Cerita ini sebetulnya memiliki inti dari cerita Merapi terdahulu. Hanya saja, ada permintaan dari Anazkia untuk berpartisipasi mengumpulkan cerita Merapi untuk dijadikan buku antologi yang keuntungannya akan disumbangkan kepada korban Merapi. Karena saya sudah punya tulisan sebelumnya di Pojok Pradna ini, tanpa pikir panjang saya kopaskan tulisan dari sini. Ternyata memang pikiran saya kurang panjang, tulisan yang cuma 2 halaman itu tidak memenuhi syarat. Anaz, kemudian meminta saya untuk memperpanjang…. uhuk, cerita saya.

Jadilah, saya gabungkan beberapa cerita yang saya dengar atau alami selama di seputar Merapi. Hanya saja, saya ini dikaruniai untuk susah mengingat nama-nama orang. Maka, mohon maaf jika nama-nama yang ada dicerita ini saya fiksikan. Demikian juga beberapa detilnya saya fiksikan dan mix-kan hingga jadi 1 kesatuan cerita. Tapi, secara garis besar cerita ini diangkat dari kisah nyata.

Kemudian, daripada naskah ini tertimbun di tumpukan folder, saya berkeinginan untuk kopas di Pojok Pradna (sekedar buat arsip-lah). Karena cerita ini “berdurasi” 10 halaman, saya kawatir akan merusak mata yang nekat membacanya ^_^. Jadi, sepertinya lebih baik kalau dibagi menjadi 5 part, sesuai 5 sub-judulnya,ya.

Begini ceritanya ….JRENG…JREEEENG…

Mbah Pono

Tumpah ruah manusia memadati kompleks stadion olah raga yang dijadikan sebagai tempat pengungsian terbesar dari bencana amuk Merapi. Para warga yang mengungsi dan relawan yang datang dari penjuru Indonesia dan manca, bersatu satu-rasa menanggungkan beban karena terusir dari rumah dan harta bendanya. Bahkan ada beberapa yang kehilangan keluarganya. Meski begitu, sebagian besar warga pengungsi ini adalah memang warga yang sejak dulu “dididik” oleh gunung paling aktif di muka bumi ini. Mereka tahu kapan waktunya tetap bertahan di rumah, kapan harus pergi meninggalkan rumah (mengungsi), juga bagaimana “merawat” Merapi. Maka, begitu Merapi ber-erupsi besar seperti ini mereka pun ikhlas menyingkir dulu, menunggu Merapi menyelesaikan “hajatnya”.

Salah seorang warga yang selalu “nrimo” (rela) akan kondisi Merapi ini adalah Mbah Pono yang ikut juga mengungsi ke tempat pengungsian induk ini. Seorang lelaki tua, berumur sekitar 75 tahun-an, rambutnya sudah memutih semua, beberapa gigi depan sudah tanggal, tapi masih terlihat tegap karena ditempa pekerjaannya sebagai petani dan peternak selama puluhan tahun. Menurut Mbah Pono, dia sekarang ini hidup sebatang kara tidak ada lagi sanak saudara. Mbah Pono hanya tinggal sendirian di rumah bersama dua kambing yang terpaksa ditinggalkannya sewaktu wedhus gembel (awan panas) menerjang desanya.

Hal yang menarik dari Mbah Pono ini adalah radio portable lama merk National yang selalu menggantung di leher Mbah Pono. Menemani di berbagai aktifitas pemiliknya. Menurut Mbah Pono, selain dua ekor kambingnya yang belum ketahuan nasibnya, radio portable itulah harta satu-satunya yang paling berharga bagi dia, yang masih dimilikinya. Radio yang ditenagai dua batere besar itu memang menjadi teman untuk menjalani hari-hari tuanya yang sepi. Tidak peduli apa yang diudarakan oleh sang radio, asal ada suara-suara, sudah cukup bagi Mbah Pono untuk mengusir sepi. Karena radionya itulah, Mbah Pono mendapat sebutan akrab “Mbah Pono radio” dari siapa saja. Panggilan yang selalu disambut dengan senyum lebarnya.

Seperti tipikal warga desa pada umumnya, Mbah Pono mimiliki sifat yang ramah kepada siapa saja. Terlebih pada anak-anak yang juga terlihat senang mengerubunginya. Mungkin itu adalah perwujudan dari keinginan seorang kakek bermain-main dengan cucu-cucunya. Sedangkan anak-anak merasa senang dan nyaman berada di dekat kakek ramah, baik hati dan suka melucu ini. Tak jarang orang-orang melihat Mbah Pono merelakan jatah makannya jika ada anak ataupun orang dewasa yang belum kebagian jatah nasi bungkus. Ketika disinggung soal ini, Mbah Pono hanya menjawab singkat sembari tersenyum khas.

“Halah, saya ini sudah tua. Sudah biasa lapar. Biar aja anak-anak dulu yang makan. Tenaganya masih dibutuhkan.”

Tentu saja, dari jawaban sederhana yang memang tidak bermaksud apa-apa selain apa yang diucapkannya itu membuat orang-orang semakin sayang dan hormat kepada Mbah Pono. Maka tak heran jika pagi itu, ketika Merapi masih terlihat menyemburkan debu kelabunya ke angkasa, orang-orang mendadak panik. Bahkan sepasukan Kopassus pun bersiaga. Satu sebabnya.

Mbah Pono hilang!

bersambung

**Part-part yang lain :