Beranda > Cerita Tukang Cerita > Merapi’s Call part 5

Merapi’s Call part 5

Hantaran

Setelah menempatkan induk sapi dan anaknya yang baru lahir di shelter, rombongan Pro Fauna ikut bersama pasukan Kopassus mengantar Mbah Pono kembali ke posko pengungsiannya. Kedua kambing Mbah Pono juga ikut. Alasan Mbah Pono tidak ingin  meninggalkan peliharannya di shelter adalah,

“Saya masih bisa nyarikan makan buat mereka, kok.”

Lagi-lagi Mbah Pono tidak ingin merepotkan orang lain.

“Lagian, rumput di lapangan bola stadionnya kan ijo-ijo, seger-seger.” sambung Mbah Pono.

Waduh.

“Guyon, guyoon (becanda, becandaaa…)”  kata Mbah Pono geli melihat wajah-wajah yang menganggap kata-katanya tadi dengan serius.

Semua tertawa.

Rombongan ceria itu pun sampai di posko utama pengungsian Merapi. Kehadiran Mbah Pono disambut meriah oleh orang-orang di blok tempat Mbah Pono tinggal di pengungsian. Semua berseru senang dan lega, Mbah Pono mereka datang dengan selamat beserta dua kambingnya. Salah seorang dari mereka ada yang mengalungkan radio portable yang tampaknya ditinggalkan Mbah Pono sewaktu menjemput kambingnya. Pro Fauna dan pasukan Kopassus pun ikut larut dalam kebahagiaan ini.

Tukang Cerita melihat itu semua dalam diam sambil tersenyum senang. Melihat dari pinggir kerumunan bahagia itu. Kemudian perhatiannya tertarik pada seorang gadis yang ikut terharu menyeka matanya dengan jilbab lebarnya yang berwarna ungu. Jelas seorang relawati. Mungkin juga seorang perawat, mengingat dia keluar dari tenda putih besar bertuliskan Rumah Sakit Daerah tempat Tukang Cerita tinggal sebelum ke Jogja. Bukan itu yang membuat Tukang Cerita tertarik memperhatikannya, tapi karena di mata Tukang Cerita, wajah bulat itu seolah memancarkan terang sinar rembulan. Bercahaya yang meneduhkan.

Intuisi wanita. Merasa ada yang memperhatikan, Gadis-Wajah-Rembulan itu menoleh ke arah Tukang Cerita. Tertangkap basah, Tukang Cerita hanya mampu melemparkan senyum-kikuk. Gadis-Wajah-Rembulan membalas dengan senyum yang terasa bisa melambungkan Tukang Cerita ke atas Merapi. Bak robot, Tukang Cerita mengangguk kaku. Kemudian membalikkan badan, melangkah ke arah mobil Pro Fauna. Tidak baik merusak keindahan ciptaan Tuhan.

“Tunggu! Mau langsung pulang?” tahan Gadis-Wajah-Rembulan.

Bahkan mungkin penjaga gerbang Istana Buckingham kalah kaku dibanding Tukang Cerita. Gadis-Wajah-Rembulan bicara padanya! Tukang Cerita tidak bisa bereaksi. Dia hanya bisa diam.

“Kalau mau, kita lagi nyiapin bubur buat sarapan.” tawar Gadis-Wajah-Rembulan.

“Siap! Tidak jadi langsung pulang!” jawab Tukang Cerita sepasti Kopassus. Bahkan dia yakin pasti bisa makan bubur yang ditawarkan. Walau sehari-harinya Tukang Cerita sama sekali tidak bisa menelan makanan jenis bubur.

Yah, tapi lebih mungkin kesediaan itu karena memang Tukang Cerita lemah terhadap tawaran makan.

“Eh?” tanya Gadis-Wajah-Rembulan.

“Ah enggak. Nggak pa-pa. Abaikan aja narasi di atas.”

Demikianlah. Ketika kesulitan melanda, rasa kasih kepada alam, rasa kepada makhluk lain, rasa kasih kepada sesama, muncul dan terjalin karena hasil tempaan perasaan yang senasib seperjuangan. Bersama-sama mempertahankan hidup dan kehidupan.

T A M A T

**Part-part yang lain :

About these ads
  1. April 21, 2011 pukul 9:56 am | #1

    lemah terhadap tawaran makan apa si gadis berwajah rembulan *terang benderang donk*…xixixi

  2. April 22, 2011 pukul 12:30 am | #2

    g sengaja lihat blog ini, kalao saya g salah ingat mbak Anaz tuh cerita kalau Tukang cerita itu blog nya di blogspot… kk saya bisa nyasar kesini….

    dan lemah terhadap tawaran makan itu kalimat yang paling aku ingat…..

  3. ANI
    April 23, 2011 pukul 9:27 pm | #3

    Wew, udah tamat to bang? Menarik sekali membaca kisahnya, terutama si gadis rembulan.

  4. April 23, 2011 pukul 9:35 pm | #4

    Salam buwat GR bos, Gadis Rembulane :D

  5. April 23, 2011 pukul 10:24 pm | #5

    terima kasih tukang cerita…telah mengingatkanku utk bersyukur & teruuus… bersyukur :)

  6. April 23, 2011 pukul 11:19 pm | #6

    dah tamat yah masss?
    Alhamdulillah…. :)

  7. April 24, 2011 pukul 11:47 am | #7

    Perlu baca dari awal nih

  8. April 24, 2011 pukul 11:58 pm | #8

    tukang cerita kok banyak sih?

    • April 26, 2011 pukul 10:19 am | #9

      Mas Suryaden, kisah tukang cerita dikirimnya terakhir, jadi nggak terkirim di imel Mas Suryaden

  9. April 24, 2011 pukul 11:59 pm | #10

    manteb mas, besok tukang ceritanya mbok sambil mbakso ya :D

  10. April 25, 2011 pukul 3:34 pm | #11

    Ho..ho…kalau tukang cerita tidak dapat menelan makanan jenis bubur, masa sih he..he.. :D
    harus baca chapter 1 sampa 4 nya nih :)

  11. April 26, 2011 pukul 5:17 pm | #12

    Jadi penasaran pengen kenal dg gadis berwajah rembulan itu…uhuy…

  12. Mei 3, 2011 pukul 10:58 am | #13

    sepertinya akan segera muncul ebook NOVEL eh CERPEN lagi nich
    wakaka

  13. Mei 4, 2011 pukul 5:02 pm | #14

    yah tamat

  14. Mei 4, 2011 pukul 7:53 pm | #15

    cerpenis masa depan indonesia

  15. Mei 6, 2011 pukul 1:07 am | #16

    salam nang mbah Pono…

  16. Mei 10, 2011 pukul 5:17 pm | #17

    suwe ra mampir kene..
    loh kok tamat *kaget*

  17. Mei 12, 2011 pukul 12:27 am | #18

    perasaan senasib dan seperjuangan ternyata benar2 bisa membawa situasi sosial yang lebih enak lan kepenak.

  18. Mei 15, 2011 pukul 11:07 pm | #19

    aduh… duh… duh… aku tersenyum membaca bagian yang ini ‘ Di mata Tukang Cerita, wajah bulat itu seolah memancarkan terang sinar rembulan. Bercahaya yang meneduhkan.’

    kalo kata shakespeare, beauty is in the eyes of the beholder — dia benar: kali ini beauty is in the eyes of tukang cerita, tampaknya ;-)

    d.~

  19. Mei 16, 2011 pukul 8:44 pm | #20

    siph lah…. :)

  20. Mei 17, 2011 pukul 3:18 pm | #21

    Wah… keren mas critanya …
    cukup inspiratif….
    salam kenal…

  21. Mei 24, 2011 pukul 5:50 pm | #22

    Duh, awal ceritanya mana ya?
    Tau2 langsung tamat.
    Searching dulu ah…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.459 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: