Saya membaca surat Takita dari ID tweet @bukik sang pegiat IDCerita.

Membaca dan membayangkan surat polos dari Takita (ikon IDCerita) seorang anak yang memimpikan Ayah-Bundanya bercerita setiap malam menjelang tidurnya, itu sangat menyentuh.

Untuk itu, kakak mau ikut bercerita, ya. Cerita tentang Dunia Tukang Cerita!

Semoga Takita suka…dan jangan bobo dulu sebelum selesai ceritanya ya ^_^ :

Lahir di pesisir pantai selatan Pulau Jawa, seorang Ayah nyentrik memberikan nama Tukang Cerita pada bayi laki-laki yang baru lahir ini.

Meski cuma tiga tahun sejak lahir tinggal di kota yang terkenal dengan pasir besinya, Tukang Cerita masih bisa mengingat beberapa pengalaman seru di sana.

Setiap sore, Tukang Cerita selalu minta kakak sepupu untuk dibonceng ke pantai. Anehnya, Tukang Cerita takut kena gelombang air laut di pantai. Jadinya, Tukang Cerita selalu minta gendong ketika bermain air laut ( Tukang Cerita sudah curang dari kecil ya😀 )

Hingga suatu hari, Ayah Tukang Cerita yang tegas menceburkannya ke air laut di pinggir pantai. Tentu saja Tukang Cerita menangis, tapi sejak itu dia tidak takut lagi untuk bermain bersama ombak di pantai.

Sehabis dari pantai, biasanya Tukang Cerita minta mampir ke stasiun kereta api. Mengagumi kereta api uap yang waktu itu masih beroperasi. Biasa disebut sepur kluthuk.

Hitam-besar lokomotifnya berbentuk tabung. Cerobong asapnya selalu menyemburkan uap putih. Kereta ini selalu mendesis-desis seperti ular. Dan yang paling mengerikan, adalah saat sepur kluthuk ini hendak berangkat. Suara klaksonnya begitu kencang, kemudian diikuti dengan dengusan besar saat kereta mengeluarkan uapnya yang menyembur dari roda-roda lokomotifnya. Saat ini Tukang Cerita kecil melompat ke dalam gendongan sepupu sambil gemetar ketakutan. Meski begitu, Tukang Cerita tidak pernah jera untuk selalu melihat kereta api uap di stasiun.

Selain itu, pengalaman yang diingat Tukang Cerita adalah ketika Tukang Cerita ikut anak-anak tetangga yang lebih besar umurnya, jalan-jalan keliling kota. Bukan jalan-jalannya yang diingat, tapi pengalaman Tukang Cerita mau saja dibujuk teman-temannya untuk mengunyah permen karet yang dipungut di jalan.

hahaha…ampuun… Takita jangan meniru ini ya! 😀

Umur empat tahun Tukang Cerita pindah ke tengah Pulau Jawa. Kota berhawa dingin di kaki dua gunung. Rumah Tukang Cerita berhalaman sangat luas. Sehingga bisa untuk dua kolam ikan, satu kolam hias, satu lapangan bola voli, sepetak kebun, dan sepetak taman bunga.

Memiliki halaman seluas itu, membuat masa kecil Tukang Cerita puas bermain di luar rumah.

Membuat rakit di kolam ikan,

Membuat benteng dan bermain perang-perangan dengan peluru tanah liat di kebun,

Memancing menggunakan lidi yang dibuat setengah lingkaran dan menariknya ketika ikan-ikan mas yang gemuk terperangkap lidi di kolam hias,

…dan yang paling mendebarkan adalah setiap bulan purnama penuh, bersama dengan anak-anak tetangga bermain petak umpet di pemakaman samping lapangan bola voli.

Wow!

Selain pengalaman bermain yang asyik itu, Tukang Cerita juga mulai berkenalan dengan dunia yang menakjubkan. Yaitu dunia buku dan film.

Dua kakak Tukang Cerita sering meminjam komik dari persewaan buku. Tentu saja Tukang Cerita waktu itu belum bisa membaca. Tapi melihat gambar-gambar berwarna dari komik-komik eropa itu, Tukang Cerita asyik merangkai ceritanya sendiri.

Tidak heran jika Tukang Cerita sangat senang ketika nenek datang. Karena hanya neneklah yang mau membacakan komik dan cerita-cerita lainnya menjelang Tukang Cerita tidur. Meski nenek seringnya tertidur duluan, tapi Tukang Cerita selalu membangunkannya.

wohoho…Takita tidak boleh begitu ya. Hormati yang bercerita dengan ikut tidur ^_^

Pengalaman berikutnya, adalah film serial animasi Jepang. Hanya saja, waktu itu tidak mudah seperti sekarang untuk menonton anime jepang. Tukang Cerita harus patungan untuk menyewa kaset videonya dan menonton beramai-ramai di rumah yang memiliki pemutar video.

Kondisi seperti itu pastinya membuat acara nonton video tidak bisa dilakukan setiap hari. Tapi karena itulah apa yang ditonton punya waktu untuk diingat-ingat dan berkhayal menjadi para jagoan sampai berhari-hari.

Dari situlah Tukang Cerita punya kebiasaan unik. Yaitu ketika ditengah-tengah khayalannya ibunda menyuruh untuk makan, Tukang Cerita selalu menjawab,

“Nanti. Menyelesaikan ceritanya dulu.”

aneh ya, padahal jagoannya nggak akan lari kemana kalaupun ditinggal makan dulu🙂

Belum habis dengan pengalaman-pengalaman seru itu, Tukang Cerita juga punya dua peliharaan yang tidak kalah ajaib. Adalah anjing yang bernama “timang” dan seekor kalkun. Ajaibnya adalah kedua hewan ini selalu mengejar-ngejar Tukang Cerita yang ketakutan. Tapi ketika Tukang Cerita jatuh, kedua hewan ini berhenti dan cuma memandang diam untuk kemudian mengejar lagi kalau Tukang Cerita berdiri dan berlari lagi.

Benar-benar seperti kartun ya😀

(bersambung)

Sila baca Dunia Tukang Cerita untuk Takita (bagian 2)