Setelah menikmati luas dan kosongnya stasiun Purwokerto , sudah saatnya aku beranjak pulang dan memulai aktifitas sehari-hari seperti biasa. Enggan aku berdiri dari bangku panjang warna gelap dan dingin yang di tempatkan di sepanjang stasiun. Kukemasi barang dan cindera mata dari Amprokan Blogger Bekasi.

Ketika berbalik hendak melangkah keluar, langkahku terhenti.

Aku terpana melihat sosoknya.

Aku dan dia saling berpandang.

Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lebih kurus dari waktu terakhir kali aku melihatnya, matanya terlihat cekung dan ada gurat kesedihan dan penderitaan di dalamnya.

Tidak ada senyum aku kembali duduk. Dia pun duduk di sebelahku.

Menit berlalu tidak ada kata terucap diantara kita. Aku dan dia hanya terdiam menatap kejauhan. Kembali menikmati luas dan kosongnya stasiun Purwokerto. Hanya saja kali ini benakku tidak benar-benar Hadir . Kali ini pikiranku benar-benar kosong.

Suaranya yang memecahkan keheningan mengejutkanku. Mengalir seperti sungai es, dia bercerita tentang hidupnya.

Tidak ada nada mengasihani diri sendiri dalam setiap kata yang terucap dari mulutnya yang kering.  Justru kata-kata sedingin es yang keluar, tipis dan tajam mengiris kesadaranku.

Dia bilang,

selama ini dia selalu berpikir dan berproses kreatif, selalu menghasilkan sesuatu yang lain dari yang lain, tidak lain adalah anestesi untuk masa lalunya yang menyakitkan.

selama ini dia selalu tertawa lebar-lebar, tidak lain adalah anestesi untuk melupakan keinginan untuk menangis keras-keras.

selama ini dia selalu mendengarkan semua orang, tidak lain adalah anestesi bagi dirinya yang tidak pernah didengarkan.

selama ini dia selalu membaca, tidak lain adalah anestesi bagi dirinya yang tidak pernah “dibaca” atau dimengerti.

selama ini dia selalu menulis, tidak lain adalah anestesi bagi dirinya yang tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara.

selama ini dia selalu diam, tidak lain adalah anestesi untuk segala cacian yang ditujukan baginya.

selama ini dia selalu mencintai banyak orang, tidak lain adalah anestesi bagi dirinya yang tidak pernah merasakan dicintai.

selama ini dia selalu bepergian, tidak lain adalah anestesi bagi dirinya yang tidak punya rumah untuk pulang.

Anestesi…
overdosis…
“mati”….

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku.

Aku berdiri, dia pun berdiri.

Kembali aku dan dia saling berpandang.

Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lebih kurus dari waktu terakhir kali aku melihatnya, matanya terlihat cekung dan ada gurat kesedihan dan penderitaan di dalamnya.

Kali ini aku dan dia tersenyum.

Aku tidak bisa mengartikan senyumnya. Mungkin sama dengan dia yang tidak bisa mengartikan senyumku.

Tipis – dingin – lelah – perih

Aku mulai melangkahkan kaki beranjak meninggalkan stasiun kereta api.

dia pun sama.

————————————————————————

Tulisan Ketiga dari Trilogi “Kosong” :

1. Hadir

2. Kosong

“ngg….kalau misalnya ada yang berkenan membaca urut seri 1 trus langsung dilanjut seri 2, setelah itu langsung baca seri 3….bakal ada kesan khusus yang tertangkap, ndak ya? kalau ada yang nekat berkenan membaca seperti itu…mohon komentarnya (worship)