Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto
Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto

Ramadhan telah berlalu, tapi ada salah satu hal yang membuat saya tidak sabar untuk menanti Ramadhan berikutnya. Yaitu kegiatan itikaf 10 hari terakhir di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto #senyum (maaf, emot senyum di wordpress.com lebih menggambarkan seringai daripada senyum, jadi mending pake hastag senyum aja ^_^ )

Sejak tahun 2004 saya mengikuti kegiatan ini. Minus 2 kali karena sekali birrul walidayyin dan sekali ubuddunya (see? inilah kosakata alumni itikaf Fatima…khukhu #mukateduh).

Sebelum menceritakan kegiatan itikaf, saya ingin bercerita masjidnya lebih dulu.

Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto


Masjid yang berada di kawasan kampus Jenderal Soedirman (Jl. Gunung Muria, Grendeng  – Purwokerto Utara) merupakan tanah wakaf dari Abu Sofi. Seluas 9.600 m2 diwakafkan untuk komplek masjid Fatimatuzzahra (Mafaza).

Cukup luas untuk bangunan induk masjid (1800 m2) dengan daya tampung 2.500 jamaah (fully booked setiap shalat Jumat).

Sholat Jumat  Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto
Sholat Jumat Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto.

Gambar dan beberapa data fisik berikutnya diambil dari sini

Juga untuk bangunan-bangunan penunjang lainnya. Seperti :

*Gedung Serba Guna (GSG, 640 m2), yang berisi :

>Lantai I

  • Poliklinik
  • Mini Market
  • SATSA (Pusat Pengembangan Bahasa Asing)
  • Pemancar Radio
  • Ruang Tamu

>Lantai II

  • Ruang Sekretariat
  • Auditorium
  • BKAM (Bina Keluarga, Anak dan Muallaf)
  • LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh)
  • MTC (Mafaza Training Center)
  • Ruang Perpustakaan
  • Gudang

Disamping GSG ada bangunan Pesantren Mahasiswa (Pesma). Gratis, dapat makan dan seterusnya, karena santri-santrinya juga sekaligus jadi takmir Mafaza. Tapi syarat masukknya juga lumayan berat…seenggaknya, kalau saya nekat daftar bakal langsung gugur di pendaftaran😀

Selain Pesma juga ada saung-saung tempat Taman Bermain Islam Fatimatuzzahra (TBIF, semacam PAUD dengan konsep sekolah di alam terbuka).

Tanah yang tersisa dimanfaatkan untuk :

  • Rumah Imam
  • Perumahan Ustadz
  • Pesantren Mahasiswa
  • Tempat tinggal untuk Pegawai Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto

Apalah arti tanah luas, fasilitas lengkap dan masjid yang gedhe magrong-magrong, jika didalamnya sepi dengan kegiatan. Tapi inilah yang membuat “iri” kepada pewakaf Mafaza ini, tidak hanya sebatas itu, seluruh komplek Mafaza ini selalu diramaikan oleh berbagai kegiatan ibadah maupun sosial.

Shalat jamaah 5 waktunya pun tidak pernah sepi dari jamaat. Begitu “hidup”.

Puncak ramaianya kegiatan adalah di bulan Ramadhan. Beragam acara digelar untuk menghidupkan Ramadhan, salah satunya yang rutin dilaksanakan adalah :

Itikaf Masjid Fatimatuzzahra

Pertama kali mengikuti acara untuk menghidupkan 10 hari terakhir Ramadhan pada tahun 2004. Saat itu dikenakan biaya Rp. 20 ribu untuk biaya hidup (makan, snack, minuman hangat) selama 10 hari. Tahun berikutnya turun menjadi Rp. 10 ribu. Tahun berikutnya tidak dipungut biaya karena ada donatur tetap…tahun berikutnya peserta dibayar #eh …setelah itu tanpa dipungut biaya hingga sekarang.

Dengan asumsi peserta full time menginap di Mafaza selama i’tikaf, berikut agenda rutin harian Itikaf Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto :

Pukul 09.00 – Dzuhur

Kajian dhuha

Ba’da Dzhuhur

Ibadah
pribadi.

Dimanfaatkan untuk
istirahat; mencuci; tadarrus; ngobrol (baca : diskusi) dengan kenalan baru sesama peserta itikaf.

Ba’da Ashar

Ibadah
pribadi.

Dimanfaatkan untuk bersih
diri (mandi, dst)

Pukul 16.30 – Maghrib

Kajian menjelang buka puasa

Maghrib

Buka bersama (gratis) untuk
300 orang + peserta itikaf (biasanya, sekitar 300 orang juga)

Ba’da Isya

Teraweh pasti.

8 raka’at ganti imam. Jamaah yang ikut 11 rakaat tetap ditempat,
yang ikut 21 mundur (istirahat).

Setelah 11, imam yang pertama kembali mengimami hingga rakaat 21.

Sehingga 1 shalat tarawih
bisa menyelesaikan 1 juz.

Ba’da Terawih

Ibadah
Pribadi.

Dimanfaatkan untuk tadarrus;
shalat; tidur.

Pukul 01.00 – 01.30

Dibangunkan

Pukul 02.00

Shalat malam berjamaah 8 rakaat + 3 (witir)

Pukul 03.15 – Shubuh

Selesai shalat langsung
sahur

Ba’da Shubuh

Kajian Subuh

Pukul 06.00 – 06.30

Belajar Tahsin

Pukul 06.30 – 09.00

Ibadah
pribadi

Tadarrus; shalat dhuha; mandi

Nah, sekarang cerita-ceritanya :

Biasanya, Itikaf Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto diikuti sekitar 250 peserta pria dan 50-an peserta wanita. Sebagian ada yang stay full day di Mafaza. Sebagian lagi ada yang kembali datang setiap hari ketika segala urusannya telah selesai.

Peserta datang dari berbagai daerah sekitar Banyumas. Mulai dari anak-anak hingga kesepuhan.

Bahkan kemarin ada 1 keluarga yang mudik ke Mandiraja (masuk wilayah Banjarnegara, ya?), dari Bekasi. Membawa 6 putra-putrinya mengikuti itikaf ini. Putrinya yang paling kecil berumur 2,5 tahun tampak asyik aja ikut acara ini.

Lucu dan menyenangkan melihat kakaknya persis dari si bungsu yang 2,5 tahun tadi, saat membaca Iqro’ di waktu2 tadarrus. Lagaknya : melipat separo iqro’-nya, mengangkat di depan wajah, dan membaca lantang…kalau dilihat dari jauh, bak ibu-ibu yang serius.😀

peserta Itikaf Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto

Para peserta itikaf mulai berdatangan pada sore tanggal 21 Ramadhan, setelah menaruh barang bawaan di lantai 2 masjid, langsung turun untuk mengikuti Kajian Menjelang Buka. Kajian tersebut langsung berlanjut dengan buka bersama gratis yang telah menjadi agenda rutin sejak awal Ramadhan untuk 300 orang + kemudian 300 peserta Itikaf.

Awal ikut i’tikaf tahun 2004 dulu, saya bersama dengan 1 partner dari kosan yang kemudian berkenalan dengan 1 peserta itikaf  yang terhitung kakak angkatan beda Fakultas. Karena merasa klop, sejak itu kita berkomitmen untuk mengikuti itikaf tiap tahun (termasuk juga sepakat waktu 2 kali absen).

Jadilah kita 3 idiots itikaf Mafaza😀

Maka, kita juga punya agenda rutin sendiri. Tiap selesai maghrib, kita bertiga segera hinggap di warung kopi terdekat untuk menyuntikkan dopping berupa segelas kopi hitam kental untuk menghadapi separo juz di teraweh 8 rekaat.

Kita tau diri kok, pernah nyoba ikut yang 21 rekaat…well,uhm, mungkin butuh 1 gelas kopi lagi:mrgreen:

Setelah terawih… 3 idiot ini cari dopping lagi + makan besar lagi😆

Sambil diskusi seru tentang suatu masalah dengan hujjah : “katanya…”; “pernah baca…”😀

Sayang, tahun ini 1 partner berhalangan hadir karena adik kandungnya di Rumah Sakit…semoga diberikan kesembuhan, brotha…aamiin… (worship)

Setelah “isi bensin” kedua tersebut, bertiga kembali ke Mafaza, ibadah pribadi, istirahat (tidur) sebentar sebelum dibangunkan untuk persiapan shalat malam 8 + 3 rakaat (witir).

Karena terawih sebelumnya, saya ikut 11 rekaat termasuk shalat witir, sementara shalat malam berjamaahnya juga 8+3 (witir). Sedangkan ada dalil yang menganjurkan untuk tidak meninggalkan imam. Maka, mengikuti anjuran beberapa ustadz di sini, saya genapkan dulu dengan shalat 1 rekaat. Kemudian tetap mengikuti seluruh rakaat shalat malam berjamaahnya.

Dua atau tiga tahun ini ada seorang ustadz yang baru datang dari Tanah Haram (asli Indonesia). Imam Mafaza sebelumnya juga lulusan Mekkah. Hanya saja, ustadz yang baru datang ini konsentrasi studinya ke tahsin/tartili Qur’an.

Sehingga, sesuai urutan yang menjadi imam shalat adalah yang paling indah bacaannya. Jadilah ustadz yang baru datang tersebut menjadi imam utama Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto (itu pandangan pribadi saya, karena toh imam sebelumnya terkadang masih mengimami, hanya frekuensi lebih jarang. Bisa dikoreksi).

Masih pendapat pribadi, keindahan dan kejernihan bacaan Qur’annya bisa mengurangi kantuk saat shalat (karena memang sudah seperti trademark Mafaza, bacaan imamnya panjang-panjang) #senyum.

(suasana ketika shalat malam berjamaah)

Tahun-tahun sebelumnya, shalat malam dimulai maksimal pukul 01.30. Sehingga selesai shalat masih ada waktu untuk membentuk halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) untuk tadarrus Qur’an beserta artinya. Yaitu dengan membentuk lingkaran-lingkaran kecil, masing-masing membaca 1 ayat, kemudian panitia pendamping membacakan terjemahannya.

Tapi tahun ini, shalat malam dimulai pukul 02.00. Selesai shalat waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 atau tak jarang 03.25. Sehingga peserta i’tikaf langsung diberi hidangan susu-jahe hangat, sepiring kurma untuk 1 kelompok, dan nasi bungkus untuk santap sahur.

suasana sahur itikaf masjid Fatimatuzzahra Purwokerto
suasana sahur

Setelah shalat subuh, masuklah pada etape yang berat. Yaitu, menjaga mata tetap terbuka ketika mengikuti kajian ba’da subuh ^_^.

Jika berhasil melewati dengan baik, setelah itu saatnya kajian yang dinanti. Belajar tahsin yang diampu imam Mafaza. Mengikuti “kelas” ini, seakan semua bacaan saya sejak kecil salah semua😀

Berikutnya,
Shalat untuk menutup rangkaian ibadah sejak subuh — tidur sebentar — mandi — shalat dhuha — kajian dhuha– dan lengkaplah 1 rangkaian kegiatan itikaf untuk 1 hari — untuk kemudian diulang hingga akhir Ramadhan…atau sesuai kesanggupan #senyum

Sedikit yang meringankan, sekarang sekitaran Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto bertebaran jasa laundry. Jadi, urusan mencuci sekarang (kalau mau) bisa dengan mudah “dilemparkan” saja ke penyedia jasa cucian tersebut ^_^

Rintangannya, silakan memperhatikan gambar berikut :

suasana dalam Masjid Fatimatuzzahra

Gambar di atas, saya ambil dari sisi selatan masjid. Sisi selatan ini sama terbukanya (tanpa penutup/tembok) dengan sisi utara masjid yang tampak pada gambar. Terlihat los begitu saja.

Filosofinya sih, masjid ini terbuka dan menerima dari kalangan mana saja. Bagi dari yang bergambar bumi, matahari, bulan kapas, bendera hitam silakan saja. Selama bermunajat pada Allah dan taat pada Rasul-Nya.

Saya rasakan filosofi itu cukup berhasil di sini. Bahkan di banyak masjid yang ada di Banyumas/Purwokerto, termasuk di masjid Agung Purwokerto. Suasana seperti ini juga yang membuat saya merasa nyaman untuk tinggal di sini… #senyum

Kembali ke topik.

Model bangunan masjid yang los tanpa penghalang di kedua sisinya, sementara masjidnya sendiri cukup luas. Dampak yang ditimbulkan adalah hembusan angin yang kencang.

Begitulah. Tahun-tahun sebelumnya, meski angin berhembus kencang tapi hawa dingin masih dapat tertahankan.

Tapi tahun ini,
angin jarang berhembus, tapi hawa dinginnya seakan mengiris kulit.

Jika dulu saat shalat sunnah (terawih ataupun qiyamulail) sering-sering mencuci muka karena ngantuk, sekarang untuk ke toiletpun enggan rasanya😀

Meski begitu, hamparan lantai marmer putih yang dingin itulah yang, setidaknya 3 idiots ini selalu rindukan saat memasuki bulan suci Ramadhan.

Mana mau 3 orang mantan preman ini kalah semangat dengan 2 tunas ini ;)  :

peserta cilik itikaf Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto