Kereta Sawungalih Utama jurusan Kutoarjo memasuki stasiun Purwokerto jam 2 pagi. Dingin dan basah karena gerimis menyambut penumpang yang baru turun dari kereta api kelas bisnis yang per tanggal 1 Maret 2010 melambung lagi harga tiketnya.

Menenteng segala macam oleh-oleh dari Amprokan Blogger : Bekasi Bersih Partisipasi Blogger, saya turun dari kereta api tersebut di atas.

Estiko sang Ketua Blogger Banyumas “Bawor”, langsung memesan Taksi yang akan mengantarnya entah kemana. Beliau juga menyarankan saya untuk naik taksi mengikuti jejak langkahnya, toh barusan mendapat uang saku.

Saya menolak dengan alasan, duitnya mau aku pake buat modal beli sapi aku nunggu angkot bangun saja.

Dimulai lah penantian 4  jam yang diisi dengan duduk di bangku Stasiun Purwokerto tanpa melakukan aktifitas yang berarti. Hanya duduk.

Kurang kerjaan?

Jelas.

Tapi, memang tidak banyak yang bisa dikerjakan jam 2 pagi di stasiun tanpa leptop dan musholla yang terkunci.

Selain itu, dari kecil saya suka kereta api.

Saya juga suka stasiun kereta api….mungkin karena luas dan “kosong” yang saya rasakan di setiap stasiun kereta api.

Maka, biasanya saya rela duduk menunggu berjam-jam menanti kereta yang akan saya tumpangi ataupun menunggu sampai ada angkot/bis yang mengantarkan saya melanjutkan perjalanan sampai tujuan.

Duduk diam, benar-benar merasakan arti kata Hadir. Hadir menikmati kekosongan yang disajikan oleh stasiun kereta api.

Tidak mengenang masa lalu,

tidak membayangkan masa depan,

tidak memikirkan rencana-rencana,

tidak menyesalkan ditolaknya pinangan saya oleh Dian Sastro yang lebih memilih lelaki dengan penghasilan sedikit lebih banyak dari saya…. (bener kok, cuma terpaut 2 milyar per bulan)

Cuma hadir di saat itu, menikmati semuanya.

Melihat orang-orang yang kelelahan yang terlelap di bangku ataupun di lantai stasiun,

menghirup aroma kopi dari cafe berhotspot belakang tempat duduk saya,

tersenyum dengan para penjual, tukang ojek, tukang becak, sopir taksi yang seperti tak pernah kehabisan bahan bakar menawarkan dagangan atau jasanya,

mencuri dengar segala awan obrolan yang berdengung di sekitar saya,

melihat sekilas-pintas pertandingan sepak bola Deportivo La Corunä menghadapi musuhnya….

Menikmati itu semua…

Kosong…tanpa menyesal, mengeluh ataupun cemas.

(Satu hal yang tidak boleh kosong adalah “kewaspadaan”. Sekali lengah…kita akan pulang dengan tangan dan dompet kosong).

Akhirnya,
jam bangun angkot tiba.

Diiringi original soundtrack syahdu, saya melangkah meninggalkan stasiun Purwokerto. Kamera pun bergerak menjauh

–FADE OUT—

Kembali ke kehidupan sehari-hari, saya pun kembali memakai Anestesi <==(maaf harusnya ini ada link, karena memang belum dipublish)

—————————————-

Tulisan Kedua dari Trilogi “Kosong” :

1. Hadir

3. Anestesi