Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

fiksi

Muslimah di kisah Magnus Chase and the Gods of Asgard

muslimah di kisah magnus chase and the gods of asgard
sejak buku ketiga, belinya di Google Playbook

Mumpung lagi pada sensi kalo ngomongi ini, ikutan ah, siapa tau naikin trafik…  #eh #plak

Sebelum aku jelaskan dengan berbusa-busa, aku tuliskan dulu kalau buku yang mau aku posting ini mengandung konten sensitif agama. Jadi, buat yang sensitif soal ini, please, cukup tinggalkan saja bukunya, tidak usah dibaca, tidak perlu juga demo dan bakar-bakar bukunya ya… #please

Karena begini… *jreng jreeng*

Magnus Chase and the Gods of Asgard adalah cerita fantasi berdasar mitologi Nordik

Lanjutkan membaca “Muslimah di kisah Magnus Chase and the Gods of Asgard”

Rick Riordan, Percy Jackson dan Dewa-dewa

rick riordan percy jackson dan dewa-dewi[sumber gambar]

Menyebalkan.

Ketika menuliskan kata kunci Rick Riordan, Percy Jackson, Kane Chronicles (Keluarga Kane) di Google Indonesia, hasil yang muncul adalah tulisan-tulisan berbahasa Inggris.

Bagaimana bisa serial keren seperti ini sedikit sekali penulis di tanah air yang mengulasnya? -_-

Semoga ketenaran Pojok Pradna ini bisa mendesak semua tulisan di halaman pertama hasil pencarian..

Mbwahaha…

#plak

Siapkan banyak kopi dan cemilan, karena ini akan jadi postingan yang panjang :

Lanjutkan membaca “Rick Riordan, Percy Jackson dan Dewa-dewa”

Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik

Sore hari.

Cuaca desa Carangpedopo sedang tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas, kadang panas-panas turun hujan.

Kadang terasa panasnya perseteruan para calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kadang hujan duit dari mereka, kadang panas-panasan sambil bagi-bagi duit.

Perwakilan desa sudah terpilih. Hujan duit sudah usai. Hujan hujatan masih masih berhembus. Di tengah suasana inilah, beberapa tokoh pemuja Obrolan Sore kembali mendatangi rumah Cengkir.

Lik Power, Juragan Brono, dan Kang Guru memasuki teras rumah joglo tempat berlangsungnya Obrolan Sore selama beberapa generasi. Mereka duduk melingkar di depan meja jati bundar yang telah usang. Lik Power secara otomatis meracik rokok lintingan yang selalu tersedia di kaleng biskuit bekas di atas meja.

Tidak beberapa lama, seolah mempunyai indra keenam, Cengkir keluar membawa suguhan berupa kopi dan talas rebus. Setelah kopi terbagi, talas tercicipi, Cengkir ikut bergabung, Obrolan Sorepun dimulai.

Lanjutkan membaca “Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik”

Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?

Sore hari.

Gawat.

Rumah Cengkir didatangi dan dikepung anak buah Ki Jagabaya, dari kesatuan Jagabayan. Kesatuan yang bertugas melindungi desa Carangpedopo dari tindak jahat para bromocorah.

Anggota Jagabayan ini mencari Kang Sronto. Menurut Jagabayan, tindak-tanduk Kang Sronto ini sudah merongrong kewibawaan Jagabayan.

Tidak bisa dibiarkan.

Dua kompi Jagabayan dikerahkan untuk menjemput Kang Sronto di rumah Cengkir yang juga sebagai markas KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman).

Maka, suasana sore lengas di penghujung musim kemarau terasa mencekam di rumah Cengkir. Gemetar, Cengkir hanya bisa menyilakan para anggota Jagabayan yang berbadan tegap dan bersenjatakan pentungan mengkilap. Kang Sronto belum datang, kata Cengkir pucat-pasi.

Para Jagabayan, menunggu untuk menyergap Kang Sronto si pembelot. Kang Sronto memang sebelumnya pernah dinas di kesatuan Jagabayan. Tapi sejak bertugas di KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman), Kang Sronto malah ngobrak-abrik kedaulatan Jagabayan. Kang Sronto berani menyeret DS (Dikun Susilo), sesepuh Jagabayan, dalam kasus pengadaan simulator dokar (delman).

Rumah Cengkir diduduki pasukan Jagabayan. Cengkir tersandera.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?”

Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 2)

Lanjutan dari bagian Pertama yang bisa dibaca di sini.

Empat tahun yang mengesankan di kota yang terkenal dengan objek wisata dataran tingginya ini. Tukang Cerita harus berpisah dengan kedua orang tua. Tukang Cerita-pun tinggal berdua dengan nenek di kota pesisir utara Pulau Jawa.

Rumah nenek berada di tengah kota. Berada di tepi jalan raya, tidak banyak halaman untuk bermain bebas di sini.

Beruntung, ada teman satu kelas Tukang Cerita yang memiliki halaman luas. Rosantika namanya, bulat-gemuk anaknya. Tapi pintar dalam pelajaran dan jago bermacam olah-raga. Sebuah alasan bagus buat Tukang Cerita untuk sesering mungkin mengayuh sepeda mininya ke rumah Rosantika dengan alasan, belajar bersama!

Lanjutkan membaca “Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 2)”

Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 1)

Saya membaca surat Takita dari ID tweet @bukik sang pegiat IDCerita.

Membaca dan membayangkan surat polos dari Takita (ikon IDCerita) seorang anak yang memimpikan Ayah-Bundanya bercerita setiap malam menjelang tidurnya, itu sangat menyentuh.

Untuk itu, kakak mau ikut bercerita, ya. Cerita tentang Dunia Tukang Cerita!

Semoga Takita suka…dan jangan bobo dulu sebelum selesai ceritanya ya ^_^ :

Lahir di pesisir pantai selatan Pulau Jawa, seorang Ayah nyentrik memberikan nama Tukang Cerita pada bayi laki-laki yang baru lahir ini.

Meski cuma tiga tahun sejak lahir tinggal di kota yang terkenal dengan pasir besinya, Tukang Cerita masih bisa mengingat beberapa pengalaman seru di sana.

Lanjutkan membaca “Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 1)”

Obrolan sore 18 : Antri

Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Mas Roy, telah duduk mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia.

Para pemuja Obrolan Sore kali ini menunjukkan ekspresi berdeba-beda.

Mas Roy terlihat segar. Rambut yang terlihat mengilap dan selalu basah. Wajah berseri. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan putri kaur Kesra Desa Carangpedopo. Senandung lagu romantis terlantun dari bibir Mas Roy.

Berbeda dengan Mas Roy sang Putra Mahkota Desa Carangpedopo,

Juragan Brono duduk sambil sesekali mengaduh kesakitan. Separuh wajahnya terlihat membengkak merah-kebiruan. Bibir Juragan Brono yang memang sudah tebal, semakin terlihat tak tertahankan, menggelembung mengerikan. Mata kirinya semakin tidak terlihat karena pipinya seolah baru saja disuntik silikon.
Lanjutkan membaca “Obrolan sore 18 : Antri”

Obrolan Sore 17 : Cengkir Hilang!

Sore Hari.

“Ceng! Cengkir!” panggil Kang Sronto.

“Kamu di mana, to Ceng?” seru Lik Power sambil menggeledah rumah.

“Gak akan kami apa-apain kok, Ceng.” bujuk Mas Roy sambil melongok, malu-malu, ke dalam kamar mandi.

“Nggak usah sembunyi di tempat gelap kayak gitu, to Ceng. Bisa bikin hatimu jadi gelap, lho Ceng!” kata Juragan Brono prihatin. Tangan gemuknya menggasak di kegelapan lemari makan sambil prihatin kenapa isinya sedikit sekali.

Berapa saat kemudian, Kang Sronto, Lik Power, Mas Roy dan Juragan Brono kembali berkumpul di teras. Duduk melingkar di depan meja bundar dari jati yang telah jadi saksi ratusan Obrolan Sore.

Tidak ada sekedar hidangan kopi pahit dan ketela goreng sore ini.Begitu juga tidak ada Cengkir sore ini sebagai tuan rumah.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 17 : Cengkir Hilang!”

Merapi’s Call part 5

Hantaran

Setelah menempatkan induk sapi dan anaknya yang baru lahir di shelter, rombongan Pro Fauna ikut bersama pasukan Kopassus mengantar Mbah Pono kembali ke posko pengungsiannya. Kedua kambing Mbah Pono juga ikut. Alasan Mbah Pono tidak ingin  meninggalkan peliharannya di shelter adalah,

“Saya masih bisa nyarikan makan buat mereka, kok.”

Lagi-lagi Mbah Pono tidak ingin merepotkan orang lain.

“Lagian, rumput di lapangan bola stadionnya kan ijo-ijo, seger-seger.” sambung Mbah Pono.

Waduh.
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 5”

Atas ↑