Cari

Pradna's Corner

Just another tempat mojoknya Pradna

Tag

cerita pendek

Obrolan sore 18 : Antri

Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Mas Roy, telah duduk mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia.

Para pemuja Obrolan Sore kali ini menunjukkan ekspresi berdeba-beda.

Mas Roy terlihat segar. Rambut yang terlihat mengilap dan selalu basah. Wajah berseri. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan putri kaur Kesra Desa Carangpedopo. Senandung lagu romantis terlantun dari bibir Mas Roy.

Berbeda dengan Mas Roy sang Putra Mahkota Desa Carangpedopo,

Juragan Brono duduk sambil sesekali mengaduh kesakitan. Separuh wajahnya terlihat membengkak merah-kebiruan. Bibir Juragan Brono yang memang sudah tebal, semakin terlihat tak tertahankan, menggelembung mengerikan. Mata kirinya semakin tidak terlihat karena pipinya seolah baru saja disuntik silikon.
Lanjutkan membaca “Obrolan sore 18 : Antri”

Sinopsis Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

ebook Kumpulan Cerpen Remaja

Sekedar merawat promosi aja ^_^

Telah hadir ebook (format .pdf) kumpulan cerita remaja “Tunas”.

Tebal:  42 halaman + iv

Terdiri dari 5 cerita.

Anda tidak perlu kuatir akan menemukan cerita yang berat atau justru remaja-lebay-termehek-mehek di sini. Apa yang akan Anda dapatkan adalah cerita yang cerah, ringan dan menikung tajam di akhir.

Ini sedikit nukilan (kalau tidak bisa disebut sinopsis) dari “Tunas” :
Lanjutkan membaca “Sinopsis Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas””

Ebook Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas”

Dulu pernah membaca pendapat seorang seniman senior yang maaf lupa namanya, berpendapat seperti ini :

Banyaknya pertunjukan gratis hanya akan merugikan. Bagi seniman, akan membuat dia sekedar manggung saja tanpa menunjukkan performa sesungguhnya. Toh sudah dibayar. Mau ada penonton atau tidak yang penting manggung, toh sudah dibayar. Bagi penonton hanya akan membuatnya tidak mengerti apa yang ditontonnya. Toh tidak bayar. Tidak peduli seniman yang manggung bermain dengan baik atau tidak, toh tidak bayar. Jika terus berlanjut, tentu saja akan merendahkan mutu kesenian itu sendiri

Hal ini kemudian dikuatkan beberapa waktu kemudian oleh Pak Rusmanto, pimred Majalah Infolinux di salah satu seminar yang saya ikuti :

Gratis itu tidak mendidik. Karena hanya akan membuat orang tidak menghargai apa yang dia dapat

Ditutup dengan pernyataan seorang Mpu dari Internet For Kids,

Internet Untuk Anak hanya gratis pada jam tertentu. Karena gratis semua, siapa yang menutup biaya operasionalnya?

Dengan pertimbangan seperti itulah maka jadi bisa menutup alasan utamanya yang sedang kelaparan, saya memutuskan untuk mengenakan tarif  untuk ebook berformat PDF, yang berisi kumpulan cerita dari Tukang Cerita yang berjudul “Tunas”.


Lanjutkan membaca “Ebook Kumpulan Cerpen Remaja “Tunas””

satu, dua, tiga… Egois (selfish)

#1

Sayang,
urus sendiri dulu urusanmu, ya
Aku sedang menyiapkan peti matiku

#2

Sayang,
selesaikan sendiri dulu masalahmu dengan dirinya, ya
Aku sedang menyiapkan kuburanku

#3

(will)
Nah Sayang,
tolong urus mayatku, ya
————————————————————————————————————————————————–

Ini adalah bagian Kedua dari Trilogi “Shadow” :
1. Tak Bisakah?

2. satu, dua, tiga… Egois (selfish)

3. Reveal

Maaf..

“Keterlaluan!” getir Gadis Jam 5 Sore.

“Maaf..” lesu Tukang Cerita.

“Ada dusta di matamu!” murka Gadis Jam 5 Sore.

“Maaf..” lirih Tukang Cerita.

—Interval—
Lanjutkan membaca “Maaf..”

3 Kata 3 Cerita

Suatu Sore di Taman Bunga.

“San”

Ya?

“Gak”

“San”

Apa?

“Cantik”

Hmm?
Lanjutkan membaca “3 Kata 3 Cerita”

Atas ↑