[Sama seperti Adachi Mitsuru ini adalah repost dari blog lama yang domainnya sudah padam]

Pertama kali liat sampul buku ini, terus terang tidak terlalu tertarik.

Saya lihat terlalu fantasi…(karena sering terjebak kisah fantasi yang tidak menyenangkan untuk dibaca…kecuali : Harry Potter, dan serial Eragon).

Lagi-lagi aku disadarkan seorang teman, seperti halnya dia menginsafkan soal Adachi Mitsuru.

its awesome!

Itu komentar saya soal keseluruhan buku ini.

Ini sedikit ulasannya :

Buku ini bercerita tentang 3 tokoh utamanya yang membentuk dalam 1 jalinan cerita besar, yaitu : John Mandrake, Kitty Jones, dan sang tokoh utama, Jin sinis berusia 5000 tahun : Bartimaeus.

Yup.

Cerita fantasi ini memang berkisah bahwa hingga dunia modern ini dunia dikuasai oleh para penyihir. Sedangkan negara adikuasa adalah Inggris dengan serombongan penyihir hebatnya.

Kalau di Harry Potter, non penyihir disebut mugle…sedangkan di Bartimaeus disebut commoner.

Hanya saja di cerita Bartimaeus rahasia para penyihir adalah perbudakan manusia pada makhluk halus. Jadi, para penyihir ini memanggil, mengikat dan memperbudak para makhluk halus dari Dunia Lain untuk melakukan apa yang jd keinginan mereka.

Kesimpulannya, para makhluk halus itulah yang menciptakan efek-efek hebat bagi penyihir, dan orang biasa melihatnya sebagai kekuatan para penyihir. Budak-budak makhluk halus ini pula yang berperang bagi master-master mereka.

Cerita seperti ini menjadi menarik karena penulis seluruhnya menggunakan sudut pandang 3 tokoh utama tersebut diatas.

Hebatnya, saat berpindah sudut pandang tokoh, benar-benar bisa dilukiskan sesuai sudut pandang tokoh dengan karakter yang berbeda-beda.

John Mandrake yang serius dan ambisius

Kitty Jones yang penuh vitalitas dan memberontak…dan pada saatnya menjadi tokoh yang sedikit apatis…pembaca akan tau perkembangan jiwanya dari sudut pandangnya.

Bartimaeus yang sinis dan merasa hebat.

(Jarang ada cerita fiksi yang saya baca, yang memadukan karakter-karakter negatif seperti ini sebagai tokoh protagonisnya😀 )

Tidak ada kecanggungan Jonathan Stroud sang penulis untuk bercerita model seperti ini. Bahkan tidak ada ciri khas penulis sama sekali dimunculkan disini. Semuanya murni “seolah-olah ” dari sudut pandang tokoh manusianya…bahkan sudut pandang Bartimaeus sang Jin pun diceritakan tidak sama dengan sudut pandang manusia.

Inilah yang paling menarik bagi saya : sewaktu membaca bagian (Bab) yang menceritakan Bartimaeus.

Sudut pandang makhluk halus tentang manusia, serta kondisi umum makhluk halus dari Dunia Lain tentulah tidak sama dengan sudut pandang manusia. Maka tidak jarang terdapat tulisan-tulisan kaki, ini karena Bartimaeus menyadari ketidakkemampuan kita memahami dunianya.

Catatan kaki ini juga berisi sinisme Bartimaeus tentang dunia manusia ini. Juga celetukan-celetukannya.

Akhirnya, saya lebih banyak terpingkal-pingkal saat membaca catatan kaki Bartimaeus daripada ceritanya.

Bartimaeus adalah Jin berusia 5000 tahun. Banyak pengalaman bersejarah di dunia yang dia alami. Yang paling membanggakan baginya adalah saat diajak berbicara dengan Solomon.

Dalam Trilogy ini fakta-fakta, mitos dan kejadian sejarah dipadukan dengan apik.

Seperti Perdana Menteri William Gladstone yang diceritakan sebagai penyihir hebat yang mengembalikan kejayaan Inggris dari cengkraman Kekaisaran Ceko.

Atau rasa malunya Bartimaeus kalau disinggung soal runtuhnya tembok Jericho…karena dialah yang bertugas sebagai pengawas pembangunannya😀

Kemudian, mungkin satu-satunya manusia yang dipercayai Bartimaeus : Ptolemy…tapi bukan Ptolemy yang itu, Ptolemy ini adalah keponakan dari raja Ptolemy….(sudah dikeluhkan di buku, kenapa waktu itu orang-orang Mesir waktu itu suka sekali menggunakan nama yang sama)😀

Tentu saja di trilogi ini diceritakan bagaiman bisa makhluk halus berkekuatan dasyat terkurung di sebuah lampu usang, dan kenapa kadang setelah dibebaskan mereka memberi kesempatan 3 permintaan bagi yang melepaskannya😉

Dan juga mitos-mitos semacam ini, ditulis di Trilogi Bartimaeus.

Begitulah…membaca Bartimaeus, membuat saya penasaran untuk mencari tahu apakah tokoh-tokoh, waktu dan peristiwa di buku ini hanya fantasi atau nyata yang difantasikan.

Trilogi Bartimaeus  ditutup dengan akhir yang luar biasa. Akhir yang pantas bagi kisah luar biasa Bartimaeus, begitu kata New York Post di endorsement-nya.

Dan Trologi Bartimaeus pun menjadi salah satu koleksi favorit saya.🙂

(gambar saya ambil dari sini)

——————————————————————

[Update]

Beberapa tahun kemudian, akhirnya diterbitkan juga prekuel Trilogi Bartimaeus ini. Cincin Solomon (The Ring of Solomon). Cerita Bartimaues di jaman Solomon yang selalu dibangga-banggakannya saat jaman Trilogi Bartimaeus😉

Sama serunya. Sama kocaknya (di bagian sudut pandang Bartimaeus, tentunya).

trilogi bartimaeus dan ring solomon jonathan stroud

Pendapat pribadi tentang novel-novel Jonathan Stroud, penulisnya, empat buku Bartimaeus inilah yang paling kocak dan ngangenin🙂