Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

cerita

Trilogi Bartimaeus

[Sama seperti Adachi Mitsuru ini adalah repost dari blog lama yang domainnya sudah padam]

Pertama kali liat sampul buku ini, terus terang tidak terlalu tertarik.

Saya lihat terlalu fantasi…(karena sering terjebak kisah fantasi yang tidak menyenangkan untuk dibaca…kecuali : Harry Potter, dan serial Eragon).

Lanjutkan membaca “Trilogi Bartimaeus”

Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 2)

Lanjutan dari bagian Pertama yang bisa dibaca di sini.

Empat tahun yang mengesankan di kota yang terkenal dengan objek wisata dataran tingginya ini. Tukang Cerita harus berpisah dengan kedua orang tua. Tukang Cerita-pun tinggal berdua dengan nenek di kota pesisir utara Pulau Jawa.

Rumah nenek berada di tengah kota. Berada di tepi jalan raya, tidak banyak halaman untuk bermain bebas di sini.

Beruntung, ada teman satu kelas Tukang Cerita yang memiliki halaman luas. Rosantika namanya, bulat-gemuk anaknya. Tapi pintar dalam pelajaran dan jago bermacam olah-raga. Sebuah alasan bagus buat Tukang Cerita untuk sesering mungkin mengayuh sepeda mininya ke rumah Rosantika dengan alasan, belajar bersama!

Lanjutkan membaca “Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 2)”

Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 1)

Saya membaca surat Takita dari ID tweet @bukik sang pegiat IDCerita.

Membaca dan membayangkan surat polos dari Takita (ikon IDCerita) seorang anak yang memimpikan Ayah-Bundanya bercerita setiap malam menjelang tidurnya, itu sangat menyentuh.

Untuk itu, kakak mau ikut bercerita, ya. Cerita tentang Dunia Tukang Cerita!

Semoga Takita suka…dan jangan bobo dulu sebelum selesai ceritanya ya ^_^ :

Lahir di pesisir pantai selatan Pulau Jawa, seorang Ayah nyentrik memberikan nama Tukang Cerita pada bayi laki-laki yang baru lahir ini.

Meski cuma tiga tahun sejak lahir tinggal di kota yang terkenal dengan pasir besinya, Tukang Cerita masih bisa mengingat beberapa pengalaman seru di sana.

Lanjutkan membaca “Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 1)”

Turning Point

Sore hari yang cerah.

Burung-burung mulai kembali berdatangan setelah seharian beterbangan kian kemari untuk mencari makan. Ribut diantara rindangnya pepohonan jati yang ditanam dengan jarak terukur, tepat di bawah barisan bukit kapur berbentuk kerucut (cone hill).

Di bawah bukit itulah berdiri seadanya sebuah pondok dari kayu pohon kelapa, beratapkan rumbai kelapa. Menyendiri diatas tanah pasir, diantara pepohonan jati. Cukup untuk sekedar terlindung dari terpaan angin laut yang berjarak hanya selemparan batu.

Dalam bilik sederhana berlantaikan pasir pantai, diatas meja dari kayu pohon nangka yang telah menghitam terdapat laptop yang telah berminggu ini tidak pernah dinyalakan. Duduk diatas kursi kayu usang, Tukang Cerita yang juga telah terdiam berminggu ini. Berminggu pula dia hanya menatap tebing tebing kapur dari jendela di depannya, dan hanya sesekali mengalihkan pandangannya ke layar hitam layar laptopnya.

Tiba-tiba sesosok laki-laki terpantul dari layar laptop yang telah berdebu itu.

“Hantu.” kata Tukang Cerita pendek.
Lanjutkan membaca “Turning Point”

Persimpangan

Langkahku terhenti di sini.

Backpack besar yang membebani pundak, segera kuhempaskan begitu saja ke tanah di bawahku. Sekilas aku memandang tas yang berisi segala macam peralatan pentas pribadiku, untuk sekedar menyambung hidup di sepanjang perjalananku selama ini. Beragam lakon sudah aku perankan di jalanan, di sudut kota, di mana saja, demi meraup receh yang mengantarkanku ke perjalanan berikutnya.

Seringai kering yang menghiasi bibirku ketika aku mengalihkan pandangan ke sekelilingku, langsung lenyap. Kenyataan di depanku membuat segala macam perasaan positif yang pernah didefinisikan orang, menguap…lebih tepatnya, membeku.

Sejauh mata memandang, terlihat hamparan putih salju. Hanya dihiasi oleh pepohonan kering yang mencuat keluar dari permukaan putihnya salju, memberikan sentuhan warna hitam mengerikan. Seperti kepala orang yang terserang penyakit kulit parah.
Lanjutkan membaca “Persimpangan”

Atas ↑