Sebelum ke permasalahan, mau curhat  sebentar ah ^_^v

Pikiran ini muncul setiap berhasil menyelesaikan masalah kecil ketika menggunakan Linux :

“Apa yang diharapkan dari sebuah computer?”

Tentu adalah kemudahan penggunaan untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Dari sinilah, muncul ide untuk menjual komputer beserta Operating System (OS) ciptaan penjual komputer itu,di dalamnya. Ini masih fair, karena kita membeli komputer beserta program di dalamnya.

Seperti membeli sepatu dengan tali sepatunya sekaligus.

Kemudian, ada yang lebih brilliant.

Jual tali sepatunya saja, terserah mau pakai sepatu apapun.

Bagaimana biar bisa menguasai pasar? Bikin tali sepatu yang tidak mengharuskan pembeli sepatu itu untuk memasukkan tali ke lubang sepatu satu demi satu. Pokoknya bikin otomatis dan serba mudah.

Hasilnya? Anda bisa menjual tali sepatu itu dengan harga yang sangat mahal.

Itulah harga kenyamanan. Itulah harga sebuah kemudahan.

Dan inilah yang dinikmati oleh jutaan (atau milyaran?) pengguna OS  berbayar yang bisa dimasukkan ke komputer mana saja.

Jutaan orang kemudian dimanjakan oleh kemudahan OS mahal dan aplikasi-aplikasinya yang lebih mahal lagi. Untuk harga 1 sampai 60 juta Rupiah  yang harus dikeluarkan per aplikasi, konsumen memang sudah seharusnya mendapatkan layanan premium.

Masalahnya, yang namanya “dimanjakan” dan “terlena” itu membuat orang menjadi “obesitas” dan enggan “beranjak”. Maka, bagaimana kalau seseorang sedang tidak mampu mengeluarkan sejumlah besar dana untuk membeli OS dan aplikasi-aplikasi yang jadi kebutuhannya?

Tubuh enggan bergerak, maka otaklah yang terus bekerja.

Hasilnya jelas, Pembajakan.

Mematikan nurani, mengabaikan kenyataan bahwa untuk menghasilkan sebuah program yang sangat mudah  bagi penggunanya itu, programmer harus selamat dari :

Bekerja 18 jam sehari; tekanan atasan; tekanan deadline; ancaman keluarga yang berantakan; ancaman bunuh diri…dst”

produk bajakan pun beredar luas. Hukum Positif  Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) pun jadi senjata lain bagi aparat untuk menambah sapi perahan, lewat razia-razia hoax. Hukum Fatwa Haram  MUI soal Pencurian Hasil Karya Orang Lain pun tenggelam diantara fatwa-fatwa lain.

Hal yang menyedihkan, adalah anggapan :  “para produsen OS/Program itu sudah kaya raya, dibajak pun tak mengapa.

:) <== tersenyum teduh. Pengen saya bilang : “Nabi Sulaiman juga kaya raya, dicuri sebagian kekayaannya juga ndak bakal bikin miskin Nabi Sulaiman. Apalagi kalau yang dicuri mengikhlaskan sebagai amal. Niscaya dibalas berlipat….trus,kita yang nyuri? wah, wah, bakal rugi dong!

Mungkin tidak ada korelasinya, tapi saya pikir: “Kalau kita mau bersusah-payah menghargai hasil karya orang lain sejak dini, seseorang juga akan berpikir dua kali kalau mau mengkorup hasil jerih-payah orang yang kerja berjam-jam tiap hari untuk kemudian dihisap 5-10% sebagai pajak Negara.

Sedangkan OS yang melenakan dan legal juga ada di dunia Opensource, gratis lengkap dengan aplikasi-aplikasi pendukungnya.

Ini yang saya rasakan tahun-tahun terakhir ini menggunakan Linux Mint.

Linux Mint menawarkan segala kemudahan dan kenyamanan menggunakan OS lengkap beserta aplikasinya seperti menggunakan OS dan software yang super mahal. Membuat saya enggan “beranjak” dan “berkotor-kotor membedah jeroan linux” lagi, seperti di masa lalu.

(Saran saya buat yang hendak memutuskan berhijrah: “Lupakan hal-hal mengerikan di linux. Gunakan Linux Mint, Anda akan merasa sama dimanjakannya saat menggunakan OS berharga mahal itu:) )

Kemudian, saya tertarik untuk mengganti Linux Mint dengan distro linux yang lain, Sabily 10.04 codename “Manarat”. Dengan harapan membantu menjauhkan dari hal “Madharat” :D

Bagaimana mau berbuat itu, mau klik file-file “Madharat” saja, disamping kursornya ada kalimat thayyibah yang berulang-ulang seperti ini :

:lol:

Setelah proses instalasi selesai. Seperti sebelum-sebelumnya, Operator-opertor GSM di Indonesia sudah dikenali oleh turunan Ubuntu. Jadi, yang saya lakukan tinggal klik “Network Connectin” di Panel kanan bawah Desktop. Pilih Operator. Selesai.

Hanya saja, ternyata lewat jalan di atas tersebut, setiap beberapa menit koneksi Axis terputus. Dan kalau mau mengkoneksikan lagi harus mencabut modem, baru dikoneksikan lagi.

Seperti biasa, program berbasis Terminal yang powerfull, Wvdial jadi andalan.

Setelah instalasi dengan mengetikkan :

$ sudo apt-get install wvdial

Ditunggu sejenak (karena cuma membutuhkan 2MB download dari internet), wvdial pun terpasang. Instalasi selengkapnya bisa dibaca di catatan lama saya.

Tapi kemudian, ketika sekedar mengetikkan : “wvdial” di Terminal, muncul pesan eror :

wvdial: error while loading shared libraries: libssl.so.0: cannot open shared object file: No such file or directory

Google lah yang lagi-lagi jadi andalan di saat seperti ini.
Sayang, saya tidak menemukan referensi yang tepat sasaran untuk masalah ini.

Disinilah akibat buruk karena lama dimanja Linux Mint, jadi enggan susah payah. Cepat sekali rasa putus asa itu datang, dan sempat berpikir untuk kembali ke pelukan Isadora (codename Linux Mint 9 :mrgreen: ).

Sukurlah, hasrat untuk jadi Cah Soleh bersama Manarat masih mencegah Madharat itu :D

Alhamdulillah…Akhirnya, setelah menggathuk-gathukkan (mencocok-cocokkan) dari halaman muka “Pencarian Google” (karena kalau dibuka situs yang ada di situ malah jadi bingung), dan dikombo dengan tulisan lama yang lain, akhirnya terpecahkan dengan cara :

1. Install Build Essential
**Terus terang lebih cepat dengan mengetikkan keyboard di Terminal, daripada klik-klik lewat Synaptic. Downloadnya pun lebih cepat. Dan ketika koneksi terputus, bisa melanjutkan downloadnya ^_^v :

$ sudo apt-get install build essential

2. Install libssl-dev dengan mengetikkan :

$ sudo apt-get install libssl-dev

3. Edit file /etc/ld.so.conf :

$ gedit /etc/ld.so.conf

Masukkan (copas) 2 baris ini :

/usr/lib
/usr/local/lib

Save dan Quit Gedit

4. Ketikkan perintah ini sebagai finishing :

$ sudo ldconfig

Insya Allah, wvdial bisa digunakan seperti biasa ^_^v

Setting wvdial, juga ada di sini.

Ini tampilan awal ‘Manarat’  yang teduh :