Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

DPR

Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!

Sore hari.

Lik Power, Mas Roy, Kang Sronto, burung-burung, Tukang Cerita, angin, semua terdiam-ternganga melihat apa yang dilakukan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Di depan mereka semua, Cengkir sedang melakukan ritual misterius. Cengkir berpindah dari tiang ke tiang yang lain di rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap tiang yang Cengkir pegang dengan satu tangan, tubuhnya bergelinjangan.

“Chaiya, chaiiiyaaa…” mulutnya yang tebal meneriakkan mantra-mantra aneh. Mukanya jadi sendu, tangan satunya yang tidak memegang tiang dilambai-lambaikannya.

“Kamu lagi apa, to Ceng?” tanya Kang Sronto, tidak tega melihat sohibnya tersesat melakukan ritual tidak jelas seperti itu.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!”

Obrolan Sore 15 : Teror!

Sore hari.

Wajah-wajah lelah duduk di kursi kayu beranyaman plastik, mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia. Membenamkan diri di kursi masing-masing, mereka menghisap rokoknya dalam-dalam.

Angin sore hari menentramkan yang biasa ikut serta menikmati setiap Obrolan Sore, kini seakan ikut tercekat. Membuat udara terasa meretas-lengas.

Baru saja para pemuja Obrolan Sore kali ini membereskan puing-puing rumah Uwa Dasem yang luluh-lantak akibat “Teror Hijau”. Uwa Dasem sendiri kini tergolek lemah di Puskesmas (mana mampu Uwa Disem bayar Rumah Sakit kota).

“Gimana ini, Pak Lik?” tanya Kang Sronto tidak tahan dengan kebisuan.

“Aku yo jadi pusing, je. Mau digimanakan ini sudah jadi bancakan desa. Banyak orang yang sudah ambil jatah berkat proyek ini. Jadi, yo susah.” jawab Lik Power sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut pusing.

Semua mata melirik Juragan Brono.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 15 : Teror!”

Obrolan Sore 08 : Batik

Sore hari.
Berduyun-duyun Lik Power, Juragan Brono, Mas Roy menuju ke rumah Cengkir untuk memulai ritual Obrolan Sore . Jalan ketiga priyayi tampak gagah sumringah, mantap masuk teras rumah joglo yang sudah berumur beberapa generasi milik keluarga Cengkir.

“Assalamua’alaikum…” salam Mas Roy putra mahkota kepala desa Carangpedopo yang kuliah di Ilmu Sosial tapi jago komputer, yang berati juga cucu mahkota Lik Power. Tanpa menunggu balasan, bapak-bapak ini langsung duduk di kursi anyaman plastik di depan meja jati yang telah menghitam karena menjadi saksi betapa tidak pentingnya obrolan sore yang terjadi didepannya selama beberapa generasi…nggedabush semua.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 08 : Batik”

Atas ↑