Mari kita mensmurf postingan ini!

Demikianlah bahasa yang biasa digunakan para smurf dalam kesehariannya.

Memang para Smurf  mungil yang setinggi 3 butir apel, memiliki bahasa khas yang sering membingungkan pembaca di awal-awal perkenalannya dengan para Smurf. Akan tetapi, jika sudah terbiasa mengabaikan kata-kata “smurf” di setiap kalimatnya dan memahami maksudnya…jadi menyenangkan mengikuti kisah hidup para Smurf ini🙂

Tokoh rekaan Peyo ini pertama muncul tahun 1958 di kisah Johan dan Pirlouit yang berjudul “Seruling dengan 6 lubang”. Kemudian dikisahkan menjadi komik tersendiri.

Sebagai suku yang jauh dan jarang berinteraksi dengan manusia (kecuali Gargamel, penyihir musuh abadi mereka), para smurf ini bisa diceritakan sebagai model penerapan sistem yang telah ada pada manusia dan diterapkan dari nol oleh para smurf.

Misal :

Judul “Smurf Bendahara”

Sebelumnya, kehidupan para makhluk biru ini ditopang oleh beragam keahlian para smurfnya.

Seperti, semua masakan dimasak oleh Smurf Koki yang mengambil bahannya dari Smurf Petani yang mengambil alat-alat pertaniannya dari Smurf Terampil.

Jadi, saat mereka butuh sesuatu, smurf-smurf ini tinggal minta pada smurf yang memiliki keahlian yang dibutuhkan. Makanya tidak ada alat tukar barang (uang) di desa Smurf. Emas pun dianggap logam tidak berharga bagi mereka, karena emas terlalu lunak dan tidak bisa dijadikan perkakas.

Hingga, suatu hari salah satu smurf itu pergi ke desa manusia dan berkenalan dengan sistem pembayaran manusia berupa uang.

Dimulailah bencana di desa Smurf.

Smurf ini kemudian mencetak uang dan mulai memperkenalkan kapitalisme di desa Smurf. Segalanya diukur dengan uang!

Tidak ada lagi sesuatu yang gratis di desa Smurf.

Muncul smurf kaya dan miskin. Muncul bank smurf.

Smurf Pemalas pun terpaksa harus bekerja untuk mendapatkan makanan yang berujung pada sakitnya dia.

Akhirnya sistem keuangan seperti ini pun runtuh dengan sendirinya, berkat kepolosan para smurf sendiri yang sadar telah membuat kekacauan.

Judul “Smurfuhrer”

Di sini diceritakan kacaunya sistem demokrasi yang dicoba diterapkan seorang smurf untuk mengadakan pemilu saat Papa Smurf sang kepala suku Smurf pergi.

Hasil pemilu demokrasi ini pun berujung pada kediktatoran sang terpilih. Dia mengangkat dirinya sebagai raja (fuhrer) smurf.

Perang saudara pun tidak bisa dihindari.

Tapi seperti biasa, saat salah seorang smurf sadar akan kesalahannya…maka smurf-smurf yang lain pun dengan suka cita memaafkan dan membantunya memberesi kekacauan yang ditimbulkannya.

Judul “Dokter Smurf”

Saat Papa Smurf tergolek sakit dan ada seorang Smurf yang sok tahu jadi dokter, kekacauan pun kembali dimulai. Smurf ini mendirikan rumah sakit, tapi kemudian ada smurf-smurf lain yang merasa bisa juga dalam dunia pengobatan.

Persaingan konyol pun dimulai.

Kekacauan mereda saat Papa Smurf kembali sehat.

Memang Papa Smurf adalah tokoh pengendali segala kekonyolan para Smurf ini🙂

Semua kisah Smurf disajikan dengan jenaka. Menghantar kita secara halus memahami, seperti inilah awal-awal sistem yang manusia terapkan dulu kala hingga terjadi kekacauan masif di dunia manusia ini…hehe..

Sebuah cerita dari perkampungan utopis yang patut disimak.

Apalagi sekarang sudah diterbitkan ulang oleh PT.Elexmedia Computindo, yang sebelumnya diterbitkan oleh PT. Aya Media Pustaka.

gambar diambil dari sini.