lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas

Menyusul Lokakarya Desa Membangun IV di desa Dawuhan Wetan, kecamatan Kedungbanteng yang diselenggarakan Mei silam, dua bulan kemudian Lokakarya ke V diadakan di desa Dawuhan, kecamatan Banyumas.

Selama setengah tahun sudah lima kali diadakan lokakarya, terkesan sangat agresif (bahasa gaulnya : selo tenan :D) . Tapi begitulah kenyataannya. Sejak ditularkan di desa Melung (Banyumas, Jawa Tengah) sebagai desa kedua setelah sukses di desa Mandalamekar (Tasikmalaya, Jawa Barat), desa-desa lain di wilayah Banyumas ternyata menyambut dengan antusias.

Maka tidak mengherankan jika Gerakan Desa Membangun (GDM) berkembang secara agresif di kabupaten Banyumas. Dalam kurun waktu 6 bulan sudah lebih dari 30 desa di wilayah Banyumas yang tertarik bergabung di GDM.

Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gerakan sosial yang berintikan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efesiensi pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan ekonomi kreatif desa.

Bermuara dari tujuan tersebut, meski ini adalah gerakan sosial, GDM telah menjadi magnet banyak elemen masyarakat.

Mengaplikasikan budaya gotong-royong, semua berkontribusi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Jadi, praktis tidak ada dana besar yang beredar di GDM, selain uang bensin yang ditanggung masing-masing pegiat dan kadang sedikit camilan yang ditanggung dengan saweran.

Dengan kondisi dan semangat egaliter gotong-royong seperti itulah, banyak pihak tertarik untuk berperan-serta dalam GDM.

Semangat GDM memberikan fokus kepada beberapa pihak. Termasuk Blogger Banyumas yang kini memiliki fokus untuk turut serta membantu mengabarkan desa kepada dunia.

Blogger Banyumas mendorong lahirnya blogger -blogger dari desa. Sehingga salah satu blogger senior (baca: sepuh :D), Suryaden memunculkan istilah blogger DemIT (blogger Desa Melek IT).

Mungkin semangat itu juga yang dirasakan pejabat-pejabat yang biasa nyaman berkantor di ibu kota, secara rela untuk blusukan ke desa-desa. Bahkan sampai ke pelosok Mandalamekar , Tasikmalaya.

Menariknya, kunjungan-kunjungan pejabat pusat ini bersifat incognito tanpa kawalan meriah seperti biasanya. Bahkan, seperti saat di Festival Jadul, kehadiran pejabat-pejabat tingkat pusat ini tidak diketahui oleh para pemangku jabatan tingkat daerah saat menghadiri lokakarya di desa Dawuhan, Banyumas ini.

Uniknya lagi, kedatangan para pejabat yang biasa dihormati dengan berlebihan ini, ketika bergabung dengan GDM, tetap diperlakukan sama dengan yang lain. Saling mengejek dan “menganiaya” seperti kawan lama🙂

lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas bersama budiman sudjatmiko
Para pegiat GDM dari desa secara kasual bersama legislator

Ini menandakan, ketika pemerintah daerah tidak memberikan respon perubahan didaerahnya, sementara gerakan perubahan itu secara konsisten terus dilakukan, terbukti bisa menembus ruang-ruang birokrasi di tingkat pemerintahan pusat.

Selain itu, momentum hingar-bingar pemberitaan desa-desa membangun ini di berbagai media, juga bisa dimanfaatkan desa-desa lain yang telah melakukan gerakan serupa untuk sounding kegiatannya.

Gerakan Desa Membangun memang tidak mengkhawatirkan gerakan-gerakan untuk membantu desa sebagai pesaing. Terlalu naif kalau sampai berpikir seperti itu. Gerakan Desa Membangun juga tidak mengkhawatirkan klaim-klaim pihak tertentu untuk kepentingannya. Menurut kang Yossy Suparyo, salah satu pegiat GDM,

Semakin banyak yang meng-klaim gerakan desa membangun, berarti konsep gerakan ini semakin banyak diterima oleh berbagai pihak.

Begitulah, selain kegiatan dan konsep-konsepnya, GDM menjadi magnet banyak elemen karena intisari kegiatan ini adalah di desa. Sedangkan desa-desa di wilayah Banyumas memiliki pesona yang memikat. Seperti para pegiat online yang terpikat saat mengikuti acara Juguran Blogger Banyumas yang diselenggarakan di desa Kedungbanteng dan desa Baseh, kecamatan Kedungbanteng, Banyumas.

Begitu juga Lokakarya Desa Membangun V di desa wisata cagar budaya, Dawuhan Banyumas. Sebagai desa budaya, Dawuhan Banyumas menawarkan ragam wisata religi ke makam-makam pendahulu kabupaten Banyumas.

Kondisi seperti itulah yang diangkat sebagai tema lokakarya GDM kali ini. Sehingga muncul istilah Nyadran 2.0 DedemIT (Desa-desa Melek IT).

Berikut beberapa gambar yang dapat menceritakan lokakarya GDM kali ini :

panorama desa dawuhan banyumas
Panorama gerbang masuk desa Dawuhan Banyumas
lokakarya desa membangun dawuhan banyumas
Sharing ilmu dari desa untuk desa
kelas lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas
Kelas portal desa yang dimaterikan oleh pewarta desa sendiri untuk rekan-rekan desa yang lain
kelas open source lokakarya desa membangun di dawuhan banyumas
Kelas open source dari mahasiswa untuk desa
relawan tik di lokakarya desa membangun desa dawuhan banyumas
Relawan TIK juga tertarik untuk melantik relawan-relawan dari desa
nyadran di lokakarya desa membangun dawuhan banyumas
Gempita TIK perdesaan yang tidak tercabut dari budaya lokal dalam Nyadran 2.0

Tentu saja, semua daya tarik tersebut tidak lengkap jika melupakan satu ciri makanan khas Banyumas, mendoan. Menembus dingin, beberapa peserta lokakarya rela turun dari lokasi acara di pendopo Kalibening, Dawuhan Banyumas ke kecamatan Banyumas untuk secangkir kopi dan sebongkah mendoan🙂

kopi dan mendoan di lokakarya desa membangun dawuhan banyumas
Para Pencari Mendoan🙂
mendoan banyumas
…dan akhirnya tersaji mendoan yang terkenal itu

Demikian. Semoga tulisan ini bisa sedikit menjelaskan daya tarik Gerakan Desa Membangun yang sudah berjalan 6 bulan lebih tanpa gelontoran dana dan perhatian pemerintah daerah, tapi masih bersemangat sampai sekarang 🙂

*beberapa foto diambil dari facebook dan blog Suryaden*