Evakuasi

Jam setengah lima pagi, seluruh tim Pro Fauna sudah bersiap-siap melakukan misi evakuasi hewan ternak warga yang masih terjebak di desa yang terkena erupsi Merapi. Tujuan utamanya adalah mencari hewan-hewan ternak yang masih hidup, membawanya ke tempat penampungan hewan (shelter), dan merawatnya di shelter-shelter tersebut.

Rama mengajak Tukang Cerita yang kelihatannya habis shalat subuh, untuk ikut misi kali ini. Tukang Cerita hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sesaat berikutnya, Rama, Tukang Cerita beserta anggota Pro Fauna yang lain sudah duduk lesehan di bak terbuka mobil pick-up yang membawa mereka ke lokasi evakuasi.

“Bakal seru,nih.” kata Rama sambil terguncang-guncang di atas mobil pick-up.

“Kenapa?” tanya Tukang Cerita.

“Kemaren ada induk sapi yang mau melahirkan. Masalahnya, seluruh kulit induk sapi itu sudah terkelupas karena awan panas. Diperkirakan induk sapi itu sudah 36 jam nggak makan-minum. Lemas tapi masih hidup. Kondisi bayi sapi sudah keluar kakinya, tapi karena induknya lemas, ga bisa keluar normal. Akhirnya kemaren kita turun dulu, berkordinasi sama dokter hewan, dan rencana pagi ini bareng dokter hewan bakal bantu proses kelahiran sapinya.” jelas Rama.

Akhirnya rombingan Pro Fauna sampai di lokasi. Abu Merapi benar-benar tebal-menutupi segalanya di sini. Sementara di balik bukit, asap Merapi masih terlihat menyembur dengan ganas.

Medan Evakuasi Pro Fauna
Medan Evakuasi Pro Fauna

Begitu turun di titik pendakian, tampak sepasukan Kopassus juga baru datang di situ. Setelah berkoordinasi dengan bapak-bapak pasukan khusus Angkatan Darat ini, ternyata mereka  sedang dalam misi menyelamatkan seorang kakek yang diduga kembali ke desa untuk menyelamatkan kambingnya. Mbah Pono, namanya. Kemudian disepakati pasukan Kopassus  bersama Pro Fauna berangkat bersama. Diusahakan mencari Mbah Pono terlebih dahulu, baru kemudian bersama-sama menyelamatkan sapi tanpa kulit yang mau melahirkan.

Perjalanan yang terasa menyesakkan bagi tim evakuasi. Bukan hanya karena abu tebal yang bikin sesak, tapi juga melihat pemandangan betapa bencana Merapi kali ini meluluh-lantakkan hampir semua bangunan yang ada. Rumah-rumah rebah tanpa daya diterjang awan panas dan tebalnya abu Merapi. Bahkan saat itu pun mereka masih merasakan hangatnya abu vulkanik yang belum sepenuhnya mendingin.

Akan dibutuhkan lebih sekedar usaha keras untuk kembali membangun peradaban di desa-desa yang telah diratakan oleh amuk Merapi kali ini. Semoga saja pemerintah dan relawan akan tetap mendampingi warga hingga kembali bisa memulihkan kehidupannya. Ah, tapi bukan itu fokusnya sekarang ini. Misi mereka saat ini adalah menemukan seorang kakek – yang menurut para anggota Kopassus seorang yang lugu, ramah dan baik hati – secepatnya.

Syukurlah, sesuai perkiraan, Mbah Pono segera ditemukan dirumahnya sedang membujuk kedua kambingnya untuk mau ikut dengan Mbah Pono. Tim evakuasi berseru lega, Mbah Pono tersenyum senang ada bantuan tak terduga. Mau tak mau momen ini membuat Tukang Cerita terharu. Lebih-lebih ketika mendengar alasan Mbah Pono kenapa harus nekat datang ke sini sendirian.

“Kasian, Mas. Ndak ada yang kasih makan.” jawab Mbah Pono ringan.

Sederhana, mungkin terkesan naif, tapi begitulah apa yang dirasakan seorang lelaki tua yang bahkan rela memberikan jatah makannya untuk orang lain kalau ada yang belum kebagian. Rasa kasih yang begitu besar kepada setiap ciptaan Tuhan. Membuat apa – yang dilakukannya untuk kelangsungan hidup orang lain, untuk makhluk lain, untuk sesuatu yang mungkin dianggap orang lain sebagai sesuatu yang merepotkan karena tidak ada untungnya – adalah sesuatu wajar dilakukan, bagi Mbah Pono. Apa yang bisa dia lakukan untuk kelestarian ciptaan-Nya, dia lakukan. Tanpa berpikiran macam-macam. Sekali lagi, hanya bermodal rasa kasih yang begitu besar kepada ciptaan-Nya.

Mbah Pono tentu sadar, bahwa dua kambing ini adalah miliknya pribadi. Mbah Pono juga sadar, bahwa dia hidup sebatang kara. Maka, daripada merepotkan orang lain, Mbah Pono memilih untuk datang menyelamatkan kambingnya sendirian. Jika terjadi apa-apa, tidak ada yang merasa kehilangan Mbah Pono. Itu yang ada di pikiran sederhana Mbah Pono. Kesederhanaan yang tidak akan habis dibahas dalam uraian panjang penjelasan makna yang terkandung dalam kesederhanaan Mbah Pono.

Kemudian, Mbah Pono setuju dan senang hati menangguhkan evakuasi kambingnya untuk ikut menolong proses kelahiran sapi di desa tetangga Mbah Pono. Mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan ke desa yang terletak sedikit di atas desa Mbah Pono. Sesampainya di sana, lagi-lagi Tukang Cerita dihadapkan akan kebesaran Sang Maha Tunggal. Betapa seekor sapi yang terkelupas semua kulitnya, dalam kondisi lemas, tapi masih tetap mempertahankan setiap helaan napasnya demi keluarnya penerus keturunannya itu. Kondisi seperti itu kalau dihitung hingga sekarang, sudah berlangsung selama 48 jam. Subhanallah.

Sesuai kata Rama, kaki anak sapi itu memang sudah keluar. Sesuai petunjuk dokter hewan yang turut serta, dibantu oleh Mbah Pono yang cekatan karena pengalamannya berpuluh tahun membantu kelahiran sapi, kaki anak sapi itu akan ditarik menggunakan tambang plastik (tampar) yang sudah dipersiapkan. Setelah semua siap, tali tampar itu ditarik oleh beberapa anggota Kopassus. Alhamdulillah…proses persalinan sapi ini berjalan dengan lancar. Baik induk maupun anak sapi, selamat. Bahkan setelah selesai melahirkan, induk sapi yang sudah tidak makan berhari-hari, makan dengan lahap rumput gajah segar yang dibawa anggota Pro Fauna dari shelter hewan.

“Jadi lapar.”  gumam Tukang Cerita.

“Hah?” tanya Rama.

“Eh, nggak.”

Tugas berat berikutnya adalah mengangkut induk sapi yang masih lemas dan anaknya ke atas gerobak sapi yang memang sudah ada di situ karena ditinggal pemiliknya. Masalahnya, tidak ada sapi lain untuk menggerakkan gerobak itu. Terpaksa semua yang ada di situ bahu-membahu mendorong gerobak sapi itu untuk turun sampai ke point tempat kendaraan mereka menanti. Untuk kesekian kalinya mereka bersyukur. Masalah ini sangat terbantu dengan kehadiran para prajurit pasukan khusus yang gagah perkasa.

Berhenti sejenak untuk mengambil kambing Mbah Pono, mereka melanjutkan perjalanan dengan napas tersengal, sesak karena abu tebal, berkeringat, tapi yang ada selama perjalanan turun mereka lalui dengan bercanda-canda. Apalagi Tukang Cerita dan Mbah Pono langsung klop, berduet bagai pelawak dua generasi, tak henti-hentinya membanyol.

Evakuasi hewan oleh Pro Fauna
Evakuasi Hewan oleh Pro Fauna

bersambung

**Part-part yang lain :