Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

desa

Obrolan Sore 21 : Beras Plastik

Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Kang Guru duduk mengelilingi meja jati bundar termakan usia di teras rumah Cengkir yang berbentuk joglo.

Seperti otomatis, sebagai tuan rumah dan pewaris tempat Obrolan Sore generasi akhir, Cengkir keluar rumah untuk menghidangkan suguhan kopi panas nan kental. Obrolan Sore siap dimulai.

“Anakku Ranto yang lagi merantau di ibu kota, minta aku ngirim beras ke dia. Katanya di sana orang-orang lagi doyan makan beras plastik. Jadi dia susah cari beras beneran di ibu kota. Lha kan yo makin aneh aja kepengenan orang-orang ibu kota itu.” keluh Lik Power sambil mengambil tembakau dari dalam kaleng usang yang selalu tersedia di meja, dan meraciknya menjadi rokok tingwe (linting dewe / sendiri).

“Sebentar Pak Lik, putra njenengan itu kan Pak Kades, to?” potong Cengkir.

Welah, anakku kan ya ndak cuma satu, to Ceng.” sergah Lik Power.

“Oo..”

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 21 : Beras Plastik”

Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik

Sore hari.

Cuaca desa Carangpedopo sedang tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas, kadang panas-panas turun hujan.

Kadang terasa panasnya perseteruan para calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kadang hujan duit dari mereka, kadang panas-panasan sambil bagi-bagi duit.

Perwakilan desa sudah terpilih. Hujan duit sudah usai. Hujan hujatan masih masih berhembus. Di tengah suasana inilah, beberapa tokoh pemuja Obrolan Sore kembali mendatangi rumah Cengkir.

Lik Power, Juragan Brono, dan Kang Guru memasuki teras rumah joglo tempat berlangsungnya Obrolan Sore selama beberapa generasi. Mereka duduk melingkar di depan meja jati bundar yang telah usang. Lik Power secara otomatis meracik rokok lintingan yang selalu tersedia di kaleng biskuit bekas di atas meja.

Tidak beberapa lama, seolah mempunyai indra keenam, Cengkir keluar membawa suguhan berupa kopi dan talas rebus. Setelah kopi terbagi, talas tercicipi, Cengkir ikut bergabung, Obrolan Sorepun dimulai.

Lanjutkan membaca “Obrolan sore 20 : Hujan Hujatan Hajatan Politik”

Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 2)

 gerakan desa membangun banyumas

Melanjutkan tulisan bagian pertama.

2. Kualitas Konten

Untuk bisa lepas dari jeratan UU ITE Pasal 27 ayat 3, maka produk tulisan adalah tulisan yang mematuhi kaidah jurnalistik sehingga mendapat payung hukum UU no 40 tahun 1999.

Itu idealnya.
Dari setiap bengkel kerja kelas menulis berita desa itu juga yang diajarkan.

Hanya saja…
ah, menurut sudut pandang saya, kalau itu semua dipaksakan akan tidak lucu lagi dan menjadi kekhawatiran yang terlalu berlebihan 🙂

Tujuan lain dari “desa bersuara” ini adalah memperbanyak konten positif tentang desa.

Mencari-cari kekurangan desa dan mengabarkannya itu sudah ada yang menggawanginya sendiri. Yaitu media-media arus utama yang masih menganut “(your’s) bad news is (my) good news”.

Jika mengharapkan kritis dan reaksionernya konten desa membongkar aib desa,
Jika mengharapkan dewa 5 W + 1 H selalu hadir di setiap tulisan berita website desa,
Terus apa bedanya dengan media modal besar?

Lanjutkan membaca “Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 2)”

Cara Memperbaiki Feed XML Parsing Error WordPress

Entah kenapa, feed situs agregat website desa-desa Banyumas eror. Sehingga twitt otomatis dari setiap postingan dari situs yang mengumpulkan tulisan dari setiap desa di Banyumas itupun tak lagi berkicau.

Pesan yang muncul seperti ini :

XML Parsing Error: XML or text declaration not at start of entity
Location: http://www.domain.com/feed/
Line Number 3, Column 1:

Alhamdulillah langsung menemukan solusinya di sini.

Sederhana saja,

Lanjutkan membaca “Cara Memperbaiki Feed XML Parsing Error WordPress”

Domain desa.id

domian desa.id
salah satu alamat web desa yang dibordir di jaket Kepala Desa Pancasan, http://pancasan.or.id

Disadari atau belum akhir-akhir ini, apapun wadahnya, desa-desa di wilayah Nusantara mulai menggeliat untuk menjadi daerah yang mandiri. Daerah yang tidak terlalu bergantung kepada pemerintah pusat.

Ini dapat dipahami, mengingat selama ini desa hanya dijadikan sebagai objek proyek Pemerintah, tanpa melihat apakah program (proyek) tersebut tepat guna diterapkan di suatu desa atau tidak.

Lebih jauh lagi, seringkali desa hanya dimanfaatkan sebagai tempat untuk mendulang tambang dan suara, tanpa diberikan haknya.

Menghadapi kondisi seperti tersebut, desa mulai berjejaring dalam berbagai macam kelompok untuk bersama-sama menjadi lebih mandiri dan memiliki daya tawar.

Termasuk diantaranya adalah Gerakan Desa Membangun (GDM). Sebuah gerakan yang berawal dari keinginan desa itu sendiri untuk memanfaatkan teknologi dengan tujuan untuk menjadikan desa mandiri secara ekonomi dan memiliki daya tawar bagi pemerintahannya. Karena subjeknya adalah desa, tidak lagi sekedar sebagai objek, maka gerakan ini menggunakan nama Desa (sendirilah yang) Membangun.
Lanjutkan membaca “Domain desa.id”

Bisnis Banyumas Go Online Sebuah Kerja Dablongan

bisnisUKGO1

Setelah Juguran Blogger Banyumas, ini adalah kerja masif Blogger Banyumas di tahun 2012. Bertempat di Aula Telkom Purwokerto, setiap hari 1 angkatan dengan materi yang sama tiap harinya, mulai dari hari Senin (10/12) sampai Jumat 14 Desember 2012,sebanyak 125 orang dihadirkan selama 5 hari untuk mengikuti Workshop Bisnis Banyumas Go Online.

Kendablongan ini dimulai ketika menentukan waktu pelaksanaan acara bertagar #bisnisBMSGO ini. Disepakati acara akan berlangsung 5 hari. Daripada menunggu terlalu lama, dengan kejam disepakati workshop diadakan langsung setelah selesai acara Ulang Tahun Gerakan Desa Membangun (Ultah GDM) yang Pertama.

Karena Blogger Banyumas juga jadi panitia Ultah GDM yang diadakan di desa Melung, maka harus merangkap kerja dengan mempersiapkan workshop #bisnisBMSGO.

Jadilah kerja marathon selama 9 hari berturut-turut. Empat hari Ultah GDM disambung 5 hari Workshop Bisnis Banyumas Go Online #mdrcct 😀
Lanjutkan membaca “Bisnis Banyumas Go Online Sebuah Kerja Dablongan”

ICT Pura Banyumas : Pertanyaan dan Harapan

Sesekali nyinyir ah… :mrgreen:

Berawal dari unggahan gambar ini di grup WhatsApp Desa Membangun. Ini adalah gambar potongan berita di halaman muka Harian Banyumas, Selasa (23/10). Diberitakan di sini, dari 165 kabupaten/kota dari seluruh provinsi di Indonesia, Banyumas termasuk  9 kabupaten yang mendapat penghargaan ICT Pura 2012 dari Kemkominfo. Kabupaten Banyumas mendapat peringkat I-Madya dengan nilai 3.25. (Lebih jauh tentang ICT Pura, bisa dibaca di Profil dan Panduan Pelaksanaan Program ICT Pura).

Singkat kata, Banyumas siap untuk menuju era digital 2015.

Sungguh, saya senang membacanya. (Terlepas dari ketidakpahaman saya mengenai kesiapan yang seperti apa).

Berikutnya adalah muncul pertanyaan di benak saya terkait dengan porsi penilaian ICT Pura ini :

  • ICT  Use (Intensity) – peran Pembkab dalam mengelola TIK dengan berbagia kebijakan, peraturan, dan keputusan. Bobot 40%
  • ICT Readiness (Infrastucture) – ketersediaan infrastruktur TIK. Bobot (20%)
  • ICT Capability (Skils) – sumber daya dan kemampuan mengeksplorasi dan mengeksploitasi aset TIK yang dimiliki. Bobot 25%
  • ICT Impact (Outcomes) – manfaat langsung dari keberadaan TIK. Bobot 15%

Sebelumnya, saya ceritakan terlebih dahulu kondisi Banyumas dewasa ini.

Lanjutkan membaca “ICT Pura Banyumas : Pertanyaan dan Harapan”

Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?

Sore hari.

Gawat.

Rumah Cengkir didatangi dan dikepung anak buah Ki Jagabaya, dari kesatuan Jagabayan. Kesatuan yang bertugas melindungi desa Carangpedopo dari tindak jahat para bromocorah.

Anggota Jagabayan ini mencari Kang Sronto. Menurut Jagabayan, tindak-tanduk Kang Sronto ini sudah merongrong kewibawaan Jagabayan.

Tidak bisa dibiarkan.

Dua kompi Jagabayan dikerahkan untuk menjemput Kang Sronto di rumah Cengkir yang juga sebagai markas KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman).

Maka, suasana sore lengas di penghujung musim kemarau terasa mencekam di rumah Cengkir. Gemetar, Cengkir hanya bisa menyilakan para anggota Jagabayan yang berbadan tegap dan bersenjatakan pentungan mengkilap. Kang Sronto belum datang, kata Cengkir pucat-pasi.

Para Jagabayan, menunggu untuk menyergap Kang Sronto si pembelot. Kang Sronto memang sebelumnya pernah dinas di kesatuan Jagabayan. Tapi sejak bertugas di KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman), Kang Sronto malah ngobrak-abrik kedaulatan Jagabayan. Kang Sronto berani menyeret DS (Dikun Susilo), sesepuh Jagabayan, dalam kasus pengadaan simulator dokar (delman).

Rumah Cengkir diduduki pasukan Jagabayan. Cengkir tersandera.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?”

Magnet itu Bernama GDM

lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas

Menyusul Lokakarya Desa Membangun IV di desa Dawuhan Wetan, kecamatan Kedungbanteng yang diselenggarakan Mei silam, dua bulan kemudian Lokakarya ke V diadakan di desa Dawuhan, kecamatan Banyumas.

Selama setengah tahun sudah lima kali diadakan lokakarya, terkesan sangat agresif (bahasa gaulnya : selo tenan :D) . Tapi begitulah kenyataannya. Sejak ditularkan di desa Melung (Banyumas, Jawa Tengah) sebagai desa kedua setelah sukses di desa Mandalamekar (Tasikmalaya, Jawa Barat), desa-desa lain di wilayah Banyumas ternyata menyambut dengan antusias.

Maka tidak mengherankan jika Gerakan Desa Membangun (GDM) berkembang secara agresif di kabupaten Banyumas. Dalam kurun waktu 6 bulan sudah lebih dari 30 desa di wilayah Banyumas yang tertarik bergabung di GDM.

Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gerakan sosial yang berintikan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efesiensi pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan ekonomi kreatif desa.

Bermuara dari tujuan tersebut, meski ini adalah gerakan sosial, GDM telah menjadi magnet banyak elemen masyarakat.

Lanjutkan membaca “Magnet itu Bernama GDM”

Atas ↑