Sore hari.

Gawat.

Rumah Cengkir didatangi dan dikepung anak buah Ki Jagabaya, dari kesatuan Jagabayan. Kesatuan yang bertugas melindungi desa Carangpedopo dari tindak jahat para bromocorah.

Anggota Jagabayan ini mencari Kang Sronto. Menurut Jagabayan, tindak-tanduk Kang Sronto ini sudah merongrong kewibawaan Jagabayan.

Tidak bisa dibiarkan.

Dua kompi Jagabayan dikerahkan untuk menjemput Kang Sronto di rumah Cengkir yang juga sebagai markas KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman).

Maka, suasana sore lengas di penghujung musim kemarau terasa mencekam di rumah Cengkir. Gemetar, Cengkir hanya bisa menyilakan para anggota Jagabayan yang berbadan tegap dan bersenjatakan pentungan mengkilap. Kang Sronto belum datang, kata Cengkir pucat-pasi.

Para Jagabayan, menunggu untuk menyergap Kang Sronto si pembelot. Kang Sronto memang sebelumnya pernah dinas di kesatuan Jagabayan. Tapi sejak bertugas di KPK (Kaur Pemberantas Kedzoliman), Kang Sronto malah ngobrak-abrik kedaulatan Jagabayan. Kang Sronto berani menyeret DS (Dikun Susilo), sesepuh Jagabayan, dalam kasus pengadaan simulator dokar (delman).

Rumah Cengkir diduduki pasukan Jagabayan. Cengkir tersandera.

Entah dari mana asal mulanya, mendadak suasana sore yang teregang tegang ini dipecahkan oleh titir (kentongan). Suara titir sahut menyahut dari rumah-rumah warga desa Carangpedopo.

Tidak menunggu lama, gelombang warga Carangpedopo berdatangan ke rumah Cengkir. Gelombang pertama hanyalah sekelompok kecil warga. Kemudian gelombang kedatangan warga semakin besar.

Dua kompi Jagabayan berhadapan dengan warga desa Carangpedopo yang semakin menyemut.

Jagabayan vs Warga.

Ngeri.

Cengkir hanya terdiam gemetar di pojok serambi rumahnya.

Seperti benang yang teregang dan tinggal menunggu waktu untuk putus. Seperti itu pula suasana saat ini di rumah Cengkir.

Beruntung, krisis ini tidak menjadi tragedi. Rombongan Lik Power, Kang Guru, Juragan Brono dan Mas Roy menenangkan dan membubarkan massa kedua belah pihak.

Setelah keriuhan mereda.

Lik Power, Kang Guru, Juragan Brono, dan Mas Roy menghempaskan diri, duduk di kursi anyaman plastik yang melingkari meja bundar dari kayu jati usang di teras rumah Cengkir. Semua menghela napas lega. Satu lagi krisis di Carangpedopo bisa diatasi.

Obrolan Sore-pun bisa dimulai.

“Tapi sebelumnya. Buatke kopi dulu ya, Kir.” perintah Lik Power.

Cengkir yang sedari tadi masih terdiam-tergugu di pojok teras joglo rumahnya, tergeragap. Dia segera masuk, membuatkan kopi untuk para Pemuja Obrolan Sore.

“Ini tidak bisa dibiarkan terus seperti ini. Kepala Desa harus turun tangan.” kata Kang Guru yang juga sebagai Kaur (Kepala Urusan) Pemberantas Kedzoliman.

“Bagaimana menurutmu, Gan?” tanya Lik Power kepada Juragan Brono.

“Lho, jangan tanya saya. Saya no komen aja. Lha wong saya ini masih suka pake jasa Jagabayan buat ngawal bisnis saya, je.” kilah Juragan Brono sang pebisnis desa Carangpedopo.

“Menurut Pak Lik, gimana ini? Pak Lik tentu bisa mendorong Pak Kades, putra Pak Lik untuk segera menangani krisis ini.” bujuk Kang Guru. Tak ingin warga desa menjadi korban konflik para elit desa.

“Aah…kejadian kayak gini ndak usah dibesar-besarkan. Kades juga ndak perlu laporan ke para tetua desa.” elak Lik Power.

“Mungkin mas Roy bisa meminta bapak untuk segera bertindak?” Kang Guru mengalihkan sasaran ke putra mahkota desa Carangpedopo.

“Pasti, pasti. Kepala Desa pasti akan turun tangan. Sekarang beliau pasti sedang menunggu laporan lengkap dari semua pihak.” jawab Mas Roy pasti.

Cengkir bergabung sembari membagikan segelas kopi kental kepada para tamu Obrolan Sore. Kemudian Cengkir ikut bergabung.

“Kapan Kepala Desa akan memberikan pidatonya?” Kang Guru melanjutkan pertanyaannya.

“Jangan-jangan cuma diam saja, seperti biasa.” celetuk Cengkir.

“Enggak kok. Pasti bicara.” bela Mas Roy.

“Kalo ndak ngomong?” tanya Cengkir.

“Ya, ndak tau.” jawab mas Roy.

“Padahal dulu pas kasus video artis desa Gudriel pak Kades pidato, lho.”

“Itu kan karena bentuk solidaritas sesama pencipta lagu…eh, pokoknya nanti senin Bapak akan pidato di depan warga desa.”

“Lama sekali. Kenapa harus menunggu hari Senin?” tuntut Kang Guru.

“Eh, itu…nganu…” Mas Roy gelagapan. Mas Roy merasa sudah keceplosan.

“Aha, aku tahu!” seru Cengkir bak iklan susu pintar untuk anak. Tak lupa sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Kemudian melanjutkan. “Aku tahu kenapa Senen. Soalnya Pak Kades tidak mau menyusahkan warga. Biar warga desa bisa menonton Pak Kades dengan Paket Hemat di hari Senen.”

“Emangnya bioskop!” seru Mas Roy.

“Pokoknya, kita tunggu saja bagaimana tanggapan Bapak.” lanjut Mas Roy.

“Tapi, bagaimana kalau keadaan ini menjadi semakin buruk?” keluh Kang Guru.

“Kita berdoa saja tidak demikian.” kata Lik Power datar.

Hening.

Sore sudah sampai penghujung hari. Gerombolan kelelawar suram mulai menggantikan burung yang ceria.

“Kepala Desa Carangpedopo sebenernya ada, ndak sih? Jangan-jangan Tukang Ceritanya sampai sekarang belum memikirkan tokohnya.” tanya Cengkir.

eh, iya…nganu…pasti sudah lah.” Tukang Cerita geragapan.

Adzan Maghrib mulai berkumandang di mushola desa. Menyiramkan seteguk kedamaian. Obrolan Sore dan secangkir kopi pun berakhir.

“Oii…sudah dipikirkan kok…”