[Sama seperti Smurf!  ini adalah repost dari blog lama yang domainnya sudah padam]

Mungkin hanya para jenius yang menghasilkan karya orisinal miliknya sendiri. Selain itu, sudah menjadi biasa jika karya seseorang dipengaruhi karya orang lain.

Demikian juga gaya bercerita saya. Sejak dulu beberapa kali mengalami perubahan sesuai dengan penulis yang mempengaruhi saya saat itu.

Terakhir dan mungkin entah sampai kapan, gaya penulisan saya banyak dipengaruhi oleh Adachi Mitsurusensei (orang Jepang biasa memanggil seseorang yang dirasa telah mengajarinya sesuatu dengan sebutan sensei, guru).

Selain beda nasib, kalau Adachi-sensei adalah manga-ka, sementara saya hanya Tukang Cerita (karena emang ndak bisa nggambar sama sekali :p ). 

Sayangnnya, saya terlambat mengikuti komik-komik Adachi-sensei ini. Ini karena ketika baca sekilas komiknya, saya pikir itu adalah Komik Serial-Cantik. Didukung oleh guratan gambar komiknya yang memang seperti serial cantik.

Seperti ini :

Untunglah,

ada dua teman komikers yang menyadarkan saya dan membuat saya insyap untuk membaca komik Adachi Mitsuru.

Serial pertama yang saya baca adalah H2. (gambar diatas adalah tokoh-rokoh utama serial H2).

Sejak membaca seri pertama H2…saya langsung terpukau…kau!

Sepanjang seri 1 sampai tamat di seri 34, H2 membawa emosi saya untuk senang, sedih, deg-degan dan terharu bersama tokoh-tokoh didalamnya.

Ini seperti kata sinkpoint dot com. Saya ndak tau sapa dia, baru saja baca tulisannya waktu cari gambar-gambar pendukung. Tapi dia menggambarkan perasaan pembaca pada umumnya yang membaca komik-komik Adachi-sensei:

Often, his works strike cords of his readers, and anyone reading them will reflect back or look forward to their youth, laughing and crying with his characters (at least I did).

Ada sedikit alasan dari sekian banyak alasan hebat lainnya, yang membuat gaya cerita saya terpengaruh oleh gaya komik Adachi-sensei.

1.Bersih

Gambar yang tidak rumit, tidak banyak Onomatope. Membawa pembaca untuk menikmati rangkaian gambar yang tenang dan nyaman.

2. Jahil

Saya selalu menyukai karya yang membawa penikmatnya mengikuti alur dengan tenang, tapi tiba-tiba masuk kenakalan sang kreator yang menghibur di tengah alur yang tenang itu tadi.

Komik-komik Adachi sering memasukkan hal-hal seperti ini yang memancing saya untuk tertawa.

Salah satunya adalah dengan cara berinteraksi langsung baik dengan tokoh ataupun dengan pihak penerbit komik Adachi (Shonen).

Ini mempengaruhi saya untuk mencoba bercerita dengan sesekali berinteraksi dengan tokoh cerita saya. Meski belum sempurna (karenamasih membingungkan pembaca), saya coba tulis di Obrolan Sore edisi yang itu.

3. Sederhana dan smooth

Tidak banyak aksi selain saat olahraga berlangsung (sebagain besar manga Adachi adalah komik olah raga).

Tidak menggebu-gebu.

Semua diceritakan dengan tenang dan lembut.

sehingga kita tidak sadar, tau-tau sudah sampai ending dari cerita (intinya, tidak sadar kalau baca 34 seri dalam 1 hari saja :D).

Untuk contohnya :

Cerita yang terinspirasi dari dua cerita pendek Adachi-sensei (Short Program) yang olah dengan gaya cerita saya sendiri di : Surat Untuk Gadis jam 5 Sore.

Sekali lagi karena belum sempurna, tentu tidak bisa menggambarkan karya Adachi-sensei. Tapi, kira-kira seperti itu lah, manga-manga Adachi… polos dan smooth.

4. Tidak ada yang benar-benar jahat di Adachi World

Ini menarik.

Tokoh antagonis jelas ada,

tapi cerita bukanlah dari sang tokoh antagonis itu sendiri.

Inti cerita bisa dari olahraga yang ditampilkan, ataupun dari kisah cinta tokoh utamanya.

Maka,

biasanya tokoh-tokoh antagonis di sini adalah tokoh-tokoh yang tidak sepenuhnya jahat. Bisa dikatakan sebagai rival.

Meski di Short Program (kumpulan kisah komik pendek Adachi) seri 3, terlihat sangat “kelam”, meninggalkan ciri khas Adachi yang “cerah”.

Bagi saya, ini menantang.

Membuat cerita dari cerita itu sendiri.

Tidak mengandalkan tokoh antagonis apalagi mengandalkan kecelakaan dan rumah sakit seperti yang selalu diandalkan sinetron2kebanggan kita😉

Meski,

sering juga Adachi “membunuh” tokohnya begitu saja.

Tapi saat itu terjadi..percayalah, pembaca pun ikut merasakan “kehampaan dan kehilangan”.

Ini mungkin karena point 3 (Sederhana dan Smooth) yang membawa pembaca terkekeh-kekeh menikmati alur cerita, tiba-tiba dihantam dengan matinya sang tokoh utama.

5. Silent

Saya pikir, ini yang paling rumit untuk bisa saya adaptasikan (ya ealah, namanya juga Tukang Cerita masak suruh diam)

Seringkali tokoh-tokoh cerita Adachi-sensei saat mendapat aksi, tidak memberikan reaksi. Kecuali hanya diam dan sedikit memberikan ekspresi (mungkin ini juga yang mendukun poin 1: Bersih).

Tap asyiknya, justru dengan diam lah pembaca tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran sang tokoh.

Jika diamnya tokoh itu terlalu misterius, manga-ka satu ini akan memberikan jawabannya di seri-seri berikutnya.

Saya hentikan pembahasan poinnya sampai nomer 5, sebelum jari-jari saya menjadi benar-benar keriting karena mengetik terlalu bersemangat.

Serial terbaru yang masih berlangsung (terbitnya lama) di 2015 ini adalah Mix, yang baru sampai seri 3 yang kocak sangat :

komik mangaka adachi mitsuru

Karena termasuk manga-ka produktif, banyak serial Adachi-sensei yang sudah beredar di Indonesia. Sebagiannya saya baca lewat persewaan, dan ada beberapa seri yang belum sempat saya baca karena sudah keburu menghilang dari peredaran.

Demikian.

Saatnya….