manjaro linux

Wuahahaha….

*begitu biasanya setelah pemain sinetron ngomong bombastis*

Manjaro juga merupakan distro Linux untuk orang-orang yang tidak silau dengan euforia Party Release..

Wuahahaha…

#plak

Sebetulnya sih, ketika kita menggunakan Linux, sekali install kemudian dinonaktifkan notifikasi update-nya, selesai. Linux tersebut akan berjalan dengan baik sampai hardware-nya sendiri yang jebol. Seperti yang ada di warnet-warnet, perkantoran, dan tempat komersial lainnya yang menggunakan linux. Hanya saja, untuk pemakaian pribadi, hasrat kekinian sulit dibendung.

Setiap ada update versi distro Linux terbaru, selalu pengen untuk mengupdate juga. Akhirnya, lama-lama capek juga. Kemudian beralih ke pilihan moderat, versi distro Linux  LTS (Long Term Support). Setidaknya hanya dua setahun sekali untuk meng-update linuxnya.

Tapi kok ya rasanya masih…

Perasaan seperti itulah yang mungkin dirasakan oleh penggagas Arch Linux (mungkiin lho ya..). Intinya : distro Linux yang rolling release

Artinya : distro linux yang selalu terbarukan.

Versi rilis resminya pasti selalu ada, tapi pengguna tidak harus selalu menginstall versi rilis berikutnya. Contoh : Manjaro yang saya install adalah versi manjaro-xfce-0.8.12-x86_64 dan saya tidak harus menginstal lagi (clean install)  versi berikutnya manjaro-xfce-0.8.13-x86_64 , dan seterusnya.

Cukup, kalau mau, update paket-paket yang terinstal di “Update Manager”. Maka Manjaro saya sudah jadi Manjaro yang kekinian🙂

Jadi pengen berandai-andai : kalau OS linux di gawai menggunakan sistem rolling release seperti ini, tentu tidak ada lagi yang loncat-loncat kegirangan karena hansetnya dapat update Lollipop, sementara temannya hanya menelan ludah karena mentok di Jelly Bean😉

Kembali ke Manjaro.

Awal berkenalan dengannya, bermula dari kebutuhan OS untuk laptop berkemampuan tanggung milik saya (diberi Linux Mint terasa kurang maksimal, diberi Puppy Linux kok sayang). Mencari-carilah yang pas. Sudah pasti pilihan pertama jatuh di DesaOS… hoho..

Cuman, sekali lagi, untuk memenuhi keinginan memiliki sistem yang kekinian, perlu distro Linux yang lain. Berujung pada ketertarikan pada cara kerja rolling release Arch. Sempat berhasrat untuk meramu sendiri dari Arch. Kemudian sadar akan usia, ingin mencoba ArchBang yang sudah ber-desktop. Syukurlah, sebelum itu terlaksana, ketemu dengan Manjaro.

Iyey!

 Manjaro Linux

(bisa diunduh di sini)

Pastinya, saya pilih yang Manjaro Xfce Edition. Karena kebutuhan saya adalah yang ringan dan stabil untuk laptop, Desktop Environment Xfce menjawab hal tersebut. Ternyata, Manjaro Xfce Edition memberikan bonus lebih. Theme dan Whisker Menu bawaan untuk Xfce-nya sudah dibuat ringan dan bagus ikon-ikonnya🙂

whisker menu xfce manjaro linux

Menggunakan sistem Arch, driver untuk AMD yang pernah saya tuliskan sebelumnya, secara otomatis dipilih oleh Manjaro ketika diinstal di laptop. Jadi tidak perlu melakukan langkah-langkah di tulisan saya sebelumnya itu. Tambah satu lagi enaknya pakai Manjaro.

Enak berikutnya ketika pakai Manjaro adalah paket-paket aplikasi yang biasanya saya pakai, sudah ada di repository Manjaro atau di AUR (Arch User Repository). Tidak lagi direpotkan dengan menambahkan PPA😉

Enaknya lagi pakai Manjaro adalah rolling release-nya (yang entah sudah kesebut berapa kali di tulisan ini). Menurut pengalaman memakai Manjaro selama beberapa bulan ini, sebanyak apapun update yang diberikan, ketika saya update semua sekaligus, Manjaro-nya baik-baik saja. Berbeda dengan turunan Ubuntu, ketika saya update semua, biasanya bermasalah di update keamanannya yang berujung pada kernel panic (yang pakai juga).

Ah iya, Manjaro juga menyertakan User Guide dalam instalasinya. Baik ketika masih menjadi LiveUSB maupun setelah terinstall (ada di /home/namauser/Manjaro). Setidaknya, pengguna tidak dibiarkan “bingung” begitu saja.

Demikianlah… Dengan keenakan-keenakan yang saya rasakan di Manjaro, saya optimis Era Arch Linux Telah Tiba!

Wuahahaha…

#glekh

Eits, tapi jangan berbaik sangka dulu. Kalau komputernya berspesifikasi tinggi dan ber-bandwith melimpah seperti di Markas Gedhe, tentu saja pilihan utama saya menggunakan Linux Mint.

Wuahahaha…

#plak