Hantaran

Setelah menempatkan induk sapi dan anaknya yang baru lahir di shelter, rombongan Pro Fauna ikut bersama pasukan Kopassus mengantar Mbah Pono kembali ke posko pengungsiannya. Kedua kambing Mbah Pono juga ikut. Alasan Mbah Pono tidak ingin  meninggalkan peliharannya di shelter adalah,

“Saya masih bisa nyarikan makan buat mereka, kok.”

Lagi-lagi Mbah Pono tidak ingin merepotkan orang lain.

“Lagian, rumput di lapangan bola stadionnya kan ijo-ijo, seger-seger.” sambung Mbah Pono.

Waduh.

“Guyon, guyoon (becanda, becandaaa…)”  kata Mbah Pono geli melihat wajah-wajah yang menganggap kata-katanya tadi dengan serius.

Semua tertawa.

Rombongan ceria itu pun sampai di posko utama pengungsian Merapi. Kehadiran Mbah Pono disambut meriah oleh orang-orang di blok tempat Mbah Pono tinggal di pengungsian. Semua berseru senang dan lega, Mbah Pono mereka datang dengan selamat beserta dua kambingnya. Salah seorang dari mereka ada yang mengalungkan radio portable yang tampaknya ditinggalkan Mbah Pono sewaktu menjemput kambingnya. Pro Fauna dan pasukan Kopassus pun ikut larut dalam kebahagiaan ini.

Tukang Cerita melihat itu semua dalam diam sambil tersenyum senang. Melihat dari pinggir kerumunan bahagia itu. Kemudian perhatiannya tertarik pada seorang gadis yang ikut terharu menyeka matanya dengan jilbab lebarnya yang berwarna ungu. Jelas seorang relawati. Mungkin juga seorang perawat, mengingat dia keluar dari tenda putih besar bertuliskan Rumah Sakit Daerah tempat Tukang Cerita tinggal sebelum ke Jogja. Bukan itu yang membuat Tukang Cerita tertarik memperhatikannya, tapi karena di mata Tukang Cerita, wajah bulat itu seolah memancarkan terang sinar rembulan. Bercahaya yang meneduhkan.

Intuisi wanita. Merasa ada yang memperhatikan, Gadis-Wajah-Rembulan itu menoleh ke arah Tukang Cerita. Tertangkap basah, Tukang Cerita hanya mampu melemparkan senyum-kikuk. Gadis-Wajah-Rembulan membalas dengan senyum yang terasa bisa melambungkan Tukang Cerita ke atas Merapi. Bak robot, Tukang Cerita mengangguk kaku. Kemudian membalikkan badan, melangkah ke arah mobil Pro Fauna. Tidak baik merusak keindahan ciptaan Tuhan.

“Tunggu! Mau langsung pulang?” tahan Gadis-Wajah-Rembulan.

Bahkan mungkin penjaga gerbang Istana Buckingham kalah kaku dibanding Tukang Cerita. Gadis-Wajah-Rembulan bicara padanya! Tukang Cerita tidak bisa bereaksi. Dia hanya bisa diam.

“Kalau mau, kita lagi nyiapin bubur buat sarapan.” tawar Gadis-Wajah-Rembulan.

“Siap! Tidak jadi langsung pulang!” jawab Tukang Cerita sepasti Kopassus. Bahkan dia yakin pasti bisa makan bubur yang ditawarkan. Walau sehari-harinya Tukang Cerita sama sekali tidak bisa menelan makanan jenis bubur.

Yah, tapi lebih mungkin kesediaan itu karena memang Tukang Cerita lemah terhadap tawaran makan.

“Eh?” tanya Gadis-Wajah-Rembulan.

“Ah enggak. Nggak pa-pa. Abaikan aja narasi di atas.”

Demikianlah. Ketika kesulitan melanda, rasa kasih kepada alam, rasa kepada makhluk lain, rasa kasih kepada sesama, muncul dan terjalin karena hasil tempaan perasaan yang senasib seperjuangan. Bersama-sama mempertahankan hidup dan kehidupan.

T A M A T

**Part-part yang lain :

Iklan