Sore hari.

Cuaca desa Carangpedopo sedang tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas, kadang panas-panas turun hujan.

Kadang terasa panasnya perseteruan para calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kadang hujan duit dari mereka, kadang panas-panasan sambil bagi-bagi duit.

Perwakilan desa sudah terpilih. Hujan duit sudah usai. Hujan hujatan masih masih berhembus. Di tengah suasana inilah, beberapa tokoh pemuja Obrolan Sore kembali mendatangi rumah Cengkir.

Lik Power, Juragan Brono, dan Kang Guru memasuki teras rumah joglo tempat berlangsungnya Obrolan Sore selama beberapa generasi. Mereka duduk melingkar di depan meja jati bundar yang telah usang. Lik Power secara otomatis meracik rokok lintingan yang selalu tersedia di kaleng biskuit bekas di atas meja.

Tidak beberapa lama, seolah mempunyai indra keenam, Cengkir keluar membawa suguhan berupa kopi dan talas rebus. Setelah kopi terbagi, talas tercicipi, Cengkir ikut bergabung, Obrolan Sorepun dimulai.

Lanjutkan membaca “Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik”