kerjasama media mainstream dengan media lokal
Media Indonesia 24 April 2013

Baiklah, sebelum menjadi sesuatu yang meresahkan, disepakati terlebih dahulu, di sini yang dimaksud “Media Arus Utama (Mainstream)” adalah media-media bermerk dengan modal yang besar.

Semoga dapat diterima semua pihak🙂

Saatnya bercerita.

Cerita ini dimulai, dahulu kala, ketika saya mengikuti “Forum Discussion Group” (FGD) yang diselenggarakan oleh Internet Sehat .

Kegiatan yang diadakan di House of Eva dan IDC Jakarta ini sudah berlangsung nyaris setahun lalu (7-8 Juli 2012). Tema FGD kali ini adalah “Kebebasan Berekspresi di Internet”.

NAH!

(kaget?)

Nah, dalam diskusi kelompok yang saya ikuti, membahas sub-tema (lupa tepatnya), “jurnalisme warga dengan media mainstream”.

Inti dari diskusi kelompok ini adalah perimbangan pewartaan jurnalis warga melalui media internet dengan media mainstream dengan segala kemampuan media yang mereka miliki.

Waktu itu mas Yossy Suparyo , menodong saya untuk bercerita pengalaman kawan-kawan desa di Banyumas dalam mengarusutamakan kabar desanya.

Karena kaget, tidak siap, plonga-plongo, kampungan dan grogi di tengah kelompok jagoan “onliners” nasional, saya cuma menjawab :

  • eeh… (panjang)
  • di Banyumas, teman-teman Gerakan Desa Membangun (GDM) menjalin kerjasama dengan media mainstream lokal. Baik cetak maupun radio untuk membantu memancarluaskan berita desa yang sedang membangun dirinya sendiri ini.

Sungguh, itu jawaban asal njeplak. Karena waktu itu kerjasamanya baru 1-2 kali.

Alhamdulillah, dalam waktu (nyaris) setahun sejak FGD tersebut, kerjasama desa dengan jurnalis mainstream semakin intens. Bahkan kabar desa-desa ini semakin sering masuk media nasional.

(Makanya baru berani nulis sekarang😀 )

Memang langkah awal GDM ini adalah mengarusutamakan potensi desa kepada dunia melalui seluruh saluran media yang bisa dimanfaatkan. Tujuannya jelas, potensi desa dikenal, komoditas potensi desa lebih banyak keluar dibandingkan barang konsumsi yang masuk ke desa, desa menjadi berdaya.

Pertama, Desa-desa di Banyumas ini membiasakan diri memanfaatkan internet untuk memberitakan tentang desa mereka sendiri. Satu desa satu website telah dikelola swadaya oleh desa sendiri selama satu tahun ini. Selain itu, desa juga memanfaatkan sarana sosial media (facebook, twitter) untuk mempercepat pengabaran desa di dunia maya sekaligus untuk berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas.

partner media mainstream dan ciizen journalism
Selain koran, desa juga memanfaatkan radio dan TV di Banyumas

Langkah-langkah dan materi yang menyegarkan seperti itu, ternyata menarik perhatian jurnalis mainstream. Angin segar ini semakin berhembus ketika terbentuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Persiapan Purwokerto (26 Januari 2013 ).

Bahkan sejak acara dideklarasikan, AJI Purwokerto sudah di”bully” desa karena belum punya (akun) twitter apalagi web:mrgreen:

Tapi setelah punya akun twitter (@ajikotapwt) dan dibantu pembuatan websitenya  oleh tim pendukung GDM , khas wartawan, update-nya langsung melesat cepat🙂

Giliran tim pedukung GDM yang tinggal santai meretwit-retwit berita dari AJI Kota Purwokerto😀

Sebagai imbal baliknya, ada teman wartawan (sebut saja Kumbang), dengan pancingan kata kunci #mancingmania, terpancing untuk datang ke desa… dan ternyata sampai lokasi dianiaya untuk sharing keahliannya kepada para pewarta desa:mrgreen:

partner media mainstream dengan citizen journalism
Pembuka tahun 2013 di halaman 16, Kompas 2 Januari

Dari pengalaman setahun bersama pewarta profesional ini, saya pribadi mengambil poin :

* Media mainstream bukanlah tandingan dan juga bukan lawan tanding
Bagaimanapun juga saat ini pewarta warga belum bisa menandingi media-media dengan modal besar. Tapi jika terlalu anti (media) mainstream juga tidak terlalu menguntungkan.
Mending berteman saja. Akan lebih menyenangkan jika media arus utama ini menjadi pemancarluas berita kita🙂

* Potensi lokal
Ternyata jika dikemas dalam berita yang menarik, potensi lokal akan menjadi “lebih bersuara” di dunia luas. Media mainstream lokal (dan berikutnya nasional) ternyata dengan senang hati mengabarkan potensi lokal pada medianya.

Berikutnya, dengan difeedback atau disuarakan kembali oleh komunitas online setempat, akan menjadi gaung berkelanjutan dalam mengarusutamakan potensi di daerah.

partner media mainstream dengan citizen journalism
Satelit Pos, 29 Januari 2013

Hal itu  akan mempercepat kabar tentang daerah kita tersiar secara luas. Sebagai pengimbang berita yang terpusat dari ibu kota.

Demikian. Semoga tetap semangat memanfaatkan segala saluran media untuk memainstreamkan potensi di daerah masing-masing🙂