Sore hari.

Lik Power, Juragan Brono, Kang Sronto dan Mas Roy, telah duduk mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia.

Para pemuja Obrolan Sore kali ini menunjukkan ekspresi berdeba-beda.

Mas Roy terlihat segar. Rambut yang terlihat mengilap dan selalu basah. Wajah berseri. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan putri kaur Kesra Desa Carangpedopo. Senandung lagu romantis terlantun dari bibir Mas Roy.

Berbeda dengan Mas Roy sang Putra Mahkota Desa Carangpedopo,

Juragan Brono duduk sambil sesekali mengaduh kesakitan. Separuh wajahnya terlihat membengkak merah-kebiruan. Bibir Juragan Brono yang memang sudah tebal, semakin terlihat tak tertahankan, menggelembung mengerikan. Mata kirinya semakin tidak terlihat karena pipinya seolah baru saja disuntik silikon.

Disebelah Juragan Brono, duduk Kang Sronto duduk gelisah sambil melihat kalender yang dia copot dari dinding teras milik tuan rumah yang sudah beberapa generasi menjadi tempat berlangsungnya Obrolan Sore. Mulut Kang Sronto komat-kamit melakukan perhitungan, jemarinya pun ikut membantu perhitungannya.

Hanya Juragan Brono yang duduk tenang sambil meracik rokok kemenyan yang memang selalu ada di atas meja tua dihadapannya. Bentuk suguhan kehangatan kecil dari tuan rumah.

Cengkir keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan dengan kopi hitam kental diatasnya. Suguhan hangat dari tuan rumah.

Tidak mau kalah dengan para tamunya, kali ini terlihat ada yang berbeda juga pada diri Cengkir. Kulit sawo matang Cengkir, jadi tampak mengkilat. Keluar dengan bertelanjang dada, celana pendek warna-warninya ditutup dengan kain lebar warna cerah ala Hawaii. Semua penampilan ajaib itu dilengkapi rambut Cengkir yang digimbal bak penyanyi rastafaria. Saat ini Cengkir terlihat seperti surfer kesasar.

“Dari mana aja kamu ini, to Ceng? Lama ndak keliatan, datang-datang dandanmu seperti turis aja.” tanya Lik Power tidak bisa menahan keheranannya lebih lama.

Cengkir hanya cengar-cengir. Melanjutkan membagi kopi kepada para pemuja Obrolan Sore. Kemudian duduk, sebelum menjawab. “Habis dari Bali, Pak Lik…hehe.”

Jilak, gimana critanya kamu bisa ke mBali?” tanya Lik Power semakin takjub.

“Kemaren dulu saya dapat undangan ke mBali buat ketemu dengan perwakilan desa-desa lainnya. Uenak lho, Pak Lik. Saya dibayari naik motor mabur. Naik pesawat!” jelas Cengkir sumringah.

“Haiyak, gayamu Ceng, Cengkir. Orang ndesa sepertimu ndak pantes sama sekali naik pesawat!” tukas Lik Power.

“Wah bener, je Pak Lik. Karena saya pikir di mBali nanti disuruh ngarit (menyabit rumput), saya bawa arit (sabit) di dalam tas. Jilak, saya langsung diamankan dan ditanyai macem-macem.” kata Cengkir polos.

“Nah to. Kamu ini bukannya bikin harum nama desa Carangpedopo, malah bikin malu aja!” kata Lik Power sewot. Menghirup kopinya sebelum melanjutkan. “Kalo mau jadi warga desa internasional itu ya harus antri dulu.”

“Weh, kudu antri dulu gimana to, Pak Lik?” tanya Cengkir heran.

“Ya harus antri. Harus gaya jadi orang kota dulu, baru gaya jadi orang internasional. Lha ini yang orang ndesa yang pake gaya kekota-kotaan aja belum pada diakui jadi warga internasional je. Kamu kok yang kere langsung munggah bale, yang ndesa kere langsung jadi warga internasional.” terang Lik Power panjang lebar.

“Walah, Pak Lik. Namanya juga ora ndesa seperti saya ini mana bisa mikir yang susah-susah kayak gitu. Saya ini cuman diundang, trus sampai mBali juga cuman seneng-seneng, guyon-guyub sama warga desa yang lain. Seneng bisa nambah teman, itu aja.” balas Cengkir apa adanya.

“Wah, pantes saja, kamu ndak keliatan ngantri mengucapkan selamat atas pernikahanku, Ceng.” kata Mas Roy sambil tersenyum. Sebuah tuntutan halus dan kembali mengingatkan kepada hadirin bahwa dia adalah pengantin baru.

“Wah, iya. Maaf nggih, Kang Mas. Soalnya ada undangan untuk mengenalkan desa Carangpedopo pada wakil desa-desa manca.” kata Cengkir tulus.

Kemudian, Cengkir seolah teringat sesuatu.Cengkir bertanya. “Tapi waktu Sultan mantu, rakyat beramai-ramai setor hasil bumi dengan sukarela. Trus, orang-orang yang dagang di sekitar keraton juga pada nggratiskan jualannya dengan ikhlas. Kenapa waktu Mas Roy manten, ndak ada semua itu? Malah katanya, yang jual diusir, ndak boleh deket-deket dengan tempat mantennya Mas Roy.”

“Wajar itu, Ceng. Biar semua yang antri buat ngasih ucapan selamat merasa lega dan tidak terganggu.” jawab Mas Roy sang putra mahkota desa Carangpedopo, lugas dan jumawa.

“Ooo…” Cengkir manggut-manggut.

“Lha iya, to. Kalau tidak dibegitukan, lihat, seperti Juragan Brono ini. Antri hp mahal, panitia tidak siap. Kaget kalau ternyata orang-orang kaya itu sama brutalnya seperti rakyat jelata.” kata Mas Roy membela diri, mengalihkan perhatian.

 “Memangnya Juragan Brono ikut-ikutan ngantri hp itu kenapa, to? Bukannya hp Juragan Brono itu sudah buanyak, dan semuanya canggih-canggih dan mahal?” tanya Cengkir tak habis pikir.

 “Bukan soal harganya, Ceng…haduh…duh..” erang kesakitan Juragan Brono sambil memegangi bibirnya yang masih menggembung. Dengan bersusah-payah, Juragan Brono bertekad melanjutkan. “Tapi kebanggaan termasuk yang punya pertama kali di dunia.”

 “Tapi trus nyaris jadi tumbal pertama di dunia buat hp itu. Eh tapi, Gan… kalo misalnya dapet hp itu, trus berapa bulan kemudian, orang masih inget nggak ya, kalo hp yang Juragan Brono punya itu termasuk yang pertama didapat?” tanya Cengkir dengan nada paling polos sedunia.

 “Haduuh…haduuh…duuh” Juragan Brono langsung mengerang kesakitan, menghindari memberikan jawaban.

 Hening.

 Semua perhatian tertuju pada Kang Sronto yang sejak awal masih saja komat-kamit berhitung sembari melihat kalender.

 “Kang Sronto ini lagi ngapain, to? Dari tadi kok sibuk ngitung-itung terus. Mau pasang togel lagi? Pake teknologi telematika saya bisa menghitung dengan akurat, lho Kang.” tanya sekaligus tawar Mas Roy dengan senyum ja’imnya.

 Kang Sronto mendongak. Dengan wajah serius, Kang Sronto berkata takzim. “Sebentar lagi 2012, lho.”

 “Memangnya kenapa, Kang? Mau kiamat?” tanya Mas Roy khawatir. Kalau beneran kiamat, dia baru merasakan enak sebentar dong. Tidak rela.

 “Weh. Ya jangan kiamat dulu. Maksudku. Sebentar lagi 2012 itu berarti saya antrinya tinggal dua tahun lagi. Jadi harus mulai siap-siap.” balas Kang Sronto.

 “Antri apa to, Kang? Kok tinggal dua tahun lagi.” tanya Mas Roy. Sekarang malah jadi bingung.

 “Antri jadi Kepala Desa. Kan dua tahun lagi Pilkades.” jawab Kang Sronto lugas.

 “Lho.”

 “Lho.”

 “Lho…aduuhh..”

 “Lho. Kamu ini gimana, to Kang Sronto? Kita semua kan tau kalau jabatan Kades di desa Carangpedopo ini diwariskan turun temurun. Jadi yang antri jadi Kades berikutnya itu ya Mas Roy, cucuku ini.” Lik Power angkat bicara.

“Kalau itu Kang Sronto pasti tahu, Pak Lik. Tapi di desa Carangpedopo ini kan siapa yang berani ikut antri audisi jadi Kades, meski ndak jadi Kades sesudahnya mesti dapet jabatan.” kata Cengkir mengambil alih jawaban Kang Sronto.

 Kang Sronto mengangguk-angguk menyetujui.

 Juragan Brono jadi tertarik berhitung.

 Lik Power dan Mas Roy menghela napas. Bertambah lagi orang-orang yang harus diajak kompromi di kemudian hari.

 Warna jingga langit sore semakin menghitam. Suara adzan mulai terdengar dari surau desa. Obrolan Sore dan secangkir kopi pun berakhir.