Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Kategori

Gerakan Desa Membangun

Juguran Blogger Indonesia 2016 Sebuah Kerja Kolaborasi

Meski kata โ€œbloggerโ€ kini sudah mulai lapuk dimakan jaman. Sebagian tergerus oleh praktisnya sosial media. Sebagian lagi karena ulah beberapa blogger sendiri dengan motivasi-motivasi eksistensi pribadinya <== ra sah digagas maksude, asal njeplak ben ketok intelek.

Adalah quote dari postingan Juguran Blogger Banyumas 4 tahun silam. Sudah berlangsung 4 tahun, dengan segala macam lika-likunya, entah pudar entah bermetamorfosis, toh masih ada saja spesies blogger di muka bumi ini ๐Ÿ™‚ .

Continue reading “Juguran Blogger Indonesia 2016 Sebuah Kerja Kolaborasi”

Iklan

Museum Desa Dermaji : Penghubung Masa

museum desa dermaji

Museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif pada masa depan. Sejak tahun 1977, setiap tanggal 18 Mei diperingati sebagai Hari Museum Internasional. [Wikipedia]

Mendokumentasikan kekhasan masyarakat itulah yang menjadi dasar ide bagi Pemerintah Desa Dermaji, kecamatan Lumbir untuk mendirikan Museum Desa Dermaji “Naladipa”. Nama museum diambil dari nama Kepala Desa Dermaji yang pertama, yaitu Naladipa. Dalam sejarah lisan Desa Dermaji, Naladipa dikenal sebagai orang yang dermawan dan sakti sehingga muncul nama Dermaji (Derma= Dermawan + Aji=Sakti).

Museum yang diresmikan pada 17 Juni 2013, dimaksudkan sebagai media rekam kehidupan masyarakat desa di ujung barat kabupaten Banyumas ini. Selain itu, ย museum desa menjadi media penghubung pengingat kearifan masa lalu untuk membangun masa depan.

Berikut video Bayu Setyo Nugroho, Kepala Desa Dermaji tentang Museum Desa Dermaji :

Continue reading “Museum Desa Dermaji : Penghubung Masa”

Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 2)

 gerakan desa membangun banyumas

Melanjutkan tulisan bagian pertama.

2. Kualitas Konten

Untuk bisa lepas dari jeratan UU ITE Pasal 27 ayat 3, maka produk tulisan adalah tulisan yang mematuhi kaidah jurnalistik sehingga mendapat payung hukum UU no 40 tahun 1999.

Itu idealnya.
Dari setiap bengkel kerja kelas menulis berita desa itu juga yang diajarkan.

Hanya saja…
ah, menurut sudut pandang saya, kalau itu semua dipaksakan akan tidak lucu lagi dan menjadi kekhawatiran yang terlalu berlebihan ๐Ÿ™‚

Tujuan lain dari “desa bersuara” ini adalah memperbanyak konten positif tentang desa.

Mencari-cari kekurangan desa dan mengabarkannya itu sudah ada yang menggawanginya sendiri. Yaitu media-media arus utama yang masih menganut “(your’s) bad news is (my) good news”.

Jika mengharapkan kritis dan reaksionernya konten desa membongkar aib desa,
Jika mengharapkan dewa 5 W + 1 H selalu hadir di setiap tulisan berita website desa,
Terus apa bedanya dengan media modal besar?

Continue reading “Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 2)”

Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 1)

…yang lucu.

Begitulah judul lengkapnya. Jadi jelas semua tulisan ini adalah murni dari sudut pandang saya pribadi, tanpa paksaan dan tanpa ditekan-tekan ๐Ÿ™‚

Mulai bergabung sejak Lokakarya II Gerakan Desa Membangun (GDM) diย desa Beji (hiks, link tulisan saya tentang ini belum bisa terecovery). Selanjutnya saya langsung jatuh cinta pada gerakan yang lucu ini ๐Ÿ˜€

Gerakan Desa Membangun (GDM)

Mengambil istilah Andy MSE yang selalu beliau sabdakan. Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya selama lebih kurang 1,5 tahun berada di GDM, apa yang ada di sudut pandang saya adalah :

Berawal dari keinginan desa untuk menjadi lebih mandiri dan bermartabat sehingga memiliki posisi tawar.

Tidak dipungkiri, stigma desa adalah untuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan. Keterbelakangan, kemiskinan, ketidakberdayaan.

Continue reading “Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 1)”

Pengarusutamaan Desa Bersama Media Arus Utama

kerjasama media mainstream dengan media lokal
Media Indonesia 24 April 2013

Baiklah, sebelum menjadi sesuatu yang meresahkan, disepakati terlebih dahulu, di sini yang dimaksud “Media Arus Utama (Mainstream)” adalah media-media bermerk dengan modal yang besar.

Semoga dapat diterima semua pihak ๐Ÿ™‚

Saatnya bercerita.

Cerita ini dimulai, dahulu kala, ketika saya mengikuti “Forum Discussion Group” (FGD) yang diselenggarakan oleh Internet Sehat .

Kegiatan yang diadakan di House of Eva dan IDC Jakarta ini sudah berlangsung nyaris setahun lalu (7-8 Juli 2012). Tema FGD kali ini adalah “Kebebasan Berekspresi di Internet”.

Continue reading “Pengarusutamaan Desa Bersama Media Arus Utama”

Domain desa.id

domian desa.id
salah satu alamat web desa yang dibordir di jaket Kepala Desa Pancasan, http://pancasan.or.id

Disadari atau belum akhir-akhir ini, apapun wadahnya, desa-desa di wilayah Nusantara mulai menggeliat untuk menjadi daerah yang mandiri. Daerah yang tidak terlalu bergantung kepada pemerintah pusat.

Ini dapat dipahami, mengingat selama ini desa hanya dijadikan sebagai objek proyek Pemerintah, tanpa melihat apakah program (proyek) tersebut tepat guna diterapkan di suatu desa atau tidak.

Lebih jauh lagi, seringkali desa hanya dimanfaatkan sebagai tempat untuk mendulang tambang dan suara, tanpa diberikan haknya.

Menghadapi kondisi seperti tersebut, desa mulai berjejaring dalam berbagai macam kelompok untuk bersama-sama menjadi lebih mandiri dan memiliki daya tawar.

Termasuk diantaranya adalah Gerakan Desa Membangun (GDM). Sebuah gerakan yang berawal dari keinginan desa itu sendiri untuk memanfaatkan teknologi dengan tujuan untuk menjadikan desa mandiri secara ekonomi dan memiliki daya tawar bagi pemerintahannya. Karena subjeknya adalah desa, tidak lagi sekedar sebagai objek, maka gerakan ini menggunakan nama Desa (sendirilah yang) Membangun.
Continue reading “Domain desa.id”

Juguran Blogger Banyumas Sebuah Kerja Dablongan

Sebelum bercerita tentang kesan saya tentang acara Juguran Blogger Banyumas, saya ceritakan dulu budaya khas yang melatari penamaan acara wisata desa ini.

Pertama adalah Juguran.
Sama seperti di daerah lain, budaya berkumpul santai sekedar menyambung silaturahmi juga dikenal di Banyumas. Daerah lain mengenalnya dengan istilah cangkrukan, kongkow atau yang lain. Banyumas mengenalnya dengan istilah juguran.

Ada Juguran berarti terjadi Dopokan.
Pelafalan Dopokan adalah “k” diucapkan dengan jelas (bukan dopo’an). Dopokan berarti chit-chat / obral-obrol dalam suasana santai. Bisa menghasilkan keputusan yang kemudian ditindaklanjuti atau sekedar bertukar informasi.

Maka, tidak ada dopokan di acara juguran yang asyik tanpa ditemani wedang clebek dan mendoan hangat.
Wedang clebek adalah minuman kopi racikan sendiri dan ditumbuk manual.
Mendoan adalah tempe lebar yang dilumuri tepung tipis dan digoreng tidak sampai keras (mendo). Puncak kenikmatan tertinggi tempe mendoan adalah sesaat setelah diangkat dari penggorengan. Terasa meleleh di mulut.

tempe mendoan banyumas
Tempe Mendoan

Continue reading “Juguran Blogger Banyumas Sebuah Kerja Dablongan”

Magnet itu Bernama GDM

lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas

Menyusul Lokakarya Desa Membangun IV di desa Dawuhan Wetan, kecamatan Kedungbanteng yang diselenggarakan Mei silam, dua bulan kemudian Lokakarya ke V diadakan di desa Dawuhan, kecamatan Banyumas.

Selama setengah tahun sudah lima kali diadakan lokakarya, terkesan sangat agresif (bahasa gaulnya : selo tenan :D) . Tapi begitulah kenyataannya. Sejak ditularkan di desa Melung (Banyumas, Jawa Tengah) sebagai desa kedua setelah sukses di desa Mandalamekar (Tasikmalaya, Jawa Barat), desa-desa lain di wilayah Banyumas ternyata menyambut dengan antusias.

Maka tidak mengherankan jika Gerakan Desa Membangun (GDM) berkembang secara agresif di kabupaten Banyumas. Dalam kurun waktu 6 bulan sudah lebih dari 30 desa di wilayah Banyumas yang tertarik bergabung di GDM.

Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gerakan sosial yang berintikan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efesiensi pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan ekonomi kreatif desa.

Bermuara dari tujuan tersebut, meski ini adalah gerakan sosial, GDM telah menjadi magnet banyak elemen masyarakat.

Continue reading “Magnet itu Bernama GDM”

Lomba Perahu Naga di Dreamland desa Pancasan, Banyumas

kaos gerakan desa membangun banyumas
Desain kaos Desa Membangun yang dikenakan Tim Perahu Naga Desa Membangun

Berita resminya ada di situs Blogger Banyumas.

Di sini adalah cerita nista-nya ๐Ÿ˜€

Satu hal yang menyenangkan dari Gerakan Desa Membangun (GDM) Banyumas adalah ke-kasual-annya. Santai, belajar bersama, saling mendukung, saling memotivasi meski seringnya dalam hal penistaan ๐Ÿ˜€

Tapi layaknya keluarga, saling gojek-kere seperti itulah yang membuat ikatan antar desa ini menjadi kental dan menyenangkan (bahasa jawa-nya : kanca/konco pliket ๐Ÿ˜† )

Lihat saja, begitu ada undangan dari desa Pancasan, kecamatan Ajibarang, Banyumas untuk mengikuti Lomba Perahu Naga, langsung ditanggapi dengan semangat : ayo ikut!

Secara alami, terbentuklah 1 tim perahu naga GDM.

Menyadari sebagian besar anggota tim perahu naga GDM belum pernah sekalipun mendayung perahu naga, Tim Desa Membangun Banyumas ini meminta kemurahan hati Kepala Desa Pancasan untuk mengizinkan latihan terlebih dahulu sebelum hari pembantaian perlombaan.

Permission granted. Ijin diberikan.

Maka, hari kamis sore (sebetulnya sih janjiannya tidak begitu sore, hanya molor dulu kemana-mana ๐Ÿ˜€ ) tanggal 29 Maretย  2012, Tim Perahu Naga GDM berkumpul di Dreamland Pancasan, Ajibarang, Banyumas.

Sekali lagi, Dreamland ini merupakan wahana rekreasi air yang sedang dikembangkan secara agresif demi tujuan mulia : ikon Jawa Tengah.

Ini saya tampilkan lagi rangkuman foto Dreamland Pancasan, Ajibarang – Banyumas :

dreamland desa pancasan,banyumas
Dreamland Pancasan, Ajibarang - Banyumas

Tempat yang sangat menggiurkan untuk bersenang-senang. Maka tidak heran jika (silakan perhatikan timeline foto berikut ini) :

Continue reading “Lomba Perahu Naga di Dreamland desa Pancasan, Banyumas”

Atas ↑