Yang Terhormat,
karena semua sudah berakhir, tidak adil rasanya kalau hamba tidak mengungkap ini.

Yang Terhormat,
ingatkah cerita tentang anak yang berbohong dua kali mengatakan ada serigala masuk kampungnya, dan cerita ketiga warga sudah tidak percaya lagi? Padahal benar-benar ada serigala yang menyantap ternak warga.

Itulah dasar dari dunia telik sandi (Covert-Ops). Membuat cerita seolah-olah ada berulang kali sehingga tercipta di benak bahwa itu benar-benar ada, menghantamnya dengan “kenyataan” bahwa cerita itu ternyata tidak ada, padahal sebenarnya cerita itu memang benar-benar ada… atau memang benar-benar tidak ada tapi disajikan secara ada dan tiada.

Memang terdengar seperti pelajaran filsafat yang membingungkan. Tapi ini adalah filsafat yang diterapkan secara keji untuk suatu kepentingan.

Bagi dunia telik sandi, kebenaran adalah seperti bawang. Berlapis-lapis dan sampai lapisan terakhir Anda tidak akan menemukan kebenaran. Karena memang tidak ada yang bisa benar-benar disebut kebenaran. atau kebenaran itu ada di setiap lapisan bawang itu sendiri. (maaf ini sedang tidak membicarakan soal agama atau aliran kepercayaan)

Seperti ini akan membuat frustasi untuk sebagian orang. Tapi kami dilatih untuk itu.

Yang Terhormat,
tidak mengherankan jika dulu ada doktrin di Negeri Matahari Terbit. Kematian Samurai saat bertugas adalah sebuah kehormatan. Sedangkan kematian ninja (shinobi, lebih tepatnya) saat bertugas adalah tak ada bedanya dengan anjing yang mati di jalan.

Maka, kehormatan tidaklah penting bagi kami. Penyelesain tugas adalah yang utama. Tidak peduli bagaimana cara yang harus ditempuh.

Karena itulah kami dicaci. Untuk itulah kami di latih.

Menggoyahkan pikiran lawan adalah salah satu cara.
Paparkan sebuah fakta yang mengguncangkan,
Guncangkan lagi dengan fakta yang sejenis,
Maka fakta itu akan seolah jadi fakta yang mengada-ada,
Padahal mungkin fakta itu memang ada…atau memang tidak ada…tergantung kepentingan.

Teorinya,
ketika berdiri diantara 10 orang. Ketika kita mendongakkan kepala, maka akan 8 orang ikut melihat ke atas. Kita mendongak lagi, ada 6 orang yang ikut mendongak. Kita mendongak lagi, ada 2 orang melihat ke atas.

Saat itulah kita bisa melakukan kejahatan dengan meledakkan pesawat di udara…dan kita hanya tinggal menyingkirkan 2 orang yang masih ikut mendongak ke atas tadi.

Begitulah.

Yang Terhormat,
bagaimanapun tidak berartinya hamba, tapi hamba ingin melangkah meninggalkan dunia bayang-bayang itu.

Entah beruntung atau sial, saat keluar justru bertemu dengan Yang Terhormat.

Yang Terhormat,
setelah 12 tahun di dunia bayang-bayang, kembali merasakan jatuh cinta ternyata menyenangkan. Seperti pernah hamba bilang : penjahat tak lagi jahat, pelawak tak lagi lucu jika jatuh cinta

Hanya saja,
ada “saudara” yang sudah lebih dahulu melangkah, meminta Yang Terhormat menjadi Permaisurinya.

Terus terang,
kadang menikmati kemenangan dari “permainan” merebut perhatian Yang Terhormat. Tapi, akhirnya hamba berkeyakinan bahwa itu tidak benar.

Ketulusan untuk lebih mengutamakan Saudara yang lebih berhak, harus mulai dilatih.

Karena dunia bayang-bayang tidak mengenal arti persaudaraan. Ketika perintah eleminasi partner diberikan, tidak ada kata lain selain melaksanakan dengan cepat…sebelum nurani ikut campur.

Hanya karena tidak bisa diputuskan dengan cara biasa, maka dimulailah cara lama : “siapa yang menyimpan permatanya?

Teorinya:
Bilang bahwa kita tidak menyimpan permata. Tapi setiap orang tahu bahwa di ruang tamu kita dipajang permata.

Apakah itu berarti kita menyimpan permata betulan atau cuma imitasi?

Itu tidak penting,
tujuannya adalah membuat shock bahwa kita ternyata menyimpan permata di ruang tamu.

Nyaris berhasil.

Yang Terhormat,
dengan jiwa besar Yang Terhormat miliki, ada atau tidaknya permata tidaklah penting.

Yang Terhormat,
Ada permainan yang disebut dengan : “Pilihan Pesulap“.

Yaitu kondisi yang menempatkan seseorang pada pilihan yang tidak bisa ditolaknya.

Misalnya, seseorang diminta memilih kartu yang tertutup dan pesulap nantinya akan menebak dengan benar kartu yang dipilih. Sekilas pemilih bebas memilih kartu secara bebas dan acak, tapi sebetulnya semua dikondisikan untuk memilih kartu yang disiapkan oleh sang Pesulap.

Kalau di dunia hiburan ini biasa disebut, “mentalist” .

Demikianlah,
sebetulnya itulah yang harus hamba lakukan sejak awal, begitu tahu Yang Terhormat telah menentukan pilihan. Hanya saja, perasaan yang telah puluhan tidak hamba alami dan kini datang lagi, mengacaukan itu.

Memang apa yang dipilih Yang Terhormat adalah sesuai dengan skenario. Hanya saja, persoalan ini jadi berlarut-larut. Maka, seperti dijelaskan di atas, eksekusi misi yang berkepanjangan hanya akan membuat hati kembali turun tangan dan mengacaukan sebuah tugas.

Tapi kemudian, kondisi Yang Terhormat semakin lama semakin mengkhawatirkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk segera mengkondisikan Yang Terhormat menjadi “keras”.

Ada kondisi yang membuat seseorang menjadi “keras”. Yaitu disudutkan sampai batas oleh: kesedihan; dan atau kelaparan; dan atau rasa marah.

Dengan berat hati, seperti lapisan bawang, permainan dilanjutkan…dengan intensitas yang lebih keras. Dangan apa yang mereka biasa menyebutnya : “good cop – bad cop

Hanya saja, kali ini tujuannya adalah bukan sisi “good cop”-nya, tapi “bad cop”. Yaitu target menjadi benci setengah mati. Karena dengan “tekanan” sedemikian rupa, akan muncul istilah : “Tikus yang sudah terdesak pun akan menerkam kucing yang memojokkannya

Akhirnya…membuahkan hasil🙂

Yang Terhormat,
maafkan hamba. Membuat dibenci setengah mati adalah salah satu “pintu keluar”. Kami dilatih untuk dibenci.

Yang Terhormat,
Ijinkan hamba yang tidak berarti ini memberikan sekedar pandangan.
Kerumitan itu sebagian besar berasal dari pikiran kita sendiri. Mungkin ajaran yang telah kami terima, bisa diterapkan :

K.I.S.S : Keep It Simple, Stupid!

Buat segala sesuatunya menjadi sederhana. Serumit apapun permainan yang dimainkan, selalu buat babak yang sedang dimainkan menjadi sederhana.

*menghela napas*
Selesai sudah. Dan ada hak yang sudah dikembalikan di jalan yang benar.

Untuk Saudaraku,
Tak Bisakah?

T A M A T

Phantom

————————————————————————————————————————————-

Ini adalah akhir dari Trilogi “Shadow” :
1. Tak Bisakah?
2. satu, dua, tiga… Egois (selfish)
3. Reveal