Sore hari.

Seperti di sore-sore sebelumnya, mengelilingi meja bundar kayu jati yang sudah menghitam termakan usia, duduk…

“Sopan santunnya, kalau lama ndak kelihatan ya basa-basi ngomong apa ke Pembaca…ndak langsung nggambus,cerita seenaknya sendiri!” potong Lik Power sambil menghisap rokok tingwe (tingwe, nglinthing dewe : swa linthing –red).

“Ehm…euh, maaf kepada Pembaca Budiman, karena satu dan lain hal Obrolan Sore jadi lama terhenti.” Tukang Cerita menjura hormat demi menyampaikan permintaan maafnya. Lanjutnya.”Nah mari kita mulai Obrolan Sore…”

“Jangan-jangan sibuk syuting sama 32 artis?” celetuk Kang Sronto.

“Enak aja!” sanggah Tukang Cerita.

“Eh, eh…aku ngerti kenapa Tukang Cerita prei!” seru Cengkir jahil.

“Saya lanjutkan…Duduk di kursi kayu bersandaran anyaman plastik…”

“Opo kuwi, Ceng?” tanya Lik Power bersekongkol.

“…Kang Sronto, Kang Guru, Lik Power, Juragan Brono, dan Cengkir…”

“Tukang Cerita abis patah hati!” kata Cengkir, final. Penuh kemenangan.

“…Suasana sore yang mendung memang paling enak….”

“Oalah…pantes…” Lik Power mengangguk-angguk prihatin. Peserta Obrolan Sore yang lain juga saling bertukar pandangan prihatin.

“Hoi, hoi!” protes Tukang Cerita.”

“Wis to, kalau belum bisa cerita, nggak usah dipaksa.” kata Lik Power bijak menenangkan.

“Tapi…”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Toh tidak ada berita baru selain video pendidikan yang dberitakan berlebihan itu.” kata Kang Guru menenangkan, memperburuk posisi tawar Tukang Cerita.

“Lho,lho, video pendidikan yang mana to, Kang Guru?” tanya Kang Sronto bingung.

“Itu lho, videonya artis dangdut Carangpedopo. Mas Gudril.” jawab KangGuru.

“Kok bisa jadi video pendidikan?” tuntut Kang Sronto masih belum dong.

“Ya, jangan dilihat isi filmnya. Tapi, apa yang bisa diambil sebagai pelajaran.” kata Kang Guru bijak sesuai kapasitasnya sebagai Guru Desa. Setelah menyeruput kopinya, Kang Guru melanjutkan. “Kalau mau bugil, jangan di depan kamera. Kalau mau begituan dengan pasangan yang sah. Kalau sudah terkenal jangan begituan di depan kamera yang bisa dimanfaatkan buat mengalihkan isu-isu penting desa.”

Peserta  Obrolan Sore manggut-manggut mendengar wejangan dari Kang Guru.

“Atau kalau pengen cepat terkenal, bikin aja video pendidikan seperti itu ya, Kang Guru?” kata Cengkir usil.

Peserta Obrolan Sore cengar-cengir miris mendengar sentilan dari Cengkir.

“Eh tapi, ngomong-omong soal pendidikan. Aku ini lagi  judeg tenan . Pusing beneran mikir anak wedokku , Nisa.” keluh Kang Sronto.

“Lha kenapa, to Kang?” tanya Cengkir.

Tak langsung menjawab. Kang Sronto menghisap rokok lintingnya dalam-dalam. Pandangannya menerawang kejauhan, sebersit duka tergurat di matanya. AkhirnyaKang Sronto memecahkan keheningan yang diciptakannya sendiri.

“Sekarang ini ndak bisa cuma modal pintar saja. Nisa NEM-nya 38, daftar SMA SBI (Sekolah Berstandar Internasional –red) di kabupaten. Dia PD dengan kecerdasannya, dan aku pikir juga disitulah tempat anak seperti Nisa berada. Menikmati pendidikan berstandar internasional.”

“Tapi begitu sampai di formulir pendaftaran, di bagian isian jumlah sumbangan buat sekolahan, Nisa hanya mengisi 300 ribu. Karena memang hanya itulah yang dia punyai, hasil dari bantu-bantu emaknya mencuci di tempat Juragan Brono. Lebih dari itu, dia tidak mau membebani orang tuanya.” Kang Sronto tercekat. Alih-alih berkaca-kaca, bola mata hitamnya justru mengeras. Kering Kang Sronto melanjutkan. “Langsung saja, nama Nisa ndak ada di papan pengumuman tes masuk SMA itu, dan berkasnya langsung dikembalikan.”

Hening.

“Untung saja anakku masih bisa masuk SMA itu.” kata Juragan Brono ringan. Jari-jari gemuknya tidak berhenti mengupas kacang rebus dari atas meja.

“Ya. Tapi itu karena uang juragan yang bisa masukin dia ke kelas khusus buat anak-anak yang mampu ekonominya tapi ndak mampu otaknya.” balas Kang Sronto sinis.

“Lha iya to. Sekarang ini jamannya modal. Modal. Sekolah aja sekarang ndak bisa mangkir, kalo pendidikan itu butuh modal. Makanya pendidikan sekarang ini juga cari modal sebanyak-banyaknya.” kata Juragan Brono mengelus cincin emas besar bermata rubi di jari tengahnya dengan puas, sebagai ganti mengupas kacang rebus yang sudah habis.

“Makanya, sekarang ini habis sekolah yang ada dipikiran itu gimana bisa balik modal dengan cepet, ya Gan.” celetuk Cengkir.

Juragan Brono hanya manggut-manggut sambil bersandar kekenyangan.

Obrolan Sore terputus karena tiba-tiba terdengar ledakan yang sepertinya tak jauh dari rumah joglo tua turun-temurun milik keluarga Cengkir ini.

Semuanya saling berpandangan. Semuanya menghela napas.

“Lagi-lagi tabung gas.” kata Kang Guru prihatin.

“Padahal Pemerintah melarang penjualan petasan dan segala macam bahan peledak lainnya, ya.” kata Cengkir.

Semuanya beranjak pergi menuju sumber ledakan. Mencoba sebisa mungkin membantu meringankan korban yang dipaksa memakai bahan peledak untuk keperluan sehari-hari.

Obrolan Sore pun berakhir.