Lanjutan dari bagian Pertama yang bisa dibaca di sini.

Empat tahun yang mengesankan di kota yang terkenal dengan objek wisata dataran tingginya ini. Tukang Cerita harus berpisah dengan kedua orang tua. Tukang Cerita-pun tinggal berdua dengan nenek di kota pesisir utara Pulau Jawa.

Rumah nenek berada di tengah kota. Berada di tepi jalan raya, tidak banyak halaman untuk bermain bebas di sini.

Beruntung, ada teman satu kelas Tukang Cerita yang memiliki halaman luas. Rosantika namanya, bulat-gemuk anaknya. Tapi pintar dalam pelajaran dan jago bermacam olah-raga. Sebuah alasan bagus buat Tukang Cerita untuk sesering mungkin mengayuh sepeda mininya ke rumah Rosantika dengan alasan, belajar bersama!

Jadilah, di halaman belakang rumah Rosantika yang luas lagi rindang, beserta anak-anak “pelarian” yang lain kita melakukan beragam permainan seru,

Sepak bola,

Gobag-sodor,

Bola basket,

Tarzan-tarzanan bergelantungan di tali untuk melompati sungai kecil yang berbatasan dengan halaman belakang,

Seluncuran dengan pelepah kelapa ( kalau Takita pernah melihat film Laskar Pelangi, ada adegan seluncuran dengan pelepah kelapa ini )

Selain itu, Tukang Cerita dan pasukannya juga gemar bersepeda ke lubuk air yang di sana disebut sendang Sani. Hal mendebarkan dari mandi di sendang Sani ini adalah cerita-cerita bahwa masih ada biawak yang berkeliaran di sekitar sendang ( kadal besar seperti komodo tapi dengan ukuran yang lebih kecil…meski begitu, tetap saja itu adalah kadal berukuran mendebarkan ).

Seru-seruan terus, kapan belajarnya? Kan pamitnya mau belajar bersama Rosantika?

Oh iya, meski kelihatannya membiarkan anaknya bermain-main, tapi orang tua Rosantika ketat dalam mengatur jadwal belajar. Jadi, Tukang Cerita dan kawan-kawan ikut jadwal belajar Rosantika. Dan terbukti grup belajar ini memiliki prestasi yang tidak begitu mengecewakan. Meski tentu saja, Rosantika yang paling unggul diantara mereka.

hmm…bagus, bagus…oke silakan dilanjut

Baik.

Ada juga pengalaman seru lainnya. Ketika itu jalur kereta api Surabaya – Semarang lewat pantai utara belum ditutup. Rel kereta melintas dekat rumah nenek Tukang Cerita. Pernah suatu hari, Tukang Cerita dibonceng Paman menelusuri rel kereta. Motor Paman menelusuri tengah-tengah rel (diantara rel).

Benar saja, dari belakang muncul kereta api. Dibunyikannya klakson kereta kencang-kencang. Dilarikannya motor Paman cepat-cepat. Tapi belum juga keluar dari rel. Hingga ketika sampai perempatan markas TNI, dibelokanlah motor itu, keluar rel. Meninggalkan seruan marah dari masinis di belakang kami.

Wuihh…seru sekali, seperti film action!

Iya, tapi waktu itu Tukang Cerita hanya terdiam-pucat ketakutan sampai tidak bisa bergerak.

Euh…

Semua cerita seru-seruan di luar, tidak menghindarkan Tukang Cerita dari rasa kesepian saat kembali hanya berdua di rumah nenek. Rasa sepi ini kemudian terobati karena ternyata ada persewaan buku dan komik tidak jauh dari rumah nenek. Dengan bantuan bibi pemilik losmen depan rumah, Tukang Cerita bisa mendaftar menjadi anggota persewaan buku itu.

Saat itu Tukang Cerita sudah bisa membaca,jadi tidak perlu merepotkan nenek lagi untuk membacakan cerita.

Hanya saja ada sedikit masalah kecil di sini. Karena sudah bisa membaca sendiri itulah kemudian Nenek merasa khawatir Tukang Cerita akan terlalu asyik membaca buku cerita dan melupakan buku pelajaran. Nenekpun memberlakukan larangan membaca cerita selain di akhir pekan.

Oh tidak.

Godaan cerita-cerita dari seluruh dunia itu begitu manis. Apalagi adik nenek sering membawakan buku cerita dari perpustakaan SMP tempatnya mengajar.

Selanjutnya dapat ditebak. Tukang Cerita mengerahkan segala upaya untuk dapat membaca cerita kapan saja,

Menyelunduplan buku cerita di balik kaos dan membacanya di WC,

Menaruh buku cerita di balik buku pelajaran yang kemudian ketahuan dan dapat marah besar,

Minta ijin menyiram kebun kelompok di sekolah, yang meski itu memang ada tapi sudah terbengkalai, Tukang Cerita membaca di sana.

Kemudian, saat kelas lima SD, Tukang Cerita mendapat tantangan misterius untuk berpetualang ke pulau Sumatera sendirian!

Mungkin suatu saat kalau Takita bertemu dengan Tukang Cerita, dia akan menceritakan siapa Tuan Misterius yang menantangnya .

Petualangan Tukang Cerita di tanah Sumatera dimulai dari liburan panjang saat kelas lima SD. Berkali-kali hampir setiap libur panjang kenaikan kelas.

Sendirian menikmati hembusan angin selat Sunda yang seringnya dilalui saat malam hari. Meski pernah sekali Tukang Cerita menikmati pengalaman luar penyeberangan dengan kapal Ferry saat sore hari.

Tukang Cerita untuk pertama kalinya melihat ikan-ikan terbang berlompatan di samping kapal. Tukang Cerita juga sempat sepasang lumba-lumba ketika dia pindah ke haluan kapal.

Pulau Sumatera ketika dilalui melalui jalur darat ( Tukang Cerita belum mendapatkan keberuntungan untuk melaluinya lewat jalur udara atau laut ), begitu berbeda dengan Pulau Jawa. Begitu mengesankan.

Oke, mungkin ada satu yang menyebalkan. Yaitu ketika bis yang dinaiki Tukang Cerita berhenti di restoran, setiap waktu makan tiba. Mungkin karena masih kelas lima SD dan terlihat masih kecil, Tukang Cerita tidak kunjung dilayani. Meski sudah memanggil berkali-kali pelayan yang berlalu-lalang di dekat Tukang Cerita.

Ketika akhirnya dilayani, nasi tambahan yang biasanya disertakan jika orang dewasa yang memesan, tidak diberikan di meja Tukang Cerita. Bagi Tukang Cerita yang meski baru kelas lima SD, porsi satu mangkuk nasi tidaklah cukup. Saat meminta tambah nasi, kembali para pelayan ini seolah tidak melihat keberadaan Tukang Cerita. Akibatnya, rasa lapar dengan cepat menyergap di saat masih jauh dari waktu makan berikutnya.

Ini tidak terjadi cuma sekali. Tapi setiap kali ketika berhenti makan.

Tukang Cerita melakukan serangan balasan, dan karena memang bekal uang yang dibawa tidaklah banyak. Karena ciri khas rumah makan Padang adalah menyajikan semua menu ke meja pelanggan dalam piring-piring kecil, maka biaya yang dihitung adalah piring-piring yang kosong. Menyadari itu, Tukang Cerita kecil hanya mengambil kuah lauknya, kemudian mengambil dua atau tiga udang goreng dan satu lauk yang sekiranya murah. Ngirit!

hoho…menarik, tapi sepertinya harus dihentikan menceritakan kebengalan Tukang Cerita nih. Kuatir kalau Takita kena pengaruh buruk Tukang Cerita!

Ups, maaf. Baiklah.

Petualangan Tukang Cerita di bumi Sumatera mengantarnya pada pengalaman,

Menikmati sore yang indah di jembatan Ampera, Palembang (tempat kak Nike ),

Menjelajahi ranah Minang : Bukittinggi yang bersejarah; Pantai Padang yang romantis; Lembah Anai yang menawan; Danau Singkarak; Danau Maninjau dengan kelok ampek-ampek (44 tikungan tajam); Danau Di Atas – Danau Di Bawah; Panorama Tabek Patah di Tanah Datar yang menawan, Istana Pagaruyung yang terkenal di Batusangkar. Hingga Pantai Aia Manih yang melegenda dengan relief Malin Kundang-nya.

Menyusuri sungai Batanghari di Muara Tebo, Jambi. Gemetar ketika berpapasan dengan perahu yang lebih besar yang menyebabkan perahu kecil Tukang Cerita seakan terpelanting. Sampai menyusuri jalan darat ke pelosok Sarolangun Bangko, Jambi.

Cerita petualangan Tukang Cerita juga mengantarnya menyusuri keindahan pantai selatan Sumatera di wilayah Bengkulu hingga Pantai Panjang kota Bengkulu. Danau “Dendam Tak Sudah” di Bengkulu Utara, tak luput dari kunjungan Tukang Cerita.

Demikianlah sebagian besar cerita dari Dunia Tukang Cerita. Seru, ya?๐Ÿ™‚

Masih banyak cerita-cerita seru dari Tukang Cerita. Tapi kakak cukupkan sampai di sini dulu, ya.

Kakak harap Takita tidak berhenti untuk bercerita. Tidak berhenti cerewet minta Ayah-Bunda bercerita untuk Takita.

Karena dengan cerita, kita tidak takut kesepian. Tokoh-tokoh cerita akan menemani kita kemanapun kita berada, dalam duka maupun suka.

Karena dengan cerita, keberanian bisa tumbuh dan terpelihara dengan benar. Alih-alih direbut PS yang terlalu banyak, sinetron dan lagu-lagu cinta yang belum waktunya.

Karena dengan cerita, kita seakan-akan bisa berada di pesisir selatan Pulau Jawa, bisa berada di tengah Pulau Jawa dikejar-kejar anjing dan kalkun, bisa berada di Sumatera…seperti Tukang Cerita yang bisa berada di mana-mana dengan beragam cerita๐Ÿ˜‰

Jangan berhenti bercerita…untuk Takita…untuk anak Indonesia.

Sila baca cerita bagian pertama di sini.