Langkahku terhenti di sini.

Backpack besar yang membebani pundak, segera kuhempaskan begitu saja ke tanah di bawahku. Sekilas aku memandang tas yang berisi segala macam peralatan pentas pribadiku, untuk sekedar menyambung hidup di sepanjang perjalananku selama ini. Beragam lakon sudah aku perankan di jalanan, di sudut kota, di mana saja, demi meraup receh yang mengantarkanku ke perjalanan berikutnya.

Seringai kering yang menghiasi bibirku ketika aku mengalihkan pandangan ke sekelilingku, langsung lenyap. Kenyataan di depanku membuat segala macam perasaan positif yang pernah didefinisikan orang, menguap…lebih tepatnya, membeku.

Sejauh mata memandang, terlihat hamparan putih salju. Hanya dihiasi oleh pepohonan kering yang mencuat keluar dari permukaan putihnya salju, memberikan sentuhan warna hitam mengerikan. Seperti kepala orang yang terserang penyakit kulit parah.

Tepat didepanku, jalan bercabang membujur lurus pada dua akhir tujuan yang berbeda.

Persimpangan.

Sepanjang perjalananku, berungkali aku menemui persimpangan jalan seperti ini. Sebagian besar  jalan yang kupilih dari persimpangan itu, bukanlah jalan yang aku inginkan. Membawaku semakin jauh dari tujuanku.

Hingga tiba di sini. Persimpangan beku di ujung dunia.

Aku menghela napas.

Sakit…

Mungkin ini yang dimaksud para pujangga itu sebagai kehilangan separuh napas.

Aku jadi bernapas pendek-pendek di udara yang tipis dan kering ini. Pandanganku menjelajah sejauh mata bisa melihat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang bisa  kutanyai kemana kaki ini bisa melangkah.

Aku duduk di samping tas punggungku. Sengatan dingin langsung menyerang pantat begitu menyentuh tanah beku dan licin dibawahku. Aku tidak perduli. Aku mengeluarkan catatan kumal dan pensil 2 B dari tasku, kemudian mulai mencatat semua ini.

Aku mengalihkan mata dari kertas bergaris yang sudah lecek di depanku. Kembali, aku mengedarkan pandanganku. Semua masih tetap sama seperti tadi…bahkan mungkin akan tetap sama hingga berbulan-bulan ke depan. Waktu seolah ikut membeku di sini.

Matahari yang pucat dan mengkerut kedinginan di atas sana sepertinya enggan bertugas di daerah sini. Akibatnya, di sini semua diliputi warna kelabu. Benar-benar membuat dua jalan yang bersimpangan ini cuma terlihat beberapa meter ke depan saja.

Tapi aku yakin, salah satu jalan ini akan mengantarkan ku pada cahaya. Pada hangatnya tempat yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.  Itulah yang menjadi tujuan akhir perjalananku selama ini.

Aku bermimpi ada seseorang yang membawaku ke sana.

Tapi cuma mimpi. Karena Kata-Nya sendirilah yang sudah menegaskan,  jika ingin kesana, perbaiki dirimu karena hanya yang baik-baik dapatnya yang baik-baik pula.

Aku melihat diriku sendiri.
Dari ujung kaki aku melihat sepatu boot rendah kumal yang sudah tidak aku ingat lagi, dulu pertama kali aku beli apakah berwarna coklat terang atau hijau lumut. Di dalamnya, kakiku mati rasa meski dibungkus 3 kaos kaki tebal, yang membuat sepatu menjerit protes karena hampir tidak muat.
Diatas celana monyet berbahan wol, aku mengenakan celana terpal yang tebal. Empat lapis pakaian aku kenakan dibawah jaket tebal yang inipun sudah memudar warna dan seratnya. Aku melihat jemari tanganku yang bergetar hebat karena kedinginan meski sudah aku pakaikan sarung tangan wol tebal.
Begitu juga kepala yang aku bungkus dengan ushanka, topi bulu yang biasa dipakai orang-orang Rusia, terasa membeku dan bisa pecah berkeping-keping seperti kaca.

Secara keseluruhan, penampilanku memang tidak bisa disebut sebagai orang baik-baik. Kumal penuh noda dan lumpur…

Hufff…. haha…gigiku bergemeretak hebat. Tampaknya arti harfiah dan maksud dari sebuah ungkapan sudah bercampur-aduk dengan benakku yang sudah membeku ini. Bukan hanya tubuh, akal sehatku sepertinya sudah mulai membeku.

Cepat-cepat aku berdiri.
Aku sudah tidak bisa merasakan pantatku lagi. Mungkin nanti aku harus amputasi pantat…

Hahaha…

haha..

ha..

hah…hah…

Aku jatuh terduduk kehabisan napas. Uap putih napasku berebut keluar seperti kereta uap kehabisan batu bara.
Tampaknya sebentar lagi aku gila.
Tapi apa perduliku? Ditengah kesunyian kelabu seperti ini tampaknya bakal jadi panggung yang pantas bagiku untuk kehilangan kewarasanku…bahkan mungkin panggung yang megah untuk mengakhiri pertunjukanku.

Seperti menjawab keinginanku, tiba-tiba berhembus angin dingin. Berkesiut membaringkanku ke tanah. Menggodaku untuk sejenak memejamkan mata.
Tidak ada yang lebih aku inginkan daripada memenuhi panggilan untuk sejenak istirahat memejamkan mata. Meski kesadaranku yang sudah kabur berteriak mengingatkan, jika aku tertidur di sini matilah aku.

Untuk terakhir kalinya aku melihat sekelilingku.
Hamparan salju.. putih, indah tapi mematikan,
Tonggak-tonggak pohon meranggas yang menggelikan,
Matahari pucat kecil yang enggan bakal melihat satu lagi kematian di wilayah tugasnya,
Warna udara yang kelabu seperti selimut kematian,
Tas punggungl kumal yang sepertinya juga sudah malas melanjutkan perjalanan menemani tuannya ini,
Kertas kusut yang sudah berubah warna terselip disaku depan tas punggung itu, yang…

Hei!

Aku terbangun dan mengambil kertas yang sudah ratusan kali aku baca itu.

Puisi dari kekasihku.
Satu-satunya barang dari kekasihku yang aku bawa.

Kekasih hatiku.
Dialah alasan aku melakukan semua perjalanan ini.

Cintaku.
Jika mengingat dia, otomatis aku juga mengingat satu orang lagi.
Tubuhku jadi menghangat.

Dia yang selalu punya banyak cerita,
dia yang membuatku iri, tanpa jauh-jauh dari laptopnya sudah bisa menceritakan seluruh isi dunia,
dia yang selalu cengar-cengir apapun yang terjadi.

Bahkan, saat memberikan puisi ini padaku
puisi dari orang yang juga dia cintai.

Ringan dia berkata sambil menyerahkan puisi ini, “Hoi Penakluk Wanita! Ini puisi buatmu, dia ternyata memilihmu! Jaga dia baik-baik!

Nyaris pingsan karena senang aku waktu itu.

Tapi, seperti kataNya tadi : “yang baik cuma untuk yang baik”

Segera saja aku kirim surat untuk belahan jiwaku itu.
Aku akan melakukan perjalanan untuk menjadi lebih baik.
Lebih mandiri.
Lebih dewasa.

Matahari menjadi bersinar cerah,
warna kelabu menjadi sirna,
putihnya salju terlihat berkilau.

Kupanggul kembali tas punggungku. Kuayunkan kembali langkah kakiku, meninggalkan jejak sepatu boot dibelakangku. Tidak ada gunanya berhenti lebih lama di sini. Meski kali ini aku kembali melangkahkan kaki pada jalan yang tidak aku inginkan, dan mungkin semakin jauh dari tujuanku semula. Aku tidak perduli.

Terus melangkah…

*****

Tukang Cerita memandang tulisan tangan cakar-ayam di kertas bergaris yang bahkan lebih kusut lagi. Matanya diburamkan oleh air matanya yang mulai menggenang.

“Si sialan ini dari dulu tulisannya selalu sulit dibaca…” kata Tukang Cerita tercekat sambil mengusap matanya.

Tukang Cerita menatap pusara kosong orang yang menulis coretan yang sedang dipegangnya. Airmatanya nyaris terbit lagi, jika saja tidak ada suara lembut tapi berefek seperti guntur yang tepat menyambar dibelakangnya.

“Hai!”

Sedikit terloncat, Tukang Cerita membalikkan badan. Saat ini, satu-satunya yang tidak ingin Tukang Cerita temui adalah wanita didepannya ini. Tubuh mungil tapi memiliki senyum luas dan mata bulat penuh, selalu membuat Tukang Cerita membeku…mungkin lebih dari Pengembara ini tulis dan rasakan. Betapa Tukang Cerita mencintainya.

Gadis itu melangkah maju ke depan, berdiri tepat di depan makam kosong Pengembara. Tampak dia sedang memanjatkan doa.

Keheningan yang terjadi terasa mencekik.

“Ibu Pengembara mengucapkan terima kasih padaku.” kata wanita didepan Tukang Cerita memecahkan kesunyian, tanpa membalikkan badannya. Lanjutnya. “Ibunya bilang, belum pernah melihat wajah anaknya begitu dewasa dan teguh saat terakhir kali pamitan hendak mengembara. Semua itu berkat puisi yang aku berikan padanya.”

Tukang Cerita terdiam, terpaku melihat bunga kamboja yang gugur disekitar kakinya.

“Kamu tahu puisi itu untukmu?” tanya wanita didepan Tukang Cerita, tetap belum mambalikkan badannya.

“Tahu.”  jawab Tukang Cerita kering. Tidak mungkin Tukang Cerita tidak tahu dan melupakan 1 lembar tulisan lagi yang disertakan dalam amplop puisi itu. Tukang Cerita sendiri yang mengambil 1 lembar kertas itu sebelum menyerahkannya pada Pengembara.

Hai! Aku Gadis Jam 5 Sore. Aku mencintai Tukang Cerita, seperti puisi ini mencintai cerita-ceritanya. Maafkan aku.

Gadis Jam 5 Sore berbalik. Sekilas menatap Tukang Cerita, tapi sudah cukup membuatnya meleleh.

“Semoga kau baik-baik saja…wahai lelaki sederhana berhati samudera.” kata Gadis Jam 5 Sore sebelum melangkah pergi.

“Iya…”

T A M A T