Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Kang Guru duduk mengelilingi meja jati bundar termakan usia di teras rumah Cengkir yang berbentuk joglo.

Seperti otomatis, sebagai tuan rumah dan pewaris tempat Obrolan Sore generasi akhir, Cengkir keluar rumah untuk menghidangkan suguhan kopi panas nan kental. Obrolan Sore siap dimulai.

“Anakku Ranto yang lagi merantau di ibu kota, minta aku ngirim beras ke dia. Katanya di sana orang-orang lagi doyan makan beras plastik. Jadi dia susah cari beras beneran di ibu kota. Lha kan yo makin aneh aja kepengenan orang-orang ibu kota itu.” keluh Lik Power sambil mengambil tembakau dari dalam kaleng usang yang selalu tersedia di meja, dan meraciknya menjadi rokok tingwe (linting dewe / sendiri).

“Sebentar Pak Lik, putra njenengan itu kan Pak Kades, to?” potong Cengkir.

Welah, anakku kan ya ndak cuma satu, to Ceng.” sergah Lik Power.

“Oo..”

“Eh, tapi masak ya orang ibu kota suka makan beras plastik?” tanya Kang Guru tidak percaya.

“Woh, jangankan plastik, beton sama aspal aja banyak yang doyan!” sambar Kang Sronto.

“Kalau itu memang sudah dari dulu, Kang Sronto.” ujar Kang Guru. Menyeruput kopi sebelum melanjutkan. “Tapi kan ndak dimakan beneran kayak beras plastik ini. Setahuku sih orang manapun tetep ndak suka makan plastik. Cuman di ibu kota lagi kena gosip beras plastik.”

“Oalah, emang paling aman itu makan beras desa, kok.” kata Kang Sronto manggut-manggut.

Haiyak, apa ya ada beras kota, To, To.” sembur Lik Power.

“Nahitu ada, Pak Lik. Beras kota itu yang dari plastik itu tadi, Pak Lik.” celetuk Cengkir.

Mbahmu, Ceng!” semprot Lik Power.

“Memangnya dari mana to, asal beras plastik ini?” tanya Kang Sronto.

“Kabarnya sih dari Tiongkok sana.” jawab Kang Guru.

“Wuih, China emang keren ya. Apa aja dibikin tiruannya. Dulu motor China yang katanya niru-niru, trus henpon China juga niru-niru. Sekarang beras China niru-niru beras asli tapi pake plastik.” ujar Cengkir sambil cengar-cengir.

“Tapi kan kadang kalo kayak gini, nyusahin, Ceng.” tukas Lik Power.

“Tapi ya, Tiongkok ini kan sudah dikenal dari dulu canggih kalau urusan meniru. Saya melihatnya, itu justru ditangkap oleh Pemerintah Tiongkok. Justru didukung dan dibranding sekalian sama pemerintah sana. ‘Kalau mau tiruan dan murah, ya beli produk kami’. Kayak gitu, kira-kira.” papar Kang Guru.

“Wah, KangGuru pancen oye. Coba ya, kalo di desa kita Carangpedopo ini bisa kayak gitu. Orang-orang sini kan sukanya nyinyiiir.. terus. Liat temennya susah…seneng! Liat temennya seneng…susah! Coba itu bisa dijadikan komoditi ekspor Carangpedopo ini, begitu to, Pak Lik?” celetuk Cengkir.

Lambemu, mulutmu itu dulu yang kudu diekspor, Ceng!” sergah Lik Power.

“Ini pasti konspirasi!” teriak Kang Sronto tiba-tiba, mengagetkan yang lain.

Jilak, ngageti aja!” umpat Lik Power.

“Konspirasi gimana, Kang Sronto?” tanya Kang Guru setelah menyeruput kopinya lagi untuk meredakan kagetnya.

“Lha iya, to. Kemarin-kemarin ini kan kita habis kerjasama sama China, lha kok terus ada isu kayak gini, beras plastik made in China. Besok-besok, mungkin ada lagi barang tiruan mbuh apa ndak berkualitas dari China. Pasti konspirasi ini!” jawab Kang Sronto berapi-api, tak ketinggalan telunjuknya diacung-acungkannya.

Waiki…

“Waini…”

“Nanti bisa dituduh pendukungnya presiden itu lho, Kang Sronto…”

 

[J E D A]

 

“Sebetulnya isu beras plastik ini bisa dimanfaatkan lho.” Juragan Brono angkat bicara, tampaknya karena sudah kenyang jagung rebus.

“Dimanfaatkan gimana, Juragan Brono?” tanya Kang Guru.

“Rame-rame bikin isu, kalo sudah saatnya meningkatkan produksi hasil-hasil bumi kita sendiri. ‘Ndak usah kebanyakan impor hasil bumi, nanti yang datang barangnya dari plastik.’ Gitu kira-kira.” ungkap Juragan Brono, sambil mengelus-elus cincin akik yang sebesar perutnya.

“Betul itu. Petani untung, negeri ini juga untung.” Lik Power mengamini.

“Juragan Brono juga pasti untung.”

“Nahiya to.” angguk Juragan Brono puas.

“Halah, beli beras di desa juga biasanya juga dapetnya beras plastik, to” sanggah Cengkir.

“Lho kok bisa?”

“Nah kalo beli di warung, kalo ndak diplastiki, mau ditaruh mana berasnya?” kata Cengkir.

Hayak…lambemu, Ceng!”

Suara adzan mulai terdengar dari surau desa.

Obrolan Sore dan secangkir kopi pun berakhir.