Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

Cerpen

Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?

Sore hari.

Gawat.

Rumah Cengkir didatangi dan dikepung anak buah Ki Jagabaya, dari kesatuan Jagabayan. Kesatuan yang bertugas melindungi desa Carangpedopo dari tindak jahat para bromocorah.

Anggota Jagabayan ini mencari Kang Sronto. Menurut Jagabayan, tindak-tanduk Kang Sronto ini sudah merongrong kewibawaan Jagabayan.

Tidak bisa dibiarkan.

Dua kompi Jagabayan dikerahkan untuk menjemput Kang Sronto di rumah Cengkir yang juga sebagai markas KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman).

Maka, suasana sore lengas di penghujung musim kemarau terasa mencekam di rumah Cengkir. Gemetar, Cengkir hanya bisa menyilakan para anggota Jagabayan yang berbadan tegap dan bersenjatakan pentungan mengkilap. Kang Sronto belum datang, kata Cengkir pucat-pasi.

Para Jagabayan, menunggu untuk menyergap Kang Sronto si pembelot. Kang Sronto memang sebelumnya pernah dinas di kesatuan Jagabayan. Tapi sejak bertugas di KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman), Kang Sronto malah ngobrak-abrik kedaulatan Jagabayan. Kang Sronto berani menyeret DS (Dikun Susilo), sesepuh Jagabayan, dalam kasus pengadaan simulator dokar (delman).

Rumah Cengkir diduduki pasukan Jagabayan. Cengkir tersandera.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 19 : Dimana Kepala Desa?”

Merapi’s Call part 5

Hantaran

Setelah menempatkan induk sapi dan anaknya yang baru lahir di shelter, rombongan Pro Fauna ikut bersama pasukan Kopassus mengantar Mbah Pono kembali ke posko pengungsiannya. Kedua kambing Mbah Pono juga ikut. Alasan Mbah Pono tidak ingin  meninggalkan peliharannya di shelter adalah,

“Saya masih bisa nyarikan makan buat mereka, kok.”

Lagi-lagi Mbah Pono tidak ingin merepotkan orang lain.

“Lagian, rumput di lapangan bola stadionnya kan ijo-ijo, seger-seger.” sambung Mbah Pono.

Waduh.
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 5”

Merapi’s Call part 4

Evakuasi

Jam setengah lima pagi, seluruh tim Pro Fauna sudah bersiap-siap melakukan misi evakuasi hewan ternak warga yang masih terjebak di desa yang terkena erupsi Merapi. Tujuan utamanya adalah mencari hewan-hewan ternak yang masih hidup, membawanya ke tempat penampungan hewan (shelter), dan merawatnya di shelter-shelter tersebut.

Rama mengajak Tukang Cerita yang kelihatannya habis shalat subuh, untuk ikut misi kali ini. Tukang Cerita hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sesaat berikutnya, Rama, Tukang Cerita beserta anggota Pro Fauna yang lain sudah duduk lesehan di bak terbuka mobil pick-up yang membawa mereka ke lokasi evakuasi.

“Bakal seru,nih.” kata Rama sambil terguncang-guncang di atas mobil pick-up.

“Kenapa?” tanya Tukang Cerita.
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 4”

Merapi’s Call part 3

Pro Fauna dan Jogloabang

Sudah beberapa hari ini pasukan Pro Fauna menginap dan menjadikan Jogloabang yang terletak di Desa Mlati, Sleman – Yogyakarta sebagai base-camp. Secara garis besar, Pro Fauna adalah sebuah organisasi penyelamat satwa. Tugas mulia mereka kali ini adalah menyelamatkan satwa-satwa (termasuk hewan ternak) ke shelter-shelter pengungsian ternak sementara. Mereka juga memberi makan secara rutin satwa dan ternak yang berhasil mereka evakuasi.

Hubungan antara pemilik dengan ternaknya sering kali dianggap remeh. Banyak yang tidak habis pikir, untuk apa mempertaruhkan nyawa untuk sekedar menengok, memberi makan ternak mereka. Di sinilah teman-teman dari Pro Fauna secara profesional mengambil alih tugas para pemilik ternak. Menyelamatkan dan memelihara, sehingga peternak pun bisa tenang.

Sesungguhnya ternak bagi pemilik ternak adalah separuh dari kehidupan mereka. Karena biasanya, itulah harta yang paling berharga untuk melanjutkan kehidupan. Sehingga, begitu dipastikan bahwa ternak mereka baik-baik saja, demikian juga jaminan masa depan mereka untuk melanjutkan kehidupan…dimanapun mereka akan tinggal kelak. Untuk itulah, aksi Pro Fauna dan teman-teman lain yang menyelamatkan satwa dan hewan ternak ini terasa begitu berarti.
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 3”

Merapi’s Call part 2

Merapi’s Call

Tidak mempedulikan orang-orang yang sibuk melindungi diri dengan ponco (jas hujan), atau mengantri masker yang diberikan gratis oleh organisasi yang begitu cepat-tanggap, Tukang Cerita malah asik berdiri di alun-alun. Berdiri diam, mencoba merasakan setiap butir abu vulkano putih yang jatuh dirambutnya, dikulitnya. Napasnya terasa sesak menghirup udara yang sudah dikepung debu kiriman Merapi. Lelaki sableng itu mendongak ke arah timur. Tidak banyak yang dilihatnya selain matahari pucat karena tertutup awan debu yang dikirim oleh Merapi, meski berjarak 534 kilometer dari kota ini.

Sempat, lelaki yang suka seenaknya ini membuat status di salah satu jejaring sosial (dengan sembarangan, pastinya),

“Sudah 2 hari gak ujan. Kalau besok tidak hujan juga, berati kota ini memasuki musim kemarau.”
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 2”

Merapi’s Call part 1

Cerita ini sebetulnya memiliki inti dari cerita Merapi terdahulu. Hanya saja, ada permintaan dari Anazkia untuk berpartisipasi mengumpulkan cerita Merapi untuk dijadikan buku antologi yang keuntungannya akan disumbangkan kepada korban Merapi. Karena saya sudah punya tulisan sebelumnya di Pojok Pradna ini, tanpa pikir panjang saya kopaskan tulisan dari sini. Ternyata memang pikiran saya kurang panjang, tulisan yang cuma 2 halaman itu tidak memenuhi syarat. Anaz, kemudian meminta saya untuk memperpanjang…. uhuk, cerita saya.

Jadilah, saya gabungkan beberapa cerita yang saya dengar atau alami selama di seputar Merapi. Hanya saja, saya ini dikaruniai untuk susah mengingat nama-nama orang. Maka, mohon maaf jika nama-nama yang ada dicerita ini saya fiksikan. Demikian juga beberapa detilnya saya fiksikan dan mix-kan hingga jadi 1 kesatuan cerita. Tapi, secara garis besar cerita ini diangkat dari kisah nyata.

Kemudian, daripada naskah ini tertimbun di tumpukan folder, saya berkeinginan untuk kopas di Pojok Pradna (sekedar buat arsip-lah). Karena cerita ini “berdurasi” 10 halaman, saya kawatir akan merusak mata yang nekat membacanya ^_^. Jadi, sepertinya lebih baik kalau dibagi menjadi 5 part, sesuai 5 sub-judulnya,ya.

Begini ceritanya ….JRENG…JREEEENG…
Lanjutkan membaca “Merapi’s Call part 1”

Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!

Sore hari.

Lik Power, Mas Roy, Kang Sronto, burung-burung, Tukang Cerita, angin, semua terdiam-ternganga melihat apa yang dilakukan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Di depan mereka semua, Cengkir sedang melakukan ritual misterius. Cengkir berpindah dari tiang ke tiang yang lain di rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap tiang yang Cengkir pegang dengan satu tangan, tubuhnya bergelinjangan.

“Chaiya, chaiiiyaaa…” mulutnya yang tebal meneriakkan mantra-mantra aneh. Mukanya jadi sendu, tangan satunya yang tidak memegang tiang dilambai-lambaikannya.

“Kamu lagi apa, to Ceng?” tanya Kang Sronto, tidak tega melihat sohibnya tersesat melakukan ritual tidak jelas seperti itu.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore 16 : Icha…eh,Acha,Acha,ada EmDee di Gedung baru he!”

Sinopsis Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

ebook Kumpulan Cerpen Remaja

Sekedar merawat promosi aja ^_^

Telah hadir ebook (format .pdf) kumpulan cerita remaja “Tunas”.

Tebal:  42 halaman + iv

Terdiri dari 5 cerita.

Anda tidak perlu kuatir akan menemukan cerita yang berat atau justru remaja-lebay-termehek-mehek di sini. Apa yang akan Anda dapatkan adalah cerita yang cerah, ringan dan menikung tajam di akhir.

Ini sedikit nukilan (kalau tidak bisa disebut sinopsis) dari “Tunas” :
Lanjutkan membaca “Sinopsis Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas””

Ebook Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

Dulu pernah membaca pendapat seorang seniman senior yang maaf lupa namanya, berpendapat seperti ini :

Banyaknya pertunjukan gratis hanya akan merugikan. Bagi seniman, akan membuat dia sekedar manggung saja tanpa menunjukkan performa sesungguhnya. Toh sudah dibayar. Mau ada penonton atau tidak yang penting manggung, toh sudah dibayar. Bagi penonton hanya akan membuatnya tidak mengerti apa yang ditontonnya. Toh tidak bayar. Tidak peduli seniman yang manggung bermain dengan baik atau tidak, toh tidak bayar. Jika terus berlanjut, tentu saja akan merendahkan mutu kesenian itu sendiri

Hal ini kemudian dikuatkan beberapa waktu kemudian oleh Pak Rusmanto, pimred Majalah Infolinux di salah satu seminar yang saya ikuti :

Gratis itu tidak mendidik. Karena hanya akan membuat orang tidak menghargai apa yang dia dapat

Ditutup dengan pernyataan seorang Mpu dari Internet For Kids,

Internet Untuk Anak hanya gratis pada jam tertentu. Karena gratis semua, siapa yang menutup biaya operasionalnya?

Dengan pertimbangan seperti itulah maka jadi bisa menutup alasan utamanya yang sedang kelaparan, saya memutuskan untuk mengenakan tarif  untuk ebook berformat PDF, yang berisi kumpulan cerita dari Tukang Cerita yang berjudul “Tunas”.


Lanjutkan membaca “Ebook Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas””

Atas ↑