Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

Minang

Obrolan Sore 08 : Batik

Sore hari.
Berduyun-duyun Lik Power, Juragan Brono, Mas Roy menuju ke rumah Cengkir untuk memulai ritual Obrolan Sore . Jalan ketiga priyayi tampak gagah sumringah, mantap masuk teras rumah joglo yang sudah berumur beberapa generasi milik keluarga Cengkir.

“Assalamua’alaikum…” salam Mas Roy putra mahkota kepala desa Carangpedopo yang kuliah di Ilmu Sosial tapi jago komputer, yang berati juga cucu mahkota Lik Power. Tanpa menunggu balasan, bapak-bapak ini langsung duduk di kursi anyaman plastik di depan meja jati yang telah menghitam karena menjadi saksi betapa tidak pentingnya obrolan sore yang terjadi didepannya selama beberapa generasi…nggedabush semua.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 08 : Batik”

Ranah Minang

Ayam den Lapeh

Luruihlah jalan Payakumbuah
Babelok jalan kayujati
Dimahati indak karusuah
Ayam den lapeh

Ai ai ayam den lapeh
Mandaki jalan Pandai Sikek
Manurun jalan ka Biaro
Dima hati indak ka maupek
Ayam den lapeh
Ai ai ayam den lapeh

Sikua capang sikua capeh
Saikua tabang saikua lapeh
Lapehlah juo nan ka rimbo
Oi lah malang juo

Pagaruyuang Batusangka
Tampek bajalan urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Ayam den lapeh
Ai ai ayam den lapeh

Sebetulnya sih, pengennya nulis janji saya soal format UFD di linux, atau Kopdang dengan Blogger Endar session dua : Koneksi HP Smart-Ubuntu dgn Mantra…tapi, begitu denger lagu Ayam den Lapeh yg diaransemen ulang Ten2Five kok malah nulis ini (doh).

Setiap mendengar lagu ini,
entah kenapa seperti love song,
saya selalu takana (terkenang) ranah minang (saya curiga : apa karna liriknya semuanya pake bahasa Minang,ya?). Itu berarti saat pertama kali perjalanan saya lintas pulau sendirian. Yaitu saat kelas 5 SD.

Perjalanan seluruhnya saya lalui dengan menumpang bus (tanpa saya harus duduk disamping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendarai…dst).
Saat kelas 5 SD, perjalanan itu begitu mendebarkan : Pus-pas saat di terminal Pulo Gadung (buat pindah beli tiket bus trans-Sumantera) yg full orang berwajah sangar dan bertatto.
Geram ketika waktu makan, tapi karna anak ketjil, jadi tidak dilayani. Begitu dilayani, tidak mau memberikan nasi tambahan.
Menerapkan trik jauh sebelum iklan “kiriman uang mahasiswa” ada. Yaitu : mengambil kuahnya saja, dan lauknya mengambil yang sekiranya tidak dihitung karena berkurang sedikit…misal : udang ngambil 2 ekor…dst.
Plus, 3 hari 3 malam perjalanan di bus yang membuat kaki bengkak.
Lanjutkan membaca “Ranah Minang”

Atas ↑