Merapi’s Call

Tidak mempedulikan orang-orang yang sibuk melindungi diri dengan ponco (jas hujan), atau mengantri masker yang diberikan gratis oleh organisasi yang begitu cepat-tanggap, Tukang Cerita malah asik berdiri di alun-alun. Berdiri diam, mencoba merasakan setiap butir abu vulkano putih yang jatuh dirambutnya, dikulitnya. Napasnya terasa sesak menghirup udara yang sudah dikepung debu kiriman Merapi. Lelaki sableng itu mendongak ke arah timur. Tidak banyak yang dilihatnya selain matahari pucat karena tertutup awan debu yang dikirim oleh Merapi, meski berjarak 534 kilometer dari kota ini.

Sempat, lelaki yang suka seenaknya ini membuat status di salah satu jejaring sosial (dengan sembarangan, pastinya),

“Sudah 2 hari gak ujan. Kalau besok tidak hujan juga, berati kota ini memasuki musim kemarau.”

Terlalu bergaya seperti Tukang Ramal Cuaca daripada Tukang Cerita, memang. Tapi memang, sepanjang tahun kota ini selalu hujan hampir tiap hari. Sudah dua hari ini tidak turun hujan, makanya Tukang Cerita kepedean sesumbar membuat status begitu. Mungkin kena tulah kata-katanya sendiri, keesokan paginya kota tempat dia singgah dihujani abu akibat letusan hebat gunung Merapi. Letusan itu membuat gunung Selamet tempat kota itu bernaung, ikut-ikutan sedikit bereaksi.

“This is, Merapi’s call.” gumam Tukang Cerita sok berbahasa Inggris. Tampaknya terlalu banyak menghisap abu vulkanik.

Tidak ada hal lain yang ada dipikiran Tukang Cerita selain bersegera pergi ke tempat dimana seluruh warga bangsa ini bersatu-padu mencurahkan segenap apa yang dipunya untuk meringankan beban saudaranya. Setelah memutuskan begitu, Tukang Cerita mengambil dokumentasi seadanya menggunakan ponsel, mengabadikan kondisi kota yang tersiram hujan abu.

Alun-alun Purwokerto & hujan abu
Alun-alun Purwokerto & hujan abu

Setelah mengemasi ransel hitamnya, ditendang dari toko komputer karena nekat mencoba menukarkan note-book manualnya dengan note-book digital, Tukang Cerita pun berangkat ke Jogjakarta. Tubuhnya yang ramping dengan mudah terselip di kereta api ekonomi pagi yang bertambah penuh sesak di setiap stasiun.

Benar-benar tidak ada apa-apa yang ada dipikirannya. Karena menyumbang harta, jelas tidak mungkin. Mana mungkin jelata sepertinya punya harta. Menyumbang tenaga….tubuhnya yang kurus-kering tidak bisa diandalkan.

Hanya bermodal keyakinan bahwa guratan penanya bisa membantu mengabarkan apa yang terjadi di Merapi. Dengan sudut pandangnya yang tidak biasa, dia berharap coretan penanya akan membantu melihat apa yang terjadi di sana dengan sudut pandang yang berbeda. Hanya itu yang dia punya. Semoga bisa benar-benar membantu dan berguna.

Deru kereta mulai menampakkan pemandangan daerah yang semakin memutih karena abu Merapi.

bersambung

===============================================================================

Maaf Google, repost foto (cuma itu yang dipunya)

Catatan pribadi : nyaris saja saya menggambarkan Tukang Cerita dengan lelaki gondrong, beransel biru, serba jeans, dan berkorek zippo😆 (betapa sedang keracunan si Roy :mrgreen:)…untung keburu insyap, hehe…

**Part-part yang lain :