(buat : “Aku Untuk Negeriku”)

Sore hari.
Hujan disertai angin kencang melanda desa Carangpedopo sejak tadi siang hingga sore ini belum menunjukkan tanda-tanda bakal rehat. Seluruh warga yang biasanya setiap sore seperti bioskop yang lagi bubar, keluar dari rumah masing-masing untuk berinteraksi sosial dengan tetangga kanan-kiri setelah seharian bertebaran di muka bumi, sore ini lebih memilih kehangatan dalam rumah di tengah badai seperti ini. Tidak ada jeritan riang anak-anak yang sedang main gasing, gundu, gobak-sodor, atau main bola di lapangan desa yang multi fungsi dengan tempat gembalaan kerbau,sapi dan kambing. Tidak ada ibu-ibu yang sibuk bergosip tentang berbagai kebutuhan rumah tangga yang semakin tak terbeli. Tidak ada kumpulan bapak-bapak yang mengeluhkan semakin minimnya pendapatan mereka. Tidak ada yang melakukan itu semua, karena semakin lama hujan angin ini semakin mencekam. Semuanya lebih memilih bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan alam pada manusia yang sering sok menguasai alam dan berbuat sewenang-wenang. Kecuali sesosok lelaki yang tidak memperdulikan ancaman alam ini dan tetap melenggang di bawah payung menuju rumah di ujung kampung.

Lik Power tidak menyurutkan langkahnya mendatangi rumah Cengkir walau angin membawa tempias hujan membasahi sebagian bajunya,membuat fungsi payungnya sedikit sia-sia. Lik dalam bahasa Jawa berarti Paman, Power berarti kekuatan atau kekuasaan. Mantan kepala desa mendapatkan panggilan seperti ini, bukan tanpa alasan. Jabatan Kades memang sudah dilepasnya, tapi aura kekuasaan masih enggan dilepasnya. Jadinya, dia masih suka memerintah-merintah, masih suka memberikan wejangan-wejangan (walau seringnya tidak diperlukan), masih suka memaksakan kalau sarannya-lah yang harus dituruti dalam setiap rapat desa, dan suaranya pun masih menggelegar menegaskan kalau dia masih punya power dan kekuasaan. Makanya, warga menamai beliau dengan sebutan Lik Power. Tidak merasa tersindir dengan sebutan itu, seperti layaknya pejabat kawakan, beliau malah merasa bangga dengan sebutan yang dianugerahkan (mantan) warganya. “Ini bukti warga masih mencintai saya!” begitu selalu kata Lik Power sumringah.
Lanjutkan membaca “Obrolan Sore : Banjir”