Sore hari.

Pada sore yang tidak bisa ditentukan musimnya sesuai buku teks anak SD, masih sering hujan tapi sudah masuk kemarau, sering kemarau padahal sudah pertengahan musim hujan. Mas Roy, putra Pak Kades yang kuliah di Sospol tapi lebih jago kompyuter, jalan bak badai masuk ke teras rumah Cengkir.  Kedatangan Putra Mahkota Kepala Desa Carangpedopo (karena memang jabatan Kades disini diwariskan), yang seperti memendam masalah pelik itu, membuat bapak-bapak pemuja Obrolan Sore menoleh kearah Mas Roy.

“Gawat! Gawat!” seru Mas Roy panik.

“Welah, datang-datang kayak orang dikejar maling. Trus langsung ngomong gawat, gawat. Duduk dulu to, le.  Sabar, sareh. Trus, crita ada apa?” tutur Lik Power, yang mantan Kades dan juga kakek Mas Roy, menyabarkan cucunya.

Mas Roy, menuruti tetua desa yang terpaksa masih disegani itu. Duduk diantara Cengkir dan Kang Guru di depan meja bundar kayu jati asli yang sudah menghitam dimakan usia. Cengkir, sang tuan rumah, menuangkan kopi buat Mas Roy. Baru Mas Roy bercerita.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Gawat!”