris to yang kecemplung got sampai basah kuyup begitu).

Biasanya, filsuf desa ini tidak pernah kelihatan beredar di daerah Carangpedopo. Biasa mengikuti kemana kaki melangkah, mencari kebijaksanaan sejati . Mas Aris kembali beberapa waktu lalu, karna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara, untuk mencoreng muka mencontreng calon anggota dewan yang terhormat. Kenapa sampai sekarang Mas Aris masih berada di kampung halamannya, bukannya kembali merantau seperti biasa? Itu karena, Mas Aris merasa lemas, tulang-belulang kakinya seolah dilolosi hingga tak sanggup melangkah ke luar desa Carangpedopo, setelah melihat drama koalisi saat ini.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Waktu Luang”

Atas ↑