review keluarga cemara

Untuk kesekian kalinya,

Saya dulu pernah main, nulis naskah dan jadi sutradara teater kampus. Pengalaman dari sini menunjukkan bahwa dalam pementasan, gestur sekecil apapun harus dapat ditangkap oleh penonton dari tempat yang paling jauh. Begitu juga suara serendah apapun harus tetap terdengar oleh pentonton dari tempat yang paling jauh sekalipun.

Maka para pemain teater terbiasa untuk melebih-lebihkan  gestur tubuh, mimik tubuh, maupun vokal suara ketika mementaskan sebuah lakon.

Sialnya kalau kebiasaan ini dibawa ke dunia sinema. Karena di dunia sinema, tanpa melakukan apapun bisa tertangkap jelas oleh kamera. Bahkan gerakan sekecil apapun bisa dizoom oleh kamera. Makanya, kebiasaan berlebih-lebihan di teater akan terlihat sangat lebay di kamera. Contoh yang nyata adalah kebanyakan sinetron-sinetron tv. Sial banget buat yang nonton.

Karakter berlebihan seperti ini juga dimunculkan di film keluarga yang paling ditunggu di awal 2019, Keluarga Cemara. Diperankan oleh Asri Welas sang Wanita Pinjaman, euh, Loan Woman ( 😀 ) , Ceu Salma tampil dengan segala kehebohan yang berlebihannya. Tapi karakter ini jadi penghibur di tengah lautan karakter yang tidak banyak mengumbar kata.

Lihat saja ketika ceu Salma  saat di meja makan ketika Abah membatalkan menjual rumahnya. Ceu Salma langsung heboh secara berlebihan (ketika sebetulnya dia juga mendukung biar rumah Abah tidak dijual), dan hanya dilihat “melongo” oleh keempat keluarga Cemara.

Sekali lagi karakter lebay hanya sebagai pemanis. Selebihnya tokoh-tokoh di film ini semuanya dipasang pas tanpa banyak mengumbar kata.

“Dialog diam” dalam takaran yang pas selalu jadi favorit saya. Bahkan pernah juga saya bikin cerpen yang lebih banyak diamnya tapi tetap dapat komentar : meski diam tapi pesan tersampaikan … #teppromo (dulu ada jaman-jaman hidup dari bikin cerita #dududu )

Sekali lagi, film bioskop dengan layar segede gambreng dan tidak ada potongan iklan-iklan yang tiba-tiba nongol  gitu kan bikin fokus penonton mantengi layar. Jadi, tanpa dialog yang dipanjang-panjangkan demi durasi atau adegan yang diulang-ulang, penonton sudah paham apa yang pengen disampaikan.

Tidak ada dialog mengiba-iba tak bersudah saat Abah bangkrut karena ditipu. Malah ketika Emak marah sama akangnya karena bikin bangkrut di “sudah-sudahi” sama Abah biar ga berpanjang-panjang.

Begitu juga adegan-adegan, tidak ada glorifikasi kemlaratan mereka. Saat mendadak jatuh miskin, cukup digambarkan kesusahan mereka dalam takaran yang pas. Mendadak harus tidur di kantor, masuk rumah usang, dan seterusnya.

Semua dalam takaran yang pas.

Ahiya, tidak ada tokoh antagonis di film ini. Dan saya juga selalu suka cerita-cerita tanpa tokoh antagonis. Seperti saya berkiblat pada komik-komik Adachi Mitsuru-sensei. Karena cerita tanpa tokoh antagonis berarti si pembuat cerita harus berpikir lebih keras 😀

Bahkan ketika Euis baru masuk ke sekolah barunya, scene dibuka dengan gimmick seolah-olah bakal dapat teman yang jahat-jahat. Tapi justru mereka teman-teman yang sangat baik hati.

Yandy Laurens dan Ginatri S. Noer menghidangkan cerita Keluarga Cemara dengan pas dan hangat. Cerita utamanya adalah masalah gegar kondisi keluarga Abah. Dari keluarga menengah yang mapan terjun bebas ke kondisi serba kekurangan dan terlempar ke daerah yang bukan habitat mereka.

Fokus utamanya (dan mungkin yang paling terpukul) adalah si Abah. Yang ternyata permasalahan sejatinya adalah rasa tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga.

Di layer kedua ada masalah Euis yang harus tercabut dari teman-temannya dan hobi dancing-nya.

Layer berikutnya, tipis, masalah kegalauan Emak yang lagi-lagi soal tanggung jawab. Emak merasa sangat bertanggungjawab ketika keluarganya jatuh miskin malah dirinya hamil… padahal kan ga sepenuhnya tanggung jawab Emak kan ya, mak… separo tanggung jawab yang “nyeponsori” kehamilan Emak juga lah #heuheuheu :mrgreen:

Durasi penyelesaian masalah-masalah itupun sesuai dengan ketebalan layernya.

Kegalauan Emak diselesaikan seketika oleh celetukan Ara yang dipancing Abah dengan memberitahu kalau Ara akan punya adik. Kembali hidangan yang pas tanpa umbaran kata-kata abah menenangkan kegelisahan Emak 🙂

Layer masalah Euis terselesaikan karena, mau ga mau diusianya, harus melalui pembuktian empiris dari pengalamannya sendiri (meski harus menentang perintah Abah). Hingga mendapat kesimpulan sendiri kalau kehidupannya sekarang, sepaket dengan teman-teman barunya, adalah yang terbaik untuk Euis saat ini.

Sedangkan buat Abah, setelah didorong untuk menjadi karakter yang sedikit lebih menyebalkan lagi. Akhirnya terselesaikan dengan dialog :

“Kalau kita semua tanggung jawab Abah, Abah tanggung jawab siapa?”

Klik. Abah langsung tersadar begitu saja.

That’s it.

Tidak ada dialog berlembar-lembar seperti membacakan naskah GBHN untuk menyadarkan Abah.

(((GBHN))) !

Eh iya, maksud saya. Sering kan di kehidupan nyata, seorang penemu, detektif, atau bahkan kita tersadar begitu saja dengan satu dialog pendek. Tanpa harus mendengarkan ceramah motivasi yang berapi-api.

Sesuai judulnya, saya merasa, memang justru Ara yang diambil dari nama pohon Cemara lah yang jadi inti semesta Keluarga Cemara. Dengan dialog-dialog polosnya, Widuri Sasono yang memerankan Ara dapat menghadirkan keceriaan dan optimisme bagi keluarga kecilnya.

Demikianlah, hidangan sinema Keluarga Cemara kali ini mampu dihadirkan oleh sutradara Yandy Laurens dengan takaran yang pas di semua lini tanpa harus mengumbar kata-kata.

Bicara hal-hal lain di luar keseluruhan film.

Setting film ini adalah masa kini, (sepertinya) agar dapat dinikmati seluruh keluarga. Makanya becak Abah yang legendaris itu hanya dimunculkan sebagai detil nostalgia dan diganti dengan profesi Abah sebagai pengojek daring.

Ojek daring besar sekarang ada dua, sama-sama ijo pulak. Karena (mungkin) yang mau ikut jadi sponsor ini yang ijo yang itu (halah, yang mana). Jadi lah kemudian ada komentar-komentar kalau film ini kentara sekali mromosiin ojek ijo yang bukan ojek ijo yang sana… #eh malah bingung sendiri

Maklum aja sih, karena bahkan Kaskus yang tulisannya muncul di awal film sebelum ojek ijo yang… #plak euh, anu… tapi Kaskus-nya kayaknya ga muncul sama sekali di sepanjang film.

Terus… saya sendiri sih ndak terlalu nostalgiaan sama Keluarga Cemara. Karena dulu sinetron ini pertama ditayangkan tahun 1996 di RCTI, masih tinggal berdua sama nenek yang memang agak telat soal beralih ke antena yang cuma bisa nyetel TVRI ke alat-alat yang bisa nyetel er se te i.

Dan saya menikmati film Keluarga Cemara sebagai penonton baru. Walau kalau lagu legendarisnya memang menembus batas,  begitu lagunya beredar duluan dinyanyikan sama yayang BCL, saya langsung mengenali kalau itu lagunya Keluarga Cemara.

Terakhir,

Tentu saja film ini banyak sekali lucu-lucunya. Memangnya enak menyaksikan drama keluarga selama 1 jam 50 menit tanpa ketawa sedikitpun -_- . Juga untuk menunjukkan kalau keluarga itu ya ada seriusnya, ada marah-marahnya, ada berantakannya, dan banyak tertawanya.

Ah, jadi ingat cerita Bapak. Betapa beliau cerita dengan riang, dulu pernah menyabotase hubungan mbak, kakak pertama, yang pacaran dengan seorang pengacara.

Oke, tarohlah pengacara itu punya/bakal punya kehidupan yang mapan. Tapi alasan bapakku sabotase hubungan itu :

“Pacaran kok serius banget. Kalau ketemu mesti diskusi. Nggak ada ketawa-ketawanya.”

😆