review ebook reader amazon kindle paperwhite

Benar kata orang yang ada di Youtube soal dua jenis pembaca buku. Yaitu tipe yang suka baca, dan tipe yang suka buku.

Maksudnya, yang suka baca apapun medianya. Mau buku fisik, koran fisik, sampai banner “Hati-hati di Jalan, Keluarga Menunggu di Rumah. Semoga Selamat Sampai Tujuan” juga dibaca. Pun tak keberatan membaca dalam format digital di ponsel, tablet atau komputer.

Tipe berikutnya adalah yang berpegang teguh pada tradisi, yang namanya membaca itu ya membaca buku. Ritual mengelus-elus, membalik-balik halaman, sampai mengendus-endus aroma bukunya adalah proses sakral tak tergantikan.

Saya tidak tau apakah tipe pecinta buku ini bakal cocok dengan Ebook reader macam Kindle.

Buat saya yang suka dan ga masalah baca buku di mana saja dan di apa saja, Kindle adalah sesuatu yang menyenangkan ^_^

Menjalani takdir kere ra uwis-uwis, sejak kecil, membeli buku adalah perjuangan. Tapi saya sudah suka buku sejak sebelum bisa membaca. Solusi seringnya adalah bersekutu dengan perpustakaan atau persewaan buku.

Kemudian masuk ke era digital terapan (maksudnya, teknologi digital sudah bisa digunakan dalam keseharian). Mulai ada buku-buku digital, yang karena banyak hal harganya jadi lebih murah dari buku cetak.

Berikutnya, pemerintah berbaik hati mewujudkan Perpustakaan Nasional Digital, dengan iPusnas-nya.

Di beberapa kesempatan sih fine-fine aja baca buku digital di ponsel atau laptop. Tapi kok makin ke sini makin ndak nyaman ya.

Mungkin karena mata yang sudah semakin menua walau belum berkacamata?

Mungkin karena sudah semakin kehilangan privasi membaca di tengah hiruk-pikuk notifikasi. Walau dimode pesawat, tapi hasrat hati ingin mengintip dunia luar lagi yang trus jadinya kembali tidak ada privasi membaca lagi?

Mungkin karena harga buku cetak yang semakin tak terjangkau?

Mungkin karena terlalu banyak bertanya?

Entahlah, hayati lelah dek

Hingga kemudian takdir mengantar pada seekor, euh, sesosok… ck, se-ebook reader Kindle.

Dulu memang pernah sekilas dengar waktu rame-rame Kindle Fire dari Amazon. Tapi trus terlupakan.

Berikutnya, sempat sekilas melihat ada mamas-mamas bule baca dengan Kindle di kereta, di sela-sela derasnya mbak disebelahnya yang berusaha keras ngajak ngobrol.

Pertanda itupun belum cukup menggerakkan hatiku buat “ngecek” kindle lebih jauh. Mengira semuanya baik-baik saja,

dan Boom!

perasaan 10 paragraf di atas hadir begitu saja

Hingga keajaiban Youtube berbicara. Tanpa sengaja melihat ulasan Kindle di Youtube.

dan, Voila!

review ebook reader amazon kindle paperwhite

Kindle Paperwhite di tangan saya ini memberikan semangat baru dalam membaca buku. Sangking semangatnya, dalam 7 hari sejak pegang Kindle Paperwhite, saya sudah menamatkan 2 buku!

Ini rekor. Karena biasanya kalau tidak terdistraksi macam-macam saat membaca buku format digital, ya saya baca buku cetaknya pelan-pelan. Sayang, sudah beli mahal-mahal buku cetak,  tapi cepat selesainya.

Oke, setelah berpanjang-lebar pembukaan curhatnya, Kindle itu kayak gimana sih?

Intinya, Kindle dan ebook reader lainnya adalah gawai semacam tablet yang dikhususkan untuk membaca buku saja. Biasanya tidak ada fitur lain selain penunjang untuk membaca buku.

Ebook-ebook reader ini, termasuk Kindle, menggunakan teknologi e-ink. Tinta elektronik. Sehingga layarnya di desain sedemikian rupa semirip mungkin dengan buku fisik, agar memberikan pengalaman seperti membaca buku cetak.

yang berarti, mau dipakai membaca berjam-jam, di segala kondisi cahaya, mata tidak cepat capek. Layar e-ink di Kindle tidak terasa memantulkan cahaya di kondisi cahaya paling terik sekalipun.

Berikutnya, saya copas-kan dari Klikomputer.biz.id  :

Layar Kindle yang monochrome dengan 16 tingkat warna abu-abu ini didesain seperti buku fisik. Juga layarnya tidak sepenuhnya terasa halus, terasa sedikit kasar seperti ketika memegang kertas.

Saat ini Kindle memiliki beberapa varian yaitu :

  • Kindle (tanpa backlight, sehingga tidak bisa dibaca dalam gelap). Resolusi 167 ppi
  • Kindle Paperwhite (dengan backlight, sehingga dapat dibaca dalam gelap). Resolusi 300 ppi . Varian terbarunya (8th Generation ke atas) sudah waterproof IPX8 (2 meter, 60 menit di dalam air)
  • Kindle Oasis adalah varian termhal, backlight, layar 7 inch, resolusi 300 ppi, waterproof IPX8 (2 meter, 60 menit di dalam air)

Kindle dan Kindle Paperwhite memiliki bentang layar 6 inch. Ketiga varian memiliki layar glare-free sehingga tetap dapat dibaca di bawah terik matahari .

Spesifikasi selengkapnya dapat dilihat di sini perbandingannya.

Kindle terasa cukup kompak ringan untuk ditenteng, membuat tangan tidak pegal walau harus dipegang lama. Kapasitasnya yang besar bisa menyimpan ribuan buku. Cukup praktis untuk dibawa kemana-mana, juga menjadi solusi bagi yang sudah bermasalah dengan tempat koleksi buku di rumah.

Dengan tersambung internet (melalui wifi di Kindle dan Kindle Paperwhite, juga koneksi 4G di Kindle Oasis), pembaca disediakan fitur untuk membeli buku langsung dari Amazon. Juga ada fitur-fitur untuk mencari arti dari kata di kamus ataupun Wikipedia.

Sedangkan jika punya koleksi ebook berupa file-file pdf, epub atau yang lain, bisa dimasukkan ke Kindle. Akan lebih nyaman jika diubah dulu ke format file Kindle yaitu .mobi atau .azw3

Kembali ke Pojok Pradna.

Hal yang menyebalkannya adalah :

1. Harga
Entah ada atau tidak pengaruh minat baca warga(net) Indonesia yang hosipnya rendah, jadi membuat gawai pembaca buku ini dipandang sebagai sesuatu yang aneh, yang ujungnya bikin tidak ada seseperusahaan yang memasukkan Kindle secara resmi di Indonesia.

Membikin Kindle belum masuk resmi ke Indonesia. Jadinya, harganya masih lumayan mencekik dompet

2. Ekosistem Amazon book
Karena Kindle keluaran Amazon, ostosmastis, dibuat sedemikian rupa biar pemilik Kindle belinya di Amazon. Jadi, yeah, kalau yang bukan pencari buku-buku bahasa Inggris (seperti saya), perlu usaha tambahan buat meng-convert ebook-ebook selain dari Amazon.

Bahkan buku-buku dari Google Playbook untuk dapat dimasukkan di Kindle perlu usaha yang lebih keras lagi. Itupun hasilnya belum tentu rapi saat dibaca di Kindle.

Jadi… apakah ini ebook reader cukup sepadan untuk dimiliki untuk membaca buku?

Jika memang suka membaca buku dan bukan pemuja buku fisik garis keras. Kindle Paperwhite (karena yang tanpa backlight kok saya ragu bakal berfaedah buat saya yang suka baca di warung remang-remang… euh, tempat remang)…

saya ulangi,

Jika memang suka membaca buku dan bukan pemuja buku fisik garis keras. Kindle Paperwhite, layak untuk diperjuangkan buat dimiliki.

Bikin kembali semangat dan bahagia membaca buku.