Sore hari.
Semilir angin sore berhembus masuk ke teras depan rumah joglo yang telah berusia beberapa generasi. Selama beberapa generasi itu juga, setiap sore di rumah Cengkir selalu diwarnai dengan gojek-kere para pemuja Obrolan Sore. Gojek berarti bercanda, kere berarti miskin. Di tengah himpitan tuntutan kebutuhan rumah tangga, para pelakon Obrolan Sore selalu bisa menertawakan kondisi kini yang bahkan paling absurd sekalipun.

Meski beberapa kali suasana dialog menjadi sedikit panas, itu hanya terjadi selama berlangsungnya acara Obrolan Sore itu saja. Setelah itu ketegangan segera menguap digantikan topik lain di sore berikutnya. Wajar saja, ini karena warga Carangpedopo begitu pemaklum. Kalau toh nanti suatu kasus berulang kembali, paling hanya menghangatkan Obrolan Sore untuk kemudian dilupakan kembali.

Sore ini terasa berbeda.
Walau di luar sana banyak yang meributkan lomba adu cicak melawan buaya, Carangpedopo anehnya kali ini tidak atau belum terpengaruh buat sekedar ikut meramaikan ajang diskusi menjago mana yang lebih unggul. Rumah Cengkir yang biasanya menjadi ajang adu paling sok pinter, nggambus atau asal njeplak mengungkapkan apa yang terlintas di pikiran para pemuja Obrolan Sore, entah kenapa kini sepi.

Bukannya tidak menyenangkan. Suasana ini justru menentramkan.
Cengkir yang duduk termangu di kursi kayu beranyaman plastik di teras rumah, merasa nyaman sore ini. Badannya telah wangi oleh sabun “tjap Merak” . Tidak biasanya, Cengkir sudah rapi sebelum adzan Maghrib dikumandangkan.

Tak berapa lama, empat orang tamuhadir memasuki teras rumah. Ada Kang Guru, mas Roy, dan dua orang yang belum pernah Cengkir lihat di desa Carangpedopo. Satu Bapak muda dan satunya Ibu muda. Tampaknya pasangan muda.

Setelah semua duduk mengelilingi meja kayu jati bundar yang telah menghitam karena menjadi saksi Obrolan Sore selama beberapa generasi dan Cengkir juga telah mengeluarkan teh manis hangat dan ketela goreng yang diiris tipis-tipis, percakapan dimulai.

Mas Roy mengenalkan tamu yang diajaknya kepada Cengkir. Mas Roy berkata. “Ini Kir, ini mas Kuti dan ini mbak Dee dari Rumah Kayu.”

Cengkir bersalaman dengan Kuti dan Dee.

“Mereka ini blogger, lho Kir.” lanjut Mas Roy yang kuliah di FISIP tapi lebih suka komputer.

“Wah, wah…hebat, ya!” kata Cengkir takjub.

Tidak perlu dijelaskan apa itu blog. Karena Cengkir yang suka main dengan Mas Roy sudah tahu apa itu weblog, website dan internet.

“Ini beneran Cengkir udah tau ato Tukang Ceritanya yang males njelasin apa itu blog?” potong mas Roy. “Tukang Cerita nya itu mualesnya setengah mati, kok. Mosok ada yang minta dijelasin UU ITE pasal 27 ayat 3 malah suruh ke blognya Kang Blontank, to!”

“Eh…nganu…itu…” tergagap Tukang Cerita mendapat gugatan dari mas Roy. Cepat-cepat Tukang Cerita bertanya kepada Cengkir. “Kamu udah tau apa itu blog, iya kan Kir?”

Inggiih…” Cengkir meng-iya-kan.

Senang rasanya punya tokoh utama yang penurut.

Obrolan Sore pun bisa dilanjutkan.
Kuti dan Dee hanya senyum-senyum maklum melihat debat singkat warga desa Carangpedopo dengan Tukang Cerita.

“Mas Kuti dan mbak Dee ini baru tinggal bersama di Rumah Kayu selama 11 bulan, tapi sudah bisa menerbitkan buku, lho Kir.” kata Kang Guru. Kemudian Kang Guru menyerahkan sebuah buku ke Cengkir sebelum melanjutkan. “Ini bukunya..”

rumahkayu_scale

“Senandung Cinta dari Rumah Kayu.” Cengkir membaca judul buku yang baru diterimanya. “Sepertinya apik ini, isinya tentang apa, ya?”

“Lha itu, ada di bawah judul bukunya. Yaitu tentang keluarga, persahabatan dan cinta.” kata KangGuru.

“Oo…ya, ya. Nganu, kalau yang tentang cinta, itu seperti gimana?” bahasan tentang cinta adalah yang terpenting bagi gejolak masa muda Cengkir.

“Mungkin saya bisa jelaskan dengan contoh kasus mas Cengkir sendiri.” Kuti berkata menjawab pertanyaan Cengkir. Kuti melanjutkan. “Jika kelak mas Cengkir mau mencari jodoh untuk dinikahi. Mas Cengkir bisa memakai strategi perang Sun Tzu yang sudah saya tuliskan di buku ini.”

“Karena pernikahan itu diharapkan sekali seumur hidup, maka kita dituntut untuk benar-benar mengetahui pasangan kita. Mengenai nilai-nilai hidupnya, harapan-harapannya, dan apakah ada kesetaraan secara intelektual dan spiritual. Tapi buat mencari itu semua pada calon pasangan kita. Justru yang harus dipelajari adalah diri kita sendiri. Bagaimana nilai hidup kita, harapan kita.”

“Kalau semua sudah klop.” lanjut Kuti. “Kita bakal menerima pasangan hidup kita apa adanya penuh dengan cinta. Dan tidak bakal melakukan kekerasan dalam rumah tangga.”

“Wih, wih…hebat, yo.” kata Cengkir takjub. Cengkir melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya. “Lha, kalo yang persahabatn itu contoh di buku ini, gimana?

“Seperti ini, mas Cengkir..” kali ini Dee yang angkat bicara. Cengkir sempat terhenyak, karena inilah pertama kalinya Obrolan Sore diwarnai dengan suara merdu seorang perempuan. Dee melanjutkan. “Teman-teman saya itu kan banyak yang ajaib. Nah, salah satunya saya ceritakan di buku, teman saya yang waktu ngidam pengennya bawa mobil sendiri menempuh jarak yang jauh. Lalu kami menyebutnya ngidam jadi sopir.”

Diselingi tertawa geli, Dee melanjutkan ceritanya. “Bahkan temen saya itu, masih punya keinginan saat hendak melahirkan kelak, dia sendiri yang bawa mobil. Tentu saja langsung kami cegah. Kalau benar-benar terjadi, tidak terbayang kekacauan yang ditimbulkan.”

“Atau seperti teman saya itu.” timpal Kuti. “Dia terpaksa mencarikan cewek buat kliennya. Kemudian dia membawa klien-nya ke lokasi seperti itu. Saya tanya, apa dia ikut menikmati? Temanku itu menjawab, `iya lah. Sekali-kali kita kan butuh variasi. Setiap hari makan ayam goreng, pastilah bosan. Jadi sekali-kali perlu ganti makan bebek bakar.`”

“Saya tidak setuju pola pikir seperti ini.” lanjut Kuti.”Saya bilang ke temenku itu, `Jika bosan dengan ayam goreng, jangan ganti ayamnya tapi ganti lah menunya.'”

Kang Guru, mas Roy dan Cengkir mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kuti. Hanya saja, Cengkir belum begitu paham dengan analogi obrolan dewasa yang baru saja diutarakan Kuti. Dia hanya ikut-ikutan saja, untuk menghormati tamu.

“Intinya, demi persahabatan, kita harus mau saling nasehat menasehati, ya.” kata KangGuru mengambil kesimpulan.

“Betul, Kang Guru.” Dee mengiyakan.

“Persahabatan itu bukan cuma milik orang kota, ya to Mas Roy?” tanya Cengkir.

“Betul itu, Kir.” jawab mas Roy.

“Di desa ini juga ada kisah-kisah persahabatan, ya to Mas Roy?”

“Betul itu, Kir.”

“Bedanya, di sini sesama sahabat ndak banyak saling menasehati, ya to Mas Roy?”

“Bet…lho,eh. Gimana, to Kir?! Ya sama aja. Di sini juga saling nasehat menasehati sesama sahabat!” protes mas Roy.

“Ndak ah…kalo dinasehati mereka cuman jawab ‘hmooo…’ sama ‘mbeeek…'” tandas Cengkir.

“We lah…wedhus!” maki mas Roy dengan menyebut nama hewan yang enak di tongseng itu.

Spontan, semua tertawa.

Merasa suasana sudah cair, Dee kumat rasa jahilnya. Mendadak dengan muka serius, Dee berkata dengan nada resmi. “Kami berdua mohon maaf secara khusus kepada mas Roy.”

“Hah? Lho…kenapa? Ada apa?” tanya mas Roy bingung. Apalagi, sepertinya raut muka Dee menunjukkan permintaan maaf yang tulus.

“Karena…” ujar Dee masih dengan nada resmi. “Di buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu ini, kami menuliskan untuk tidak sekali-kali mengabadikan tubuh telanjangnya dengan media apapun. Ini tentu mengganggu kenyamanan…atau kesenangan mas Roy.”

“Eh…nganu…ya, ndak to. Saya kan cuman menjalankan tugas.” kata mas Roy tanpa sadar.

“Woo lah…wedhus!” gantian Cengkir yang memaki mas Roy.

Kembali, peserta Obrolan Sore kali ini tertawa lepas.
Obrolan pun dilanjutkan dengan membahas beberapa hal dari buku terbitan sendiri Dee dan Kuti tersebut.

Cengkir akhirnya menyadari. Limpahan cinta yang berawal dari keluarga yang bahagia dan harmonis akan berimbas kepada lingkungan dan orang sekitarnya. Itulah kenapa sore ini, suasana rumah Cengkir menjadi lebih nyaman dan tentram. Celoteh riang burung-burung yang biasanya luput dari perhatian, kini terasa terdengar merdu di telinga Cengkir. Berbincang dengan seorang yang memiliki cita rasa seni dan pendidikan memang bisa mengasah kepekaan cita rasa seni kita sendiri.

Di tengah asiknya mereka berbincang ringan, tiba-tiba..,

Wis, yo! Sampai nanti malem, yo!” seorang jagoan cilik melambaikan tangan tanda perpisahan kepada serombongan anak-anak seusianya.

Kemudian, jagoan cilik itu berbalik dan menghambur ke arah Dee dan Kuti. Dengan ribut, dia berkata. “Bunda, Papa! Nanti malam terang bulan. Dipta mau maen petak umpet sama teman-teman, boleh ya. Ya?!”

“Ee…ini anak datang-datang…Salaman dulu sama om Cengkir.” tegur Dee. “Kenalkan om, ini Pradipta. Cahaya keluarga kami.”

Setelah bersalaman dengan Cengkir. Pradipta kembali mengumandangkan tuntutannya, bermain petak umpet di bawah bulan purnama bersama teman-teman barunya. Anak-anak desa Carangpedopo. Sudah menjadi kebiasaan, begitu bulan purnama penuh yang terasa dekat sekali dengan bumi seakan cuma sepenggalah saja, anak-anak desa Carangpedopo keluar rumah dan memainkan segala macam permainan. Sinar bulan purnama cukuplah menjadi penerangan bagi mereka yang menyambutnya dengan suka cita bermain di bawahnya, di kala malam hari.

“Sebelum Bunda jawab. Cerita dulu dong, Dipta seharian ini main kemana saja. Lihat saja, kotornya tubuhmu ini pantas kalau disamakan dengan orang-orangan sawah!” tuntut Dee geli. Meski wajah Pradipta nyaris tertutup lumpur, sinar bening yang terpancar dari matanya tidak bisa ditutupi.

“Wuah…tadi Dipta main di sawah, trus tarzan-tarzanan di sungai, perosotan di tebing sana itu. Wis, pokoknya muanteb banget!” kata Pradipta menggebu-gebu.

Kuti tidak bisa menahan geli. Kuti tertawa lepas. kemudian, susah payah menahan tawa, Kuti bertanya pada Pradipta. “Cil…kamu ini. Baru juga sebentar di sini. Gaya bicaramu itu sudah seperti anak asli Carangpedopo?”

Wis, Pa…ini yang namanya asimilasi budaya!” jawab Pradipta spontan.

Tak pelak, semua kecuali Pradipta tertawa terpingkal-pingkal.

Tak salah lagi, Pradipta sudah terkena pengaruh budaya Carangpedopo. Dari yang tua sampai anak-anak, semua suka menggunakan kosakata koran. Entah mengerti artinya atau tidak, kosakata koran digunakan begitu saja dalam keseharian warga Carangpedopo. Sebagian menggunakannya sebagai bahan guyonan atau lelucon, sebagian lagi menggunakan sebagai sekedar gaya-gayaan saja.

Rekaman Murottal Quran sudah mulai diperdengarkan dari masjid desa. Kuning sore yang cerah sudah beralih menjadi jingga menjelang Maghrib. Obrolan Sore pun berakhir.

Malam ini Dee dan Kuti dari Rumah Kayu akan bermalam di Pondok Bambu milik Kang Guru. Tapi sebelum itu, pasangan dari jauh ini punya tugas berat. Yaitu merendam Pradipta sampai bersih, sebelum diumbar kembali. Mengikuti sesi malam permainan ala anak-anak Carangpedopo.

————————–
Inilah adalah Seri Kedua ulasan saya dari buku Senandung Cinta Rumah Kayu.
Ikuti juga tulisan saya, dengan buku yang sama tapi sudut pandang yang berbeda di :

1. Pradna Cahbagus (Senandung Cinta dari Rumah Kayu)

3. Pradna Jogloabang (Oprek Senandung Cinta dari Rumah Kayu)

Iklan