Masalah,

tekanan,

dan kemalangan yang bertabur di sana-sini,

membuat nadi ini serasa ingin dihentikan saat ini juga.

Bukan, bukan…kata-kata diatas bukanlah puisi.
Itu hanyalah pembuka ingatan saya akan suatu cerita tentang tekanan-masalah-dan kemalangan yang menghinggapi seseorang. Menarik keluar sebuah pernyataan : “Duh, kalau begini mending saya tidak dilahirkan saja!”

Sampai titik ini saya teringat akan cerita dari Don Rosa sang penulis The Life and The Times Scrooge.

Di salah satu edisi ulang tahun Donal Bebek (salah satu koleksi berharga saya yang kini telah hilang…hiks๐Ÿ˜ฅ ),
Don Rosa bercerita :

“Hari ini adalah hari ulang tahun Donal,
seperti biasa, tidak ada yang memperhatikannya. Sementara kemalangan yang dialami Donal masih senantiasa menimpanya, betapapun kerasnya dia berusaha.

Semua sibuk tak memperhatiakan dirinya.
Paman Gober masih sibuk memarah-marahi Donal di gudang uang tempatnya bekerja,
Ketiga keponakan Donal (Kwak-Kwik-Kwek), sibuk dengan kegiatan Pramuka Siaga-nya
Desy sang kekasih juga tidak memberikan kabar.

Ketika pulang kerja,
berjalan lunglai, Donal mengeluh :
“wek-wek..wek-wek-week?!”

……
Maaf kepada para puritan, sebaiknya segala percakapan di dunia bebek saya tuliskan saja ke dalam bahasa Indonesia.

Saya ulangi,

Ketika pulang kerja,
berjalan lunglai, Donal mengeluh :
“Kenapa aku harus dilahirkan?! Kalau selalu saja dapat sial dan orang-orang mengabaikan aku… Toh tanpa aku, kehidupan di dunia tetap bisa berjalan. Bahkan mungkin lebih baik.”

Beberapa saat kemudian…beberapa kotak gambar kemudian, maksud saya,
Kepala Donal terantuk sesuatu (pastinya saya sudah lupa),
dia pun pingsan.

Saat pingsan ini, Donal dibawa oleh seseorang…uhm, sesebebek ke masa dimana harapannya untuk tidak terlahir tadi terkabul.

Pertama,
Donal terkejut sekali melihat kota Bebek menjadi seperti kota mati. Kumuh dan sepi.
Lebih mengherankan lagi, Gudang Uang yang merupakan ikon kota Bebek juga telah berubah jadi bangunan kumuh dan disegel di sana-sini dengan papan kayu.

Donal melanjutkan berjalan menyusuri jalanan yang telah mati ini.
Pada sudut jalan yang kumuh jalan itu, Donal begitu terkejut mendapati seorang gelandangan tua yang sangat menyedihkan…

Paman Gober?!

Bagaimana bebek yang paling kaya sedunia bisa terpuruk pada kondisi yang begitu menyedihkan seperti ini?
Donal berhasil menanyakan sebab semua ini ke Paman Gober yang telah begitu jadi paranoid.

Donal mendapat jawaban :
Paman Gober kehilangan keping pertama (Don Rosa selalu mengoreksi, itu keping pertama dan bukan keping keberuntungan seperti yang disebut orang-orang) yang menjadi inspirasinya. Keping pertama ini dicuri oleh si penyihir Mimi Hitam.

Sejak saat itu Paman Gober kehilangan semangat dan inspirasinya, bisnis pun memburuk. Kota Bebek pun mengalami kemunduran ekonomi yang signifikan, karena selama ini Perusahaan Gober lah yang menopang Kota Bebek.

Tertegun, Donal melanjutkan langkahnya.
Sampai di rumahnya, kembali dia terperangah.
Ketiga keponakannya, Kwak-Kwik-Kwek, menderita obesitas parah yang hanya bisa duduk di depan televisi sambil terus-menerus memangku makanan. Bahkan untuk mengambil remote tv mereka pun terlalu malas, dan menyuruh Donal untuk mengambilnya.

Kwak-Kwik dan Kwek ternyata selama ini tinggal dengan Untung Angsa yang selalu beruntung. Keberuntungan Untung ini membuat ketiga bebek kecil ini tidak perlu hidup prihatin, karena semua keinginan mereka terpenuhi. Tidak perlu bekerja (beraktivitas) karena tanpa bergerak pun mereka sudah mendapat apa yang mereka inginkan.

Setelah itu Donal kembali menemukan beberapa kekacauan lagi (yang saya lupa detilnya).

Tapi dari keseluruhan kekacauan ini Donal mulai bisa menarik kesimpulan:

  1. Paman Gober tidak punya pekerja yang gigih mempertahankan keping pertamanya, hingga bisa dicuri oleh Mimi Hitam. Biasanya yang mempertahankan keping pertama Gober dari incaran para penjahat adalah dirinya, Donal Bebek.
  2. Ketiga keponakannya jadi anak-anak obesitas yang manja karena diasuh oleh bebek yang selalu beruntung di sepanjang hidupnya. Bukan bebek yang selalu hidup pas-pasan yang membuat ketiga bebek kecil ini harus selalu aktif dan kreatif. Bebek yang hidup pas-pasan ini adalah dia, Donal Bebek.

Donal sadar,
betapapun tidak berartinya dia,
betapapun selalu sialnya dia,
Keseimbangan hidup bakal kacau jika dia tidak terlahir di muka bumi ini.

Bagaikan mozaik atau rajutan, betapapun tidak berartinya seseorang…sebuah “grand design” tidak akan lengkap jika kurang satu bagian mozaik atau rajutan itu. Bahkan mungkin akan timbul kekacauan yang tidak disadari.

Itu lah kenapa sang Pencipta grand design tidak suka pada hamba-Nya yang berbuat kerusakan,
dan tidak memaafkan pada hamba-Nya yang mengacaukan grand design-Nya dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Jadi…
masihkah berharap “Andai Aku Tak Terlahir?”