Sore hari.

Cuaca desa Carangpedopo sedang tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas, kadang panas-panas turun hujan.

Kadang terasa panasnya perseteruan para calon anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kadang hujan duit dari mereka, kadang panas-panasan sambil bagi-bagi duit.

Perwakilan desa sudah terpilih. Hujan duit sudah usai. Hujan hujatan masih masih berhembus. Di tengah suasana inilah, beberapa tokoh pemuja Obrolan Sore kembali mendatangi rumah Cengkir.

Lik Power, Juragan Brono, dan Kang Guru memasuki teras rumah joglo tempat berlangsungnya Obrolan Sore selama beberapa generasi. Mereka duduk melingkar di depan meja jati bundar yang telah usang. Lik Power secara otomatis meracik rokok lintingan yang selalu tersedia di kaleng biskuit bekas di atas meja.

Tidak beberapa lama, seolah mempunyai indra keenam, Cengkir keluar membawa suguhan berupa kopi dan talas rebus. Setelah kopi terbagi, talas tercicipi, Cengkir ikut bergabung, Obrolan Sorepun dimulai.

“Jadi ada dua kandidat calon Kades kali ini, ya?” Kang Guru membuka percakapan.

“Betul, kang Guru. Ki Jagabaya, pensiunan komandan pasukan khusus hansip. Sama, Pak Kades sekarang, putra Lik Power.” jawab Cengkir.

Lik Power dan Juragan Brono manggut-manggut.

“Karena itu mas Roy, putra Kades dan kang Sronto tidak ikut gabung sore ini?” Kang Guru bertanya lebih lanjut.

“Betul, kang Guru. Keduanya itu Bapilu masing-masing calon.” kembali Cengkir menjawab. Seakan teringat sesuatu, Cengkir mengajukan pertanyaan. “Kalau menurut pakem Obrolan Sore, jabatan Kepala Desa Carangpedopo kan turun-temurun diwariskan. Seperti Lik Power mewariskan jabatannya ke putranya yang jadi Kades sekarang. Tapi kok ini ada Pilkades segala?”

Menghisap dan menghembuskan rokoknya dengan nikmat sebelum Lik Power menjawab. “Woh iya harus itu. Ini yang namanya menjalankan pakem Demokrasi.”

“Walau hasilnya sudah jelas siapa pemenangnya.”

“Lha iya, itu juga sesuai pakem, to.”

Lik Power, Cengkir dan Kang Guru manggut-manggut.

“Tapi ndak selamanya gitu, lho. Tukang Cerita Obrolan Sore sering bisa dipengaruhi pakemnya kalau keinginan tokoh-tokoh ceritanya begitu kuat.” sanggah Juragan Brono sang Pengusaha Desa.

“Wah, begitu to Gan.” kata Cengkir takjub.

“Wo iya. Makanya aku ngasih dana ke calon-calon Kades ini, Ceng. Siapapun yang menang, bandar ndak rugi.” terang Juragan Brono sambil terkekeh.

“Tapi tadi pagi Lik Power malah mengeluarkan wacana mau mendukung calon ketiga, Raja Djawa?” sergah kang Guru kebingungan.

“Halah, itu kan cuma buat mecah suara dukungan lawannya anakku.” balas Lik Power santai.

“Aku juga itu yang ngasih dana.” timpal Juragan Brono sambil menggasak talas rebus.

Kang Guru dan Cengkir manggut-manggut.

“Ah tapi sejak pilihan wakil desa kemarin, saya kok sedih ya.”

“Sedih gimana, to Ceng? Bukannya kamu juga kebagian amplop yang harusnya bikin kamu ndak sedih?”

“Bukan itu, Juragan. Kalau itu sih saya prihatin sebetulnya. Tapi lebih dari itu, yang bikin saya ndak nyaman itu hujan hujatannya. Sepertinya semuanya jadi njelek-njelekin orang lain. Malah dari kalangan priyayi yang harusnya ngasih contoh yang santun juga ikut nyebarkan aib lawan-lawannya. Jadi keliatannya orang-orang di desa ini sama sekali ndak ada baik-baiknya sama sekali, gitu lho.”

“Betul itu, Kir. Keliatannya masih jadi budaya kita. Tidak suka kalau melihat orang lain berhasil dan senang kalau lihat orang lain gagal. ” Kang Guru setuju. Kemudian melanjutkan wejangannya. “Daripada sibuk menggali kesalahan orang lain, sebaiknya memang menggali dalam-dalam prestasi kelompok atau orang yang didukungnya… kalau ada.”

“Prestasi diadu dengan prestasi.”

“Kalau ada..”

“Ide lawan ide.”

“Kalau ada…”

Cengkir, Kang Guru, Lik Power, Juragan Brono manggut-manggut.

Adzan Maghrib sejenak meneduhkan hawa panas desa Carangpedopo dari hujan hujatan akibat hajatan politik.

Secangkir kopi dan Obrolan Sorepun berakhir.