Tergugah tulisan di sana,soal sebuah alasan atau mencari-cari alasan atas sebuah kegagalan kita yang berujung mencari2 kesalahan orang lain atas kegagalan yang kita alami.

Bagaimanapun juga tidak enak kalau mendengar seseorang yang selalu menyalahkan orang lain sebagai alasan pembenaran atas kegagalan diri sendiri. Mungkin sesekali pendengarnya akan terhanyut & ikut menyalahkan orang lain yang dianggap sebagai penyebab kegagalan teman kita itu.

Tapi katika itu sudah menjadi kebiasaan yang diulang-ulang.Hanya akan membuat kawan yang tidak sealiran suka menyalahkan orang lain, menjaga jarak dengan kita. Membuat telinga jadi kebas saja, kalau mendengar setiap hari ada saja orang yang disalah-salahkan untuk pembenaran diri🙂

Dulu pernah ada yang mengajarkan kepada saya, salah satu untuk menghindarkan diri kita menjadi orang yang suka menyalahkan orang lain adalah dengan ber-olah raga. Olah raga yang dimaksud adalah olah raga pertandingan. Seperti badminton, ping pong (tennis meja), sepak bola, bola basket, dan sebagainya yang ada lawannya secara langsung.

Dengan tidak mengecilkan arti olah raga senam aerobik dan gym, selanjutnya yang saya maksud olahraga disini adalah olah raga pertandingan yang umum dimainkan di masyarakat seperti contoh di atas. Karena saya sendiri termasuk yang binarangka jadinya tidak cocok kalo bahas binaraga😀

Sebuah momen yang membuat kita bisa saat itu juga merasakan nikmatnya kemenangan dan pahitnya kekalahan adalah dengan berolahraga.

Sebelum sampai hubungannya dengan Reasoning, mari kita bicarakan apa yang terjadi ketika bertanding olah raga :

  • Saat kita memutuskan bertanding/bermain, maka yang ada adalah kita sudah siap mencurahkan segenap kemampuan kita untuk menghadapi lawan yang ada di depan mata. Jika demikian kata “kalah” hanya untuk lawan. Perasaan ini bukan disebabkan karena kesombongan, tapi karena rasa percaya diri atas kemampuan yang dilatih keras secara berkelanjutan. Ya, bahkan dengan modal percaya diri, seseorang bisa memainkan jenis permaian yang tidak begitu ditekuninya dengan cukup ahli. (Ini kenapa ada orang yang cukup ahli di berbagai cabang olah raga).
  • Mengalahkan lawan yang jauh lebih lemah memang tidak begitu menarik. Ada rasa kurang puas ketika bertanding dengan lawan yang jauh lebih lemah. Tapi mengendorkan perlawanan kita itu berarti tidak menghargai lawan. Begitu juga di cabang martial arts, menghindari serangan ke arah anggota tubuh lawan yang cidera, hanya akan menghina lawan kita. Karena bagaimanapun juga, lawan tidak ingin menerima belas kasihan kita. Jika kita memang jauh lebih unggul, segera tuntaskan permainan, buat lawan tidak lama-lama merasakan malu.
  • Di atas langit masih ada langit. Selalu bertanding dengan lawan yang lemah tidak akan membuat kita kuat. Kesempatan melawan seseorang di tingkatan master atau monster adalah pengalaman yang sangat berharga. Di sinilah kita bisa mengeluarkan seluruh kemampuan kita yang sesungguhnya. Tarik keluar batas kemampuan diri. Cidera, berdarah-darah, adalah harga yang wajar. Ketika kita belum bisa melampaui tembok besar itu, yang bisa kita lakukan berikutnya adalah menjadi lebih kuat. Karena kalau tidak, seperti di awal paragraf ini, lawan tidak akan menjadi kuat jika melawan kita yang tidak bertambah kuat. Ini hanya akan membebani lawan. Baik kita ataupun lawan tidak ingin terlihat menyedihkan dan merasa dikasihani.
  • Kemudian, yang biasanya tidak lepas dari permaian adalah celotehan-celotehan ejekan. Ejekan yang dilontarkan lawan ataupun pemain. Seperti ejekan favorit saya yang selalu saya lontarkan kepada lawan ketika di atas angin : “Sudah boleh main serius, belum?”:mrgreen: Kalau kita mendengar semua itu, apakah kita akan dendam? mencegat pemain lawan di jalan yang gelap dan menghajarnya? Kalau kita memasukkan ke dalam hati semua itu, apakah kita akan stres? Ngambek ga main lagi? atau Kalau kita mendengar semua itu terus akan jadi emosi dan berpengaruh ke permainan kita?🙂 Olah raga adalah sarana kita untuk berhati lapang, tidak mudah stres karena gunjingan orang dan tetap bisa berkonsentrasi di bawah hujan cacian-ejekan banyak orang #tersenyum
  • Ini mungkin tidak berlaku bagi orang yang dikaruniai talenta luar biasa. Tapi saat berolah-raga, saya harus sadar akan batas diri. Ketika memulai basket, saya sadar shooting bukan keahlian saya. Akan butuh waktu yang sangat lama bagi saya hanya untuk melatih shooting. Sebagai gantinya, saya menekuni lay up dan rebound. Kemudian sebagai imbalannya, tidak butuh waktu lama, dalam permainan tim,untuk bisa disejajarkan dengan para monster basket di kota ini #jumawa. Intinya, sadar diri, tidak perlu kuatir jika tidak bisa menguasai beragam teknik. Fokus pada satu atau dua teknik dan jadilah ahli di teknik itu.
  • Seperti seorang peneliti, secara etikal, atlet hanya dapat diterima ketika mengemukakan alasan kekalahannya yang berkenaan dengan kondisi, bukan person. Misal : lapangan yang becek/licin, angin kencang, cuaca ekstrim dan sejenisnya. Meski itu tentu tetap akan terdengar seperti sekedar pembelaan diri. Karena toh lawannya tetap bisa menang🙂
  • Kalah adalah kalah. Tidak peduli “cuma” terpaut berapapun poin dari lawan kita. Menang adalah menang. Tidak peduli bahkan kita yang biasanya selalu nomer 3 jadi juara 1, karena langganan juara 1 dan 2-nya tidak ikutan. Keberuntungan dalam olah raga biasanya menyertai tim/seseorang yang berlatih lebih keras dan berjuang lebih keras. Saat kita telah berlatih sangat keras terus tiba-tiba langganan juara 1 dan 2 tidak ikut perlombaan, di situlah keberuntungan memihak kita untuk menciptakan giliran pada kita menjadi juara. Mau juara 1 sampai 3 absen pun kalau kita tidak berlatih dan berusaha keras, juara 3 saja tidak akan didapat.

Kemudian…nah ini yang ada hubungannya dengan Reasoning ^_^ :

Tidak peduli dengan kemungkinan kecurangan yang dilakukan pihak lawan, ketika kita sudah mengeluarkan segenap kemampuan kita, ketika kita kalah maka kita akan menerima kekalahan itu dengan “ikhlas”. Kita terima, kita evaluasi kekurangan kita dan berusaha menjadi lebih kuat lagi. Dengan latihan dan usaha keras, lawan yang terlalu sibuk memikirkan cara curang tentu tidak akan sekuat orang yang memoles keahliannya terus menerus tanpa kenal lelah.

Lain halnya kalau kita tidak cukup berlatih dan berusaha keras. Mencari-cari alasan termasuk kesalahan orang lain adalah hal yang biasa dilakukan untuk menutupi rasa malu, penasaran, dan tidak rela saat kalah. Apalagi ketika lawan berlaku curang, tentu akan jadi headline kita untuk membela diri. Mestinya kecurangan seperti apapun tidak akan begitu berpengaruh ketika kita benar-benar kuat, dan menjadi kuat adalah dengan jalan mengasah kemampuan kita tanpa kenal lelah.

Dari ulasan itu semua, saya jadi paham kenapa ada ungkapan “sportif”. Karena dengan sport yang benar, kita akan bersikap sportif saat kalah karena kita telah mengeluarkan segenap kemampuan kita hasil dari latihan dan usaha keras. Sportif juga melihat keberhasilan orang lain. Jika sudah demikian, setiap waktu kita hanya akan kita fokuskan untuk memoles diri menjadi kuat di bidangnya, tanpa sibuk mengurusi kekurangan orang lain🙂

Seperti yang biasa diungkapkan di komik-komik Jepang (nah, meski “sayang” kita tidak hidup di Jepang kita masih bisa mengambil apa yang baik dari mereka, bukan begitu #wanitaangin ?😉 ): “Jika kamu masih punya waktu luang untuk menyalahkan orang lain, kenapa tidak kau gunakan waktunya untuk berlatih supaya kamu bertambah kuat?”