Sore hari.

Lik Power, Mas Roy, Kang Sronto, burung-burung, Tukang Cerita, angin, semua terdiam-ternganga melihat apa yang dilakukan makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Di depan mereka semua, Cengkir sedang melakukan ritual misterius. Cengkir berpindah dari tiang ke tiang yang lain di rumahnya. Tidak hanya itu, di setiap tiang yang Cengkir pegang dengan satu tangan, tubuhnya bergelinjangan.

“Chaiya, chaiiiyaaa…” mulutnya yang tebal meneriakkan mantra-mantra aneh. Mukanya jadi sendu, tangan satunya yang tidak memegang tiang dilambai-lambaikannya.

“Kamu lagi apa, to Ceng?” tanya Kang Sronto, tidak tega melihat sohibnya tersesat melakukan ritual tidak jelas seperti itu.

“Biar masuk tivi.” jawab Cengkir, tetap melakukan gerakan-gerakan energiknya. Tubuhnya menggeliat-geliut.

“Memangnya kamu punya kamera buat ngrekam?” tanya mas Roy, mulai mencium maksud Cengkir.

Nehi…nehi…” jawab Cengkir. Telunjuknya digoyang-goyangkan bak ibu melarang anaknya jajan sembarangan. Parahnya, pinggang Cengkir juga ikut bergoyang-goyang. Kemudian, katanya. “Ini baru latian. Nanti minta bantuan mas Roy pinjem kameranya sekalian yang nyuting.”

“Ooo…jadi kamu pengen kayak pak Polisi yang mendadak negtop itu, Ceng? Tidak bisa! Ndak boleh! Bikin malu aja. Kamu itu sebagai abdi ya kudu bekerja dengan sungguh-sungguh. Rendah hati. Ndak usah neko-neko (aneh-aneh). Jangan membuat malu junjungan kamu, Ki Lurah.” larang Lik Power serius.

Kontan saja, larangan Lik Power disomasi Cengkir. “Lho, apa bedanya? Pak Polisi boleh berekspresi, malah Ki Lurah juga dah bikin beberapa album nyanyi. Pertanyaan soal albumnya Ki Lurah juga jadi pertanyaan tes masuk pamong desa. Mosok ya saya ndak boleh berekspresi juga. Justru kalo saya ngetop, nanti kan junjungan saya ikut senang.”

“Gimana kalo malah jadi tertawaan warga?” tuntut Lik Power. Bagaimanapun juga Ki Lurah adalah putra Lik Power dan yang nantinya akan diwariskan jabatan itu kepada mas Roy, putera mahkota Ki Lurah. Wajar kalau Lik Power merasa masih punya kewajiban untuk menjaga stabilitas kekuasaan desa Carangpedopo.

“Lho bukannya sekarang dah sering jadi bahan ketawaan karena dagelan-dagelannya?” tukas Cengkir enteng.

Lik Power tersulut. “Woo…kurang ajar! Apa kamu ndak tau…”

“Halah, udah to Lik. Kayak ndak tau Cengkir aja. Ayo duduk dulu, apa ndak sadar kalo dari tadi sampean masih berdiri?” kata Kang Sronto menentramkan emosi Lik Power.

Lik Power menuruti ajakan Kang Sronto untuk duduk di salah satu kursi kayu beranyaman plastik yang mengelilingi meja jati usang. Menyeruput kopi pahit yang telah disediakan di atas meja. Kemudian meraih kaleng biskuit usang yang juga ada di atas meja dan mulai melinting rokok siluman (salah satu bahan rokok linting ini adalah  kemenyan, dan kalau dinyalakan baunya bisa buat memanggil siluman). Cengkir tetap melakukan aktifitasnya berlatih lipsync India.

“Biar aja Cengkir menuangkan ekspresinya. Kalo dilarang juga aku yakin nanti Cengkir sembunyi-sembunyi tetep bikin videonya. Justru kalo terang-terangan malah bikin kesan baik buat Ki Lurah. Berarti Ki Lurah menghargai kebebasan berekspresi. Kan Ki Lurah paling seneng bikin citra baik hati kayak gitu.” kata Kang Sronto melanjutkan.

Kang Sronto menghisap rokok lintingnya. Kemudian kembali berkata. “Yang penting Cengkir masih melakukan tugasnya dengan baik. Buktinya, kita datang, seperti biasa udah ada kopi sama rokok. Ya, ndak?”

Lik Power menghembuskan asap rokoknya. Wajahnya terlihat kesal, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Jeda yang terjadi, dipecahkan oleh Pak Jaga Baya yang datang sambil terengah-engah. Wajahnya yang berkeringat terlihat capek. Pak Jaga Baya langsung duduk dan tanpa basa-basi menyeruput kopi yang belum diminum.

“Apa apa to, Pak Bayan? Kok keliatannya capek sekali. Sampe ngos-ngosan begitu.” tanya Mas Roy.

“Wah, itu lho. Tahanan sekarang makin aneh-aneh aja. Mosok ya ndak ada pakaian tahanan yang pas buat EmDee! Jadi saya harus cari kemana-mana.” keluh Pak Jaga Baya sembari mengelap keringat dengan handuk kecil lusuhnya.

“Weh…lha trus, dapet?” tanya Kang Sronto penasaran.

“Kalo pakaian tahanan, mo dicari gimana juga jelas ndak ada yang pas. Akhirnya aku suruh pakai aja daster yang diwenter warna pakaian tahanan.” Pak Jaga Baya kembali menyeruput kopinya. Kemudian menambahkan. “Emang edyan bener EmDee ini. Mentang-mentang yang diembat sampe milyaran, “bekal” yang dibawa ke tahanan juga guedhe, eh, buesar, eh, buanyak banget.”

Ketika hadirin Obrolan Sore membayangkan, eh, memaklumi “bekal”, eh, keadaan tahanan satu ini, mas Roy berkata dengan antusias,

“Ini perlu dibentuk pansus, untuk menguji apakah EmDee ini asli atau tidak!”

“Wee lah… anakmas, jaga sikap ah! Apa ndak cukup anakmas dapat pelajaran waktu disuruh turun sama kusir Andong Air?” tegur Lik Power kepada cucu-mahkotanya.

Mas Roy patuh…sambil menahan air liur.

“Ehm, kalo mas Roy mau bikin pansus buat nguji keaslian sih ada tahanan yang tepat buat itu, Mas.” kata Pak Jaga Baya berusaha menghibur.

“Wah, siapa itu, Pak Bayan?” sambar mas Roy, tidak peduli air liur yang ditahannya muncrat ke mana-mana.

“Itu…si Acha alias Somad. Kita masih bingung naruh dia di tahanan cowok ato cewek. Mas Roy mau mbantu ngetes keasliannya?” tawar Pak Jaga Baya.

Mas Roy melengos seolah tidak mendengar. Hadirin yang lain terkekeh.

“Eh, kok sudah gelap ya? Sebentar banget sorenya.” kata mas Roy mengalihkan pembicaraan.

“Bukan sorenya yang jadi lebih cepet. Tapi sejak ada gedung Lembaga Musyarawah Desa yang baru itu, matahari sore jadi kehalang. Di sini jadi cepet gelap.” kali ini Cengkir yang menjawab sambil berdiri di ambang teras, memandang gedung megah yang menghalangi sinar matahari sore.

“Ooo…iya. Gak tau kenapa, padahal dulu aku sudah bilang ndak setuju pembangunan gedung baru itu…eee, nekat dibangun juga.” kata mas Roy membangun simpati.

“Haiyak! Anak muda emang suka cari sensasi. Sok membela warga desa, dan bikin orang-orang tua keliatan jahat. Padahal dengan ruangan yang lebih luas seukuran lapangan sepak bola, gym, spa, supermarket, sekarang jadi lebih betah ngantor,kan?” kata Lik Power. Seolah menghardik cucunya, tapi jelas, sebetulnya sedang membela mas Roy.

“Lha iya, siapa aja kalo dapat kantor seperti itu lengkap sama fasilitasnya sih semua betah. Cuman masalahnya kan, di kantor mereka itu kerja ato cuma manfaatin fasilitasnya aja?” tanya Cengkir sangsi.

Obrolan Sore pun berakhir.