Hadir satu lagi produk inkubasi Innocircle, yaitu Doomu. Innocircle sendiri masuk di Kopkun Grup. Doomu ini akronim dari “Deliver order mu”. Sesuai namanya, ini adalah delivery order untuk menghubungkan antara Merchant (toko dan lainnya) dengan Pembeli.

aplikasi delivery doomu dari purwokerto

Doomu sudah tersedia (setidaknya) di Playstore (Android). Sampai tulisan ini dimuat, Doomu sudah diunduh 500+ dengan rating 4,6. Bagus juga.

Inti aplikasi ini adalah nyuruh Doomu membelikan barang kebutuhan yang tersedia di aplikasi. Kemudian kita membayar sejumlah harga barang + ongkir ke Doomu.

Setelah diberi kesempatan untuk mencoba fitur baru Doomu, yaitu “Pasar”, yang berarti fitur titip belanja + dianter dari pasar tradisional ke tempat/rumah pembeli. Berikut cerita pengalaman saya :

Catatan : Aplikasi Doomu adalah aplikasi baru lahir. Tentunya masih terus dikembangkan dan disempurnakan. Jadi, apa yang masih jadi catatan di tulisan ini, akan sangat mungkin sudah disempurnakan kelak di kemudian hari.

  1. Instalasi dan penggunaan cukup mudah. Karena “clear dan simple” User Interface-nya. Cukup mudah dipahami
  2. Cakupan wilayah saat ini baru melayani wilayah Purwokerto dan sekitarnya
  3. Pasar yang didukung saat ini baru dari pasar induk, Pasar Wage Purwokerto
  4. Sistem Pembayaran yang didukung : Cash On Delivery (COD), MYCOOP, SAKTI Link, COD + Voucher Free Ongkir, Lainnya (OVO, GOPAY, DANA, dll). Semuanya “akan dikonfirmasi oleh Driver Doomu. Juga untuk pilihan Ovo, Gopay, Dana, dll masih dalam pengembangan.
metode pembayaran Doomu aplikasi belanja dari Purwokerto

Tentu saja, saya berharap selanjutnya tidak bergantung dengan konfirmasi driver dulu, melainkan sudah langsung bisa dibayar di sistem seperti aplikasi belanja pada umumnya. Belum lagi, kalo Doomu kena prank orderan fiktif, tentunya merepotkan bagi Doomu yekan.

Bukan itu saja, yang merepotkan saya sebagai pembeli adalah pilihan pembayarannya. Selain COD, pembayaran yang biasa saya jumpai adalah dengan e-wallet pada umumnya dipakai rang-orang (OVO, GOPAY, DANA, dll), tapi masih dikembangkan sama Doomu.

Karena, pernah direpotkan ketika saya mau belanja 1 barang aja di Kopkun ritel, salah satu unit usaha Kopkun Grup juga. Ketika mau beli barang tersebut, saya cek uang di dompet dan harga di label harga, saya pikir cukup. Jadilah saya bawa ke kasir, tampaknya saya salah lihat label harganya, begitu di kasir harganya ternyata bukan yang saya lihat tadi. Uang di dompet tidak mencukupi.

Mesin EDC yang ada hanya ada dari BNI, sedangkan saya tidak punya debit BNI.

Kata mbak Kasirnya, kalau pakai kartu lain kena cas 3%

“Bhaiq. Ada OVO, Gopay?”

“Adanya MyCoop, mas” kata mbak Kasir

“Okelah kalo begitu. Ada QRIS-nya?”

“Belum, mas”

“Okesyap. Ga jadi beli aja ya, mbak”

Sukurlah yang saya bawa ke kasir, cuma 1 barang kecil… kasihan kan kalo sudah bawa segambreng belanjaan ternyata ga jadi, dan mbak atau mas2nya harus balik-balikin lagi ke rak-nya 😦

Eksklusivitas pembayaran ini yang kemudian jadi bahasan kami di Bombat.media. Apakah Kopkun ritel yang kemudian berlanjut ke derivatif-nya, Doomu, segmen pasarnya memang khusus anggota Kopkun yang sudah ribuan itu? Karena toh mereka keukeuh pakai channel pembayaran yang ajaib bagi kami rakyat jelata ini.

Entahlah, kesimpulan diskusinya. Mo nanya langsung juga sungkan, karena yang di Kopkun orangnya serius-serius… hiii

  1. Waktu pesan

Saat ini fitur Doomu “Pasar” masih pakai sistem : “Belanja sekarang, dianter besok jam 7 – 11 siang”. Okay lah, ini berarti konsumen belanja setelah menentukan Visi dan Misi besok mau masak apa (Visi Misi…tuh kan, aku kena aura seriusnya Kopkun Grup). Tapi besoknya setelah coba pesan, belanjaan baru sampai pukul 12.27 WIB.

Ngg… Apakah ini barati Doomu juga khusus untuk segmen rang-orang yang punya jam masak di luar kelaziman kah? Atau kita perlu mendobel-visionerkan rencana masak buat 2-3 hari kedepan?

Entahlah, pokmen kalau saya lagi santai, masaknya buat kapan2 dan sudah dapat inspirasi jauh-jauh hari sebelumnya mau masak apa… atau mau nyetok belanjaan buat 1 minggu ke depan, Doomu bisa jadi pilihan.

  1. Branding Kemasan

Ya awwoohh… perlu waktu lama buat merangkai kata untuk poin ini. Bagaimana kalimatnya nyinyir tapi tetap menggemaskan :-))

aplikasi delivery doomu dari purwokerto

Lihat yang dilingkari dengan warna oren, kan? Begitulah barang diantar. Tiap produk dibungkus (re-bungkus kayaknya ini ya?) satu per satu dalam plastik bening, trus dikasihkan pating prethil gitu (ga tau lagi apa bahasa Indonesia-nya dah) . Masing-masing bungkusan plastik bening itu dikasih semua begitu saja, tanpa dikumpulkan dalam… 1 kantong plastik besar atau tas ramah lingkungan (kalo misal anti-kresek), misal.

nakopi purwokerto

Produk saya, Nakopi, lhoh.. sebelum diluncurkan, cetak plastik kresek dengan identitas Nakopi. Ga tau itu berfaedah ato ndak, tapi seenggaknya : hantaran ga semrawut dan orang yang menerima langsung tau oh itu produknya Nakopi.

Memangnya, njenengan berkenan beli produk Apple yang didus-nya bener-bener kosongan, apalagi di belakang produknya ga ada logo apel-apelnya acan ? Belum lagi manfaat promosi bla bla bla lainnya kalau kita pakai identitas di produk kita, ya tho

Ayok sih, kita sama-sama punya kesadaran sama identitas produk kita masing-masing. Kalo cetak tas kresek diluaran mahal, Bombat.media bisa kok mengusahakan cetak plastik dengan harga lebih masuk akal… #khukhukhu

===

Last but not least, ini bukan kesan pengalaman menggunakan Doomu. Tapi tentang sustainability keberadaan Doomu.

Bukan apa-apa, karena saya juga sedang tertatih-tatih mempertahankan brand Nakopi dan Bombat.media. Mangkanya, keberlanjutan Doomu ini yang juga jadi perhatian saya.

Pertama, jelas karena menggembirakan ada layanan Doomu dari dan untuk Purwokerto – Banyumas.

doomu di innocircle purwokerto

Kedua, yang ada di kotak ungu di atas (https://innocircle.id/public/) , ketika tulisan ini dibikin, website-nya (sudah) tidak aktif semua. Tinggal Doomu saja websitenya yang masih aktif. Selain yang masuk gambar di atas, Innocircle juga punya Tenant yang sempat… cukup ngetop, yaitu Beceer. Aplikasi titip belanja ke pasar tradisional juga seperti fitur “Pasar” Doomu ini.

eh, Beceer ini masih jalan ga sih?

Saya kurang paham, apakah memang di dunia start up itu kita bikin starap untuk kita tinggalkan?

Kalau memang seperti itu, saya lihat yo wajar sih. Karena yang ada di starap-starap ini kan memang kebanyakan masih yang-yang-an (baca : young-young-an). Jadi kalo starap-nya ndak menghasilkan, mau gimana buat meyakinkan calon mertua? … cukup dikasih Pitch Deck dowang? Ya ndak kan, mangkanya wajar kalo mereka kemudian pergi, memilih pekerjaan yang lebih bikin tentram bukan yang bikin tantrum camer.

===

Jadii… Semoga Doomu ini bernafas panjang yes. Kalau sudah makin oke, tidak eksklusif lagi (cara mbayarnya), aku bakal beneran pakai Doomu kok 🙂

Terus sukses dan sukses selalu Doomu !

aplikasi delivery doomu dari purwokerto