…yang lucu.

Begitulah judul lengkapnya. Jadi jelas semua tulisan ini adalah murni dari sudut pandang saya pribadi, tanpa paksaan dan tanpa ditekan-tekan🙂

Mulai bergabung sejak Lokakarya II Gerakan Desa Membangun (GDM) di desa Beji (hiks, link tulisan saya tentang ini belum bisa terecovery). Selanjutnya saya langsung jatuh cinta pada gerakan yang lucu ini😀

Gerakan Desa Membangun (GDM)

Mengambil istilah Andy MSE yang selalu beliau sabdakan. Sependek yang saya tahu dan sepanjang yang saya punya selama lebih kurang 1,5 tahun berada di GDM, apa yang ada di sudut pandang saya adalah :

Berawal dari keinginan desa untuk menjadi lebih mandiri dan bermartabat sehingga memiliki posisi tawar.

Tidak dipungkiri, stigma desa adalah untuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan. Keterbelakangan, kemiskinan, ketidakberdayaan.

Takdir kemudian mempertemukan desa dengan para pegiat TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi…lengkap ya, tidak hanya sekedar komputer🙂 ). Sehingga pilihan logis yang dapat dilakukan sebagai langkah awal adalah membuat desa bersuara.

Sejarah yang masih berjalan kemudian berlanjut membawa konsep awal ini menuju daerah ratusan kilometer dari desa penggagas. Konsep ini diterima baik di wilayah Banyumas, Jawa Tengah.

Selanjutnya, mungkin karena tipikal Banyumas yang cablaka (apa adanya),terbuka dan egaliter, kultivar (wis kaya mantan mahasiswa pertanian, ra?) ide ini tersebar dan berkembang subur menjadi sebuah gerakan desa (mampu) membangun dirinya sendiri.

Juga (mungkin) ditambah banyaknya “penabuh gendang” di Banyumas, gerakan ini perlahan tapi pasti semakin kencang tersuarakan.

Lucunya, 1,5 tahun berjalan, secara kolektif masih disepakati bahwa gerakan ini masih bukan merupakan organisasi. Iya, jadi GDM sampai sekarang tidak punya struktur organisasi, termasuk tidak ada Ketua GDM.

Sial bagi mereka para opurtunis sejati yang ingin mendulang emas dari GDM. Emas dari mana? Lembaga yang berniat memberi bantuan tentu harus berpikir dua kali memberikan bantuannya kepada gerakan tanpa organisasi apalagi bantuan hukum seperti ini🙂

Lebih sial bagi mereka para pendamping yang harus selalu kalang kabut untuk tetap menjaga kestabilan dalam negeri rumahtangganya. Dan selalu menghadapi ancaman tidak boleh lagi pulang ke rumah (mbwahaha…modaro, bro! 😆 >

Demikian sekilas review sebuah gerakan sosial dari desa untuk desa.

Berikutnya, gerakan ini telah menjadi semakin berkembang, banyak yang kemudian ikut terlibat. Saya coba untuk merangkum dan mencoba menyampaikan sudut pandang dengan lebih ceria🙂

  1. Beragam Kepentingan
  2. Kualitas Konten
  3. GDM Tak Hanya Teknologi
  4. Posisioning

1. Beragam Kepentingan

Hingga sekarang GDM bersifat terbuka. Karena ciri khas bangsa ini adalah semangat gotong royong. Harapannya adalah siapa dengan kemampuan apa bisa turut membantu secara sukarela gerakan sosial ini.

Melibatkan desa, terbuka dan bukan merupakan organisasi menjadikan GDM magnet bagi banyak elemen GDM magnet bagi banyak elemens.

Beragam caranya.
Ada yang akhirnya setia menempel mendampingi desa hingga kini,
Ada yang model kondangan, setelah muncul trus selesai,
Ada yang berharap mendulang suara,
Bahkan ada yang cuma nampang foto saja:mrgreen:

Lucunya (lagi), sejak awal telah disepakati oleh desa-desa itu sendiri :

semakin banyak yang mengklaim gerakan ini miliknya, itu berarti gerakan ini semakin diterima oleh banyak pihak

Contoh skenario lucu yang terbayang di benak saya adalah :
Misal GDM ini diklaim dan terkesan milik legislator partai merah. Trus legislator partai kuning juga diterima bantuannya oleh desa. Begitu sadar, mereka terus blingsatan sendiri di gedung-gedung nyaman legislatif sana…😀

Jadi bagi para pemuja konspirasi, tak perlulah sakit hati dengan pihak-pihak yang dianggap memanfaatkan GDM. Berkacalah pada sifat legawa-nya desa. Menerima semua bantuan untuk kepentingan desa tanpa kecurigaan yang berlebihan, dan biarkan para pemberi bantuan itu bertemu batunya jika bantuan itu hanya mengejar maksud keduniawian… (jyah bahasanya)

Bagi para penolak bantuan, juga bisa berkaca pada desa. Bahwa hidup di desa itu gotong-royong saling membantu dan tidak bisa hidup sendiri.

Bagi para pengharap bantuan… maaf ye, bantuan-bantuan itu untuk kepentingan desa yang didapatkan dengan desa bekerja keras dan cerdas menyuarakan desanya.

Intinya dan pada prakteknya, desa sudah cukup cerdas untuk tidak mau dimanfaatkan begitu saja🙂

(plis ah…jangan seperti “orang kota” yang mikir desa gampang dimanfaatkan gitu ah)

2. Kualitas Konten

(bersambung ke : “Gerakan Desa Membangun : Sebuah Sudut Pandang (bagian 2)“)