Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

Obrolan Sore

Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat

tolak_uu_ite

 

Sore hari.

Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 10 : Kang Sronto Gugat”

Obrolan Sore 07: Rame!

Sore hari.

Tidak seperti judulnya, tamu-tamu yang duduk melingkari meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia terdiam sepi. Lik Power, Kang Sronto, Juragan Brono dan Bang Sianturi duduk terdiam dengan wajah tegang. Sementara tuan rumah, Cengkir belum datang dari beres-beres rumah yang terkena lindu di wilayah grumbul kulon desa Carangpedopo. Gempa yang baru saha melanda memang tidak menimbulkan korban jiwa tapi menyebabkan kerusakan beberapa rumah di wilayah barat desa ini.

“We lah, kok cuman diam-diaman saja? Mentang-mentang ndak ada suguhannya ya?”  kata Cengkir ceria seperti biasa. Dia baru datang dan seluruh badannya masih berlumuran debu bangunan.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 07: Rame!”

Obrolan Sore : Waktu Luang

Sore hari.

Seperti biasa, telah berkumpul bapak-bapak di rumah pusaka turun-temurun keluarga Cengkir, untuk sekedar menikmati kopi gula aren dan obrolan sore. Suatu ritual yang juga sudah dilaksanakan turun temurun di kediaman Cengkir, demi menghabiskan waktu luang warga desa Carangpedopo.

Nah, masalah waktu luang ini juga yang sedang asik dibahas peserta Obrolan Sore kali ini.  Hadirin sepakat, kalau waktu luang bagaikan dua sisi mata pisau yang berbeda. Bisa bermanfaat, tapi bisa juga mencelakakan.

Wuah, kenapa para jelata ini bisa berkata-kata tingkat tinggi seperti itu? Ternyata, diantara pemuja waktu luang ini, hadir Mas Aris sang filsuf  Carangpedopo. Karna satu-satunya filsuf  di desa ini, beliau sering memanjangkan namanya sendiri, yang sebetulnya cekak-aos , cuma : Aris g. Aris memanjangkan namanya jadi Aristoteles. Tapi, lidah polos warga Carangpedopo melafalkannya : Aris-toteles (terjemahan buebas : Aris to yang kecemplung got sampai basah kuyup begitu).

Biasanya, filsuf desa ini tidak pernah kelihatan beredar di daerah Carangpedopo. Biasa mengikuti kemana kaki melangkah, mencari kebijaksanaan sejati . Mas Aris kembali beberapa waktu lalu, karna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara, untuk mencoreng muka mencontreng calon anggota dewan yang terhormat. Kenapa sampai sekarang Mas Aris masih berada di kampung halamannya, bukannya kembali merantau seperti biasa? Itu karena, Mas Aris merasa lemas, tulang-belulang kakinya seolah dilolosi hingga tak sanggup melangkah ke luar desa Carangpedopo, setelah melihat drama koalisi saat ini.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Waktu Luang”

Obrolan Sore : Suasana Lebaran

Sore hari.
Suasana desa Carangpedopo aman dan damai seperti sore-sore yang lain. Seolah tidak terasa kalau tadi siang telah diadakan perhelatan akbar 5 tahunan yang menghabiskan biaya trilyunan, Pesta Demokrasi. Walau, entah kenapa disebut pesta, karna biasanya pesta itu identik dengan acara makan-makan enak dan gratis, yang ada malah warga harus bergotong-royong mengeluarkan harta dan tenaga untuk acara ini. Entah siapa yang benar-benar berpesta menikmati manisnya tender proyek Pemilu atau merasakan empuknya kursi dewan, tapi toh, seluruh warga Carangpedopo antusias mengikuti momen Pemilihan Umum (Pemilu) yang cuma ada 5 tahun sekali ini.

Cengkir pulang duluan, meninggalkan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang masih sibuk menghitung suara dan dilanjutkan dengan beberes TPS yang dihias bak peringatan 17 Agustus. Memang, dengan sponsor Kepala Desa, KPU, dan Juragan Brono, semua TPS yang ada, dilombakan. Dekorasi TPS yang paling kreatif dan presentase konstituen paling tinggi, bakal dapat hadiah 3 ekor kambing. Lumayan, buat pesta beneran.

Kepulangan Cengkir disaat anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang lain masih sibuk, dimaklumi dan diikhlaskan. Karena Cengkir memiliki tugas mulia setiap sorenya, yaitu menyiapkan sekedar kopi dan hidangan ala kadarnya (kalau ada) untuk Obrolan Sore bagi warga yang ingin sekedar mengobrol tentang apa saja. Rutinitas yang biasanya dimanfaatkan warga untuk menumpahkan uneg-uneg, ide yang tak jarang ngawur tapi orisinil. Sekedar hiburan di sore hari setelah seharian berkutat dengan masalah pemenuhan kebutuhan hidup.

Kali ini yang datang ke rumah Cengkir cuma Kang Sronto.
“Yang lain pada kemana, Kang?” tanya Cengkir polos.
Kowe iki piye to. Yang lain ya masih pada sibuk di TPS to, Kir.” jawab Kang Sronto sambil menuang sedikit kopi panasnya ke lepek (piring kecil yang biasa dijadikan alas gelas).
“Eh iya ding…lha, Kang Sronto sendiri kok udah kesini?”
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Suasana Lebaran”

Obrolan Sore : Batu Bertuah Jilid 3

Sore hari.
Hujan tampaknya sedang kejar setoran di penghujung Februari ini, sebelum libur panjang di musim kemarau yang akan segera datang. Ini dibuktikan dengan hujan yang jor-joran di desa Carangpedopo, tak mau istirahat barang sejenak sejak tiga hari ini. Apalagi kali ini kilat tidak mau kalah aksi dengan tumpahan air dari langit, menyambar-nyambar menebarkan ancaman dan peringatan bagi segenap manusia. Sesombong-sombongnya manusia bakal ludes kalau nekat senggolan sama petir. Belum lagi gemuruh suara guntur yang mengesankan langit sedang menuju keruntuhannya, semakin membuat mengkeret hati yang jika tidak ada peringatan dari alam seperti ini, selalu diisi dengan angkara murka.

Di bawah ancaman kilat yang menyambar-nyambar dan guruh yang bertalu-talu inilah Cengkir berlari-lari kecil berpayungkan daun talas lebar, menuju rumahnya. Seharian dia dapat orderan panen gurame di kolam milik Pak Ali yang berada di grumbul lor desa Carangpedopo. Setelah mampir sebentar di mesjid desa buat solat Ashar, Cengkir kembali ke rumah dengan menenteng plastik berisi 3 ekor gurame pemberian Pak Ali di tangan kiri, dan tangan kanannya memegang payung alami dari daun talas besar dan lebar. Tinggal beberapa langkah dari rumah Cengkir, tiba-tiba terdengar suara kesiut, dan…

– BLETAK! –

Bersamaan dengan petir disusul suara guruh yang begitu keras, entah dari mana datangnya, sebongkah batu jatuh menembus daun talas dan menghantam punggung Cengkir. Aduhan dan umpatan Cengkir langsung terdengar.

Hal yang pertama dilakukan Cengkir adalah tolah-toleh mencari tersangka yang nekat melempar punggungnya dengan batu. Jangan salah, meski pada dasarnya dia adalah orang baik hati, tapi kalau ada yang nekat menganiaya seperti ini…ke liang kubur pun bakal Cengkir kejar! Setelah tidak ada tanda-tanda manusia yang iseng mengganggunya, Cengkir memungut apa sebetulnya yang mengenai punggungnya. Ternyata sebongkah batu sekepalan tangan. Hitamnya, lebih pekat daripada semua batu yang pernah dilihat Cengkir selama ini, begitu hitam dan mengkilat tersiram air hujan. Sekilas batu itu menyerupai kepala ikan gurame yang dia bawa. Lekukan dibagian bawah benar-benar mirip mulut ikan gurame yang ndomble, setebal bibir Cengkir. Langsung yang ada dipikiran Cengkir adalah, batu ini bisa dimanfaatkan buat batu ulekan miliknya yang hilang. Cengkir membawa batu itu pulang.

Tepat ketika Cengkir selesai meracik bumbu gurame bakar dan mempersiapkan peralatan dan tempat untuk membakarnya, berduyun-duyun datang bapak-bapak untuk melaksanakan kegiatan rutinnya, yaitu ngobrol sore hari di rumah Cengkir. Tidak seperti hari kemarin yang juga kondisi hujan yang datang cuma Lik Power, kini yang rela menembus badai petir di sore hari ini ada lima orang. Yaitu Juragan Brono, Kang Sronto, Pak Kaji Soleh, Lik Power, dan Mas Roy. Bapak-bapak ini rela basah-basahan demi ikut menikmati gurame bakar yang mereka yakin bakal disajikan oleh tuan rumah. Bagaimana bisa bapak-bapak ini datang tepat waktu ketika semuanya sudah siap dan tinggal bakar ikannya, jadi misteri bagi manusia sederhana seperti Cengkir. Tak terbersit sedikit pun di benak Cengkir buat sekedar menyimpan 1 ekor buat lauknya esok hari. Biarlah semua dihidangkan sore ini, asal semua tamunya kebagian mencicipi ikan yang termasuk lauk mewah di desa ini.

Berenam kini duduk mengelilingi pawon (kompor dari tanah liat yang ada di lantai berbahan bakar kayu) yang digunakan buat membakar ikan di tengah ruangan belakang rumah Cengkir. Bapak-bapak ini lalu menikmati nasi liwet panas mengepul dan ikan gurame bakal sambal trasi yang jadi hidangan di sore yang basah.
Kang Sronto-lah yang pertama kali melihat batu aneh yang dijadikan batu ulekan oleh Cengkir.
“Ini batu apa, Kir? Kok sajake nyolowadi? (kok,keliatannya nganeh-anehi?)” tanya Kang Sronto sambil memutar-mutar batu hitam mengkilat ditangannya.
“Ndak tau, kang. Tadi pas pulang kesini ujan-ujan tiba-tiba, kok punggungku dilempar batu yang ndak tau darimana asalnya itu.” jawab Cengkir. Mulutnya yang tebal dan berminyak asik komat-kamit memamah nasi dan gurame bakarnya.
Kang Sronto mendadak sadar, mulut nggedabel Cengkir mirip dengan pahatan alami batu yang membuatnya penasaran. Sebagai FPK, Front Pemuja Klenik, Kang Sronto langsung berkata dengan semangat. “Wah, Kir. Jangan-jangan ini batu bisa buat nyembuhkan sgala penyakit! Ini bakal bisa jadi batu bertuah jilid 3, Kir!”
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Batu Bertuah Jilid 3”

Obrolan Sore : Banjir

(buat : “Aku Untuk Negeriku”)

Sore hari.
Hujan disertai angin kencang melanda desa Carangpedopo sejak tadi siang hingga sore ini belum menunjukkan tanda-tanda bakal rehat. Seluruh warga yang biasanya setiap sore seperti bioskop yang lagi bubar, keluar dari rumah masing-masing untuk berinteraksi sosial dengan tetangga kanan-kiri setelah seharian bertebaran di muka bumi, sore ini lebih memilih kehangatan dalam rumah di tengah badai seperti ini. Tidak ada jeritan riang anak-anak yang sedang main gasing, gundu, gobak-sodor, atau main bola di lapangan desa yang multi fungsi dengan tempat gembalaan kerbau,sapi dan kambing. Tidak ada ibu-ibu yang sibuk bergosip tentang berbagai kebutuhan rumah tangga yang semakin tak terbeli. Tidak ada kumpulan bapak-bapak yang mengeluhkan semakin minimnya pendapatan mereka. Tidak ada yang melakukan itu semua, karena semakin lama hujan angin ini semakin mencekam. Semuanya lebih memilih bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan alam pada manusia yang sering sok menguasai alam dan berbuat sewenang-wenang. Kecuali sesosok lelaki yang tidak memperdulikan ancaman alam ini dan tetap melenggang di bawah payung menuju rumah di ujung kampung.

Lik Power tidak menyurutkan langkahnya mendatangi rumah Cengkir walau angin membawa tempias hujan membasahi sebagian bajunya,membuat fungsi payungnya sedikit sia-sia. Lik dalam bahasa Jawa berarti Paman, Power berarti kekuatan atau kekuasaan. Mantan kepala desa mendapatkan panggilan seperti ini, bukan tanpa alasan. Jabatan Kades memang sudah dilepasnya, tapi aura kekuasaan masih enggan dilepasnya. Jadinya, dia masih suka memerintah-merintah, masih suka memberikan wejangan-wejangan (walau seringnya tidak diperlukan), masih suka memaksakan kalau sarannya-lah yang harus dituruti dalam setiap rapat desa, dan suaranya pun masih menggelegar menegaskan kalau dia masih punya power dan kekuasaan. Makanya, warga menamai beliau dengan sebutan Lik Power. Tidak merasa tersindir dengan sebutan itu, seperti layaknya pejabat kawakan, beliau malah merasa bangga dengan sebutan yang dianugerahkan (mantan) warganya. “Ini bukti warga masih mencintai saya!” begitu selalu kata Lik Power sumringah.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Banjir”

Atas ↑