Sore hari.

Wajah-wajah lelah duduk di kursi kayu beranyaman plastik, mengelilingi meja jati bundar yang telah menghitam dimakan usia. Membenamkan diri di kursi masing-masing, mereka menghisap rokoknya dalam-dalam.

Angin sore hari menentramkan yang biasa ikut serta menikmati setiap Obrolan Sore, kini seakan ikut tercekat. Membuat udara terasa meretas-lengas.๏ปฟ

Baru saja para pemuja Obrolan Sore kali ini membereskan puing-puing rumah Uwa Dasem yang luluh-lantak akibat “Teror Hijau”. Uwa Dasem sendiri kini tergolek lemah di Puskesmas (mana mampu Uwa Disem bayar Rumah Sakit kota).

“Gimana ini, Pak Lik?” tanya Kang Sronto tidak tahan dengan kebisuan.

“Aku yo jadi pusing, je. Mau digimanakan ini sudah jadi bancakan desa. Banyak orang yang sudah ambil jatah berkat proyek ini. Jadi, yo susah.” jawab Lik Power sambil memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut pusing.

Semua mata melirik Juragan Brono.

“Eh…lho. Mbok ya jangan liat aku kayak gitu. Aku ini cuman pedagang. Paling banter ya ngoplos aja….eh.” Juragan Brono menyadari kesalahannya. Cepat-cepat melanjutkan. “Eee…Tapi ya itu, bener kata Lik Power. Karena dibagi-bagi buat bancakan, produsen tabung itu mungkin aja jadi cuman dapat sedikit. Pokoknya asal ada tabung, dicat ijo aja.”

“Banyak lho karena teror ijo ini yang kembali pakai kayu bakar lagi.” kata Kang Guru.

“Iya.” balas seseorang.

“Tapi kuatirnya, hutan di sini semakin tidak hijau lagi.” lanjut Kang Guru.

“Bener-bener teror ijo. Pake tabung ijo salah, tebang yang ijo-ijo juga salah. Mending teror kolor-ijo jaman dulu. Malah jadinya banyak bapak-bapak yang pakai kolor ijo buat bikin seneng ibu-ibu.” kelakar Kang Sronto.

Bapak-bapak terkekeh. Bujang-bujang tersenyum sok paham.

“Eh iya…sebenernya solusinya gampang!” seru Cengkir.

“Weh…sing bener, Ceng? Opo kuwi?” tanya Lik Power terkejut. Sama terkejutnya dengan hadirin yang lain.

“Ya ganti aja warna tabungnya. Jangan pakai warna hijau. Biar ndak sama dengan lagunya : ‘meletus tabung hijau…dor! hatiku sangat kacau`.” jawab Cengkir cengengesan.

Bapak-bapak maupun yang Bujangan serempak melempar Cengkir dengan butiran jagung rebus hidangan sore ini.

“Apa ini ndak dibahas di Musyawarah Desa, mas Roy?” tanya Kang Guru.

“Gimana mau dibahas, lha anggotanya aja ndak ada yang hadir.” sambar Kang Sronto sinis.

“Oh, dibahas kok.” jawab mas Roy sang Putra Mahkota desa Carangpedopo yang juga anggota Lembaga Musyawarah Desa. Setelah berdehem, mas Roy melanjutkan. “Ehm…Pasti dibahas. Setelah bahasan penting ini.”

“Soal rumah aspirasi itu?” tanya Kang Sronto nyinyir.

“Iya.” jawab mas Roy pendek.

“Lembaga Musyawarah Desa ini wis jan, kebangetan banget kok. Kalo rapat ndak ada yang dateng, tapi kok ya kalo mbahas rencana buat ngeruk uang warga desa ngotot banget. Lha 200 juta pertahun itu buat apa? Mau bikin perumahan?” cecar Kang Sronto yang sudah mulai tidak sronto.

“Sabar Kang Sronto. Sareh…” mas Roy mencoba menenangkan. Kemudian melanjutkan. “Yaa seenggaknya kan dana segitu bisa bikin rumah anggota Lembaga Musyawarah Desa, kalau-kalau rumah yang satu kena ledakan teror ijo tadi.”

Bapak-bapak memegang jidat dan yang Bujangan cengar-cengir mendengar alasan “ajaib” ini.

“Walalah…Udah minta gedung baru, kenaikan gaji, dana aspirasi, sekarang rumah aspirasi. Lha kalo dituruti semua, bangkrut desa ini cuma buat ngasih makan 500 buaya di sana. Mending suruh bikin negara sendiri aja, biar cari uang sendiri, dimakan sendiri. Biar mereka merasakan kerja itu gimana. Dah gajinya besar, tapi malesnya minta ampun.” sungut Kang Sronto.

“Lha wajar to, Kang. Dimana-mana kalau uangnya banyak, ya ngapain juga harus kerja. Kalo mau mereka kerja, ya kasih gaji kecil dengan sistem target.” kata Cengkir ringan.

Kang Sronto tergelak mendengar ini. Mas Roy? Mas Roy tidak mendengar. Dia kembali sibuk menelpon meneruskan lobying untuk menggolkan rencana 200 juta pertahun per anggota ini.

“Ada yang membuat saya kawatir berkaitan dengan ini. Semakin banyak dana yang mengalir ke kantong para pengambil keputusan desa ini, akan semakin merasa terancamlah mereka. Ujungnya, mereka perlu memperkuat para penjaga mereka. Seperti rencana memberi senjata api pada Polisi Pamong Desa. Ini tentu membuat teror tersendiri bagi warga desa. Tidak perlu menjadi bromocorah, jadi warga desa yang baik pun kini bisa dihabisi dengan senjata api milik kepanjangan tangan Penguasa.” kata Kang Guru panjang lebar.

“Halaah…Kang Guru ini,lho. Kuatirnya kelewatan.” tukas Cengkir.

“Berlebihan gimana, Kir?” tanya Kang Guru sabar.

“Lha wong yang dimaksud senjata api itu, ini lho…” jawab Cengkir sambil mengambil korek api dan menyalakannya. Kemudian nyala api korek itu dipakainya untuk menyalakan rokok Lik Power.

Obrolan Sore pun diakhiri dengan gelak tawa oleh kelakuan Cengkir. Seolah ikut tertawa, angin sore pun mulai berhembus menghantarkan suara adzan maghrib yang menenangkan.

Sekedar untuk menenangkan warga dari teror-teror yang terus diciptakan oleh Penguasa Desanya sendiri.

==================================================================================================

Bahkan teror ijo juga mengancam dunia gadget๐Ÿ˜†

Tentu sudah tidak asing lagi dengan Ayam sok tau ini, dan gambar ini diambil dari salah satu kandangnya๐Ÿ˜€