Sore hari.

Wajah-wajah lelah duduk di kursi kayu beranyaman plastik, mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia. Membenamkan diri di kursi masing-masing, mereka menghisap rokoknya dalam-dalam.

Angin sore hari menentramkan yang biasa ikut serta menikmati setiap Obrolan Sore, kini seakan ikut tercekat. Membuat udara terasa meretas-lengas.

Baru saja para pemuja Obrolan Sore kali ini membereskan puing-puing rumah Uwa Dasem yang luluh-lantak akibat “Teror Hijau”. Uwa Dasem sendiri kini tergolek lemah di Puskesmas (mana mampu Uwa Disem bayar Rumah Sakit kota).

“Gimana ini, Pak Lik?” tanya Kang Sronto tidak tahan dengan kebisuan.

“Aku yo jadi pusing, je. Mau digimanakan ini sudah jadi bancakan desa. Banyak orang yang sudah ambil jatah berkat proyek ini. Jadi, yo susah.” jawab Lik Power sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut pusing.

Semua mata melirik Juragan Brono.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 15 : Teror!”