Sore hari yang cerah.

Burung-burung mulai kembali berdatangan setelah seharian beterbangan kian kemari untuk mencari makan. Ribut diantara rindangnya pepohonan jati yang ditanam dengan jarak terukur, tepat di bawah barisan bukit kapur berbentuk kerucut (cone hill).

Di bawah bukit itulah berdiri seadanya sebuah pondok dari kayu pohon kelapa, beratapkan rumbai kelapa. Menyendiri diatas tanah pasir, diantara pepohonan jati. Cukup untuk sekedar terlindung dari terpaan angin laut yang berjarak hanya selemparan batu.

Dalam bilik sederhana berlantaikan pasir pantai, diatas meja dari kayu pohon nangka yang telah menghitam terdapat laptop yang telah berminggu ini tidak pernah dinyalakan. Duduk diatas kursi kayu usang, Tukang Cerita yang juga telah terdiam berminggu ini. Berminggu pula dia hanya menatap tebing tebing kapur dari jendela di depannya, dan hanya sesekali mengalihkan pandangannya ke layar hitam layar laptopnya.

Tiba-tiba sesosok laki-laki terpantul dari layar laptop yang telah berdebu itu.

“Hantu.” kata Tukang Cerita pendek.

“Huh! Orang yang gak punya perasaan emang gak bisa dikagetin!” dengus lelaki di belakang Tukang Cerita berjalan mendekat.

–PLAK–

“Aww!” Tukang Cerita mengaduh sambil memegangi kepalanya. Protesnya. “Apaan sih?”

“SIAPA YANG SEENAKNYA BIKIN KUBURAN KOSONG BUAT PENGEMBARA? ” seru Pengembara kesal.

“Oh…hehe..” Tukang Cerita nyengir tak merasa bersalah.

Pengembara berdiri di ambang pintu memandang ke atas bukit di depannya.

Hening.

“Ke atas,yuk!” ajak Pengembara.

“Takut ketinggian.” jawab Tukang Cerita.

“Mau di seret?” balas Pengembara. Karena memang fisiknya jauh lebih kekar daripada Tukang Cerita.

“Kejam.”

“Ga sekejam orang yang bikin kuburan buat sahabatnya yang masih idup.”

****

Mendaki bukit ini tidak memerlukan keahlian khusus, dan juga bukitnya tidak begitu tinggi. Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah tanah kapur yang terlihat padat tapi ternyata mudah rontok saat diinjak.

Pengembara yang sudah berpengalaman menaklukkan 4 dari 7 puncak tinggi dunia (seven summit), mendaki tanpa kesulitan. Beberapa kali dia melenting dengan ringan dari batu ke batu. Namun ketika melihat ke belakang, meski sedikit pucat, ternyata Tukang Cerita mampu mengikutinya dengan baik.

“Dasar pembohong.” gumam Pengembara.

“Hah?” tanya Tukang Cerita, mendongak.

“Bukan apa-apa.”

Pembicaraan mereka terhenti.

Keduanya tersihir dengan panorama di puncak bukit ini. Sejauh mata memandang terhampar luasnya beludru lautan biru dengan dihiasi renda ombak putih. Ketika membalikkan badan, berjajar raksasa hijau, barisan cone hill. Terbentang dari timur ke barat, seolah ikut juga mengagumi lautan lepas di bawahnya.

Pengembara duduk di batu tepi tebing yang menjorok ke laut. Laut persis ada di bawahnya.Tak seberapa jauh darinya, Tukang Cerita juga duduk di batu yang sepertinya sewaktu-waktu siap lepas dan terjun ke bawah.

Pengembara diam.

Tukang Cerita diam.

“Ini adalah tempat kesukaanku.” kata Pengembara memecah diam.

Tukang Cerita diam.

“Dia yang selalu menyukai laut, dan aku yang selalu suka dengan gunung…seperti tempat ini. Gunung dan Laut berdampingan. Telaga dan Samudera bisa hidup bersama.” kata Pengembara seolah pada diri sendiri.

Pengembara diam.

Tukang Cerita diam.

“Dia bakal bahagia?” tanya Pengembara memecah diam.

“Semestinya.” jawab Tukang Cerita, menghela napas.

“Bolehkah aku bertemu dengannya sekali…” pertanyaan Pengembara terpotong begitu melihat tatapan menusuk Tukang Cerita. Nyaris saja dia terjungkal ke laut.

“Tidak boleh. Dia sudah menentukan pilihannya. Jangan ganggu dia lagi!” kata Tukang Cerita rendah, berbahaya.

Pengembara diam.

Tukang Cerita diam.

Mendadak Tukang Cerita melompat, dan berlari menuruni jalan setapak waktu berangkat tadi.

Tergagap Pengembara mengejar Tukang Cerita. Dia sudah menduga tempat mana yang dituju. Di tengah jalan saat berangkat tadi, Pengembara berbelok dengan lincah. Memutar ke arah yang berlawanan. Beberapa kali kelokan curam lagi.

Akhirnya sampai ke tempat Tukang Cerita berdiri melepas kaosnya. Sebuah ceruk besar di tebing bukit. Bagaikan gigi yang berlubang. Kesiut angin laut tanpa ampun menerjang tempat ini, mengikis karangnya senti demi senti tiap tahunnya.

Pengembara tertegun melihat wajah Tukang Cerita. Wajah dididepannya bukanlah wajah sahabatnya yang ceria dan suka seenaknya.

Dingin – Keras – Kaku – Kejam

“Kamu akan kembali ke pekerjaanmu yang dulu?” tanya Pengembara, ragu.

Pengembara tahu, yang akan dilakukan Tukang Cerita adalah melompat dari tebing, yang memang sudah tidak terlalu tinggi lagi dari laut. Melompat ke udara bak rajawali yang membelah matahari sore yang mulai membulat. Kemudian sesaat kemudian menghunjam ke laut bagaikan pisau lipat. Setelah itu menghilang sampai waktu yang tidak bisa dipastikan.

Tukang Cerita tidak menjawab. Dia mulai melepas celana panjangnya dan menyisakan celana pendek.

“Tapi kau sudah berhenti 2 tahun!” Pengembara mencoba mencegah.

Sedetik kemudian, Tukang Cerita yang berdiri  jauh dari Pengembara, kini berdiri tepat di depan Pengembara.

“Mau mencoba?” desis Tukang Cerita tepat di depan muka Pengembara.

Pengembara terlonjak ke belakang, punggungnya menghantam dinding karang cukup keras. Sambil mengernyit kesakitan Pengembara menggeleng lemah.

Tukang Cerita melemaskan tubuh.

Pengembara menatap kosong sahabatnya.

Tidak banyak otot di sana, yang memang tidak dicetak untuk melakukan kekerasan. Tapi Pengembara sangat tau besarnya bahaya yang tersembunyi di balik tulang-tulang rusuk yang menonjol itu.

Wajahnya yang biasa saja, dan seluruh gerak-gerik tubuhnya yang telah terlatih sejak kecil untuk diabaikan dan dilupakan oleh orang lain.  Membuat kehadirannya seakan-akan tidak nyata di tengah keramaian.

Keseluruhan, lelaki ini memang dibentuk untuk melakukan tugas dibalik bayang-bayang paling kelam.

Dua tahun ini, dia sudah meninggalkan masa lalunya…tapi, kini tampaknya dia akan kembali lagi.

Pengembara menatap kosong sahabatnya.

Tanpa menoleh lagi, Tukang Cerita menyelipkan pisau lipat perak di mulutnya. Berjalan ke arah bibir cerukan dan mulai menghitung jarak dan daya lompatnya.

Saat itulah…

“Tunggu!”

Kali ini Tukang Cerita benar-benar terkejut. Pisau peraknya terjatuh ke buih ombak laut dibawahnya.

Pengembara juga sampai terlonjak dan menghantam dinding karang lagi. Mengernyit kesakitan lagi.

Tukang Cerita dan Pengembara menoleh ke sumber suara. Berdiri di jalan masuk ke ceruk ini, sesosok wanita yang dicintai dua lelaki ini.

Gadis Jam 5 Sore.

Angin berhenti bertiup. Udara membeku.

“Euh..?” lagi-lagi Pengembara yang memecah kebekuan.

“Tukang Cerita.” jawab Gadis jam 5 Sore.

Pengembara mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.

***

Tanpa bersuara Tukang Cerita dan Gadis jam 5 Sore saling mendekat.Berhenti pada jarak sekedar untuk bisa saling mendengar percakapan diantara mereka.

Tatapan mata mereka kini mulai berani beradu…sebentar.

“Jadi?” tanya Tukang Cerita, kering. Tampaknya belum seluruh karakternya yang dingin tadi hilang dari dirinya.

“Aku sudah memutuskan.” jawab Gadis jam 5 Sore pendek.

“Di sini?”

“Ya.”

“Kau tau resikonya?”

“Ya.”

“Bagaimana jika gagal?”

Gadis jam 5 sore tersenyum. Berjinjit dan memutar tangan dan tubuhnya, mengedarkan ke seluruh pesona alam ini.

Katanya tanpa beban sama sekali. “Aku akan mencari tempat seperti ini di belahan bumi lain, dimana laut dan gunung bisa bersatu…dan hidup sendiri seperti mu.”

Tukang Cerita tertegun.

Angin mulai berhembus. Menghembuskan segarnya udara pegunungan dan luasnya samudera.

T A M A T