tolak_uu_ite

 

Sore hari.

Obrolan Sore belum juga dimulai, Kang Sronto sudah berdiri tidak tenang di teras rumah Cengkir. Matanya nanar menatap ke arah jalan menuju rumah tempat obrolan sore dilaksanakan turun temurun. Tangannya terkepal menahan dendam. Urat-urat nadi menonjol jelas di balik kulit hitam legam, seolah ingin berteriak dari dasar hati yang kelam. Kang Sronto sudah tidak bisa bersikap sronto (sabar) lagi, kali ini.

Saat dibuai amarah itulah, Cengkir sang tuan rumah keluar sambil membawa nampan berisi teh tawar hangat dan jadah goreng sebagai penyemarak obrolan sore kali ini. Kang Sronto yang berdiri membelakangi Cengkir, hanya melirik sekilas pemuda kurus nan bersahaja itu meletakkan bawaannya di meja jati yang berusia beberapa generasi menjadi saksi gayengnya obrolan dan gojek kéré di teras rumah ini.

Anehnya, begitu Cengkir menaruh apa yang dibawanya, langsung terdiam melihat ke atas. Kang Sronto tidak memperdulikan kelakuan Cengkir. Matanya kembali nyalang menanti sesuatu muncul dari jalan didepannya itu.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Rombongan kecil tamu undangan, berisikan Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy, datang memasuki teras rumah joglo itu. Kaku, Kang Sronto menyilahkan duduk para tamu yang memang sengaja diundang Kang Sronto di obrolan sore ini.

Mereka pun duduk di kursi kayu beranyaman plastik yang mengelilingi meja jati bundar yang sudah berisi minuman dan kudapan. Sedangkan Cengkir masih terdiam terpaku melihat ke atas.

Setelah melonggarkan tenggorokan dengan hidangan yang ada, dan satu lintingan rokok racikan sendiri yang bahan-bahannya selalu ada di atas meja. Kang Sronto menegakkan badan, seolah seperti betara Krisna yang hendak menggugat Kurawa.

“Saya mau bertanya.” Kang Sronto membuka percakapan dengan resmi.

Lik Power sebagai ketua rombongan yang menjawab. Tak kalah resmi.  “Silahkan.”

“Baru kali ini Kaur pake wakil Kaur. Apa ndak cukup sekretaris Kaur buat mbantu tugas harian Kaur?” Kang Sronto memulai gugatannya.

Lik Power melirik Juragan Brono yang baru sebentar menikmati kursi Lembaga Musyawarah Desa, sudah ditarik menjadi Kaur Perekonomian.

Juragan Brono membasahi tenggorokan dengan teh tawar sebelum menjawab. “Tugas Kaur itu semakin hari semakin berat. Jadi perlu ada wakil yang mbantu disamping sekretaris Kaur.”

“Tapi nanti jadi tumpang-tindih sama tugas sekretaris Kaur?”

“Ya ndak,lah. Kan, nanti dibikin peraturan yang jelas soal wilayah kerjanya.”

“Jangan-jangan ini karena para Kaur itu bukan dari bidangnya, jadi perlu orang-orang yang bener-bener ahli?”

“Ehm…o,ndak Kang. Semua pas di bidangnya,kok. Buktinya,saya yang pengusaha ini dimasukkan ke bidang perekonomian.”

“Hmm…brati, biar orang kayak Juragan Brono ini tetep bisa menjalankan bisnisnya dengan tenang?”

“Eh,nganu…” Juragan Brono mulai grogi. “Ndak,ah. Mosok kayak gitu. Semua harus fokus pada tugasnya masing-masing,kok…kayaknya.”

“Makanya, gaji Kaur minta dinaikkan ya.” kata Kang Sronto sini. Kemudian melanjutkan. “Saya ini kok heran, para Kaur Desa itu sudah gajinya tinggi, dapat Andong dinas mewah. Lha kok baru seminggu dilantik, sudah minta kenaikan gaji. Piye, to?!”

“Ehm,ehm.. begini Kang Sronto. Kenaikan gaji ini sudah struktural. Jadi jangan dilihat kenaikan gajinya, tapi secara struktural.”

“Asshh…Ndak usah pake bahasa susah kayak gitu. Itu cuman buat mbohongi rakyat aja. Pake bahasa sulit,biar rakyat ndak mudeng. Gampangnya,gimana?!” tukas Kang Sronto.

“Gini contohnya. Gaji Kaur kan dah lama ndak dinaikkan. Padahal gaji Cengkir aja, tiap tahun dinaikkan.” ulas Juragan Brono.

“Lha ya jelas. Cengkir yang cuman nerima jadi tukang sapu desa, gajinya cuman berapa? Kok mau dibandingkan dengan gaji Kaur yang sudah nggedabel. Belum lagi tunjangan sama dana taktis masing-masing Kaur. Ya to, Ceng?”

Semua menoleh ke arah Cengkir. Tapi yang ditanya masih asik melihat ke atas.

“Cengkir! Kamu dari tadi liat atas terus. Ada apa, to?” tegur Kang Sronto kesal.

Tidak mengalihkan pandangannya, sambil jarinya menunjuk ke atas. Cengkir berbicara. “Itu lho, tulisan di atas. Blogger  Tolak Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Maksudnya apa,to? Dari tadi saya pikir-pikir, kok ndak nemu apa maksudnya itu.”

Tidak memperdulikan Kang Sronto yang menepok jidat, Mas Roy, yang kuliah di Fisip tapi ahli komputer, melihat ini sebagai peluang lepas dari gugatan Kang Sronto.

Mas Roy menjawab. “Ini lho, Kir. Pasal itu kan mengatakan, siapa saja yang mencemarkan nama baik seseorang di internet bisa kena pidana. Nah masalahnya, gimana sih kriteria nama baik seseorang itu? Soalnya, orang-orang yang sensitif sama nama baik itu malah biasanya orang yang sedang bermasalah dengan nama baiknya karena kesangkut kasus korupsi dan tindak pidana lainnya.”

“Apa orang yang mengeluhkan buruknya pelayanan yang dia terima, bisa disebut sebagai pencemaran nama baik? Ini termasuk pasal mulur-mungkret yang bisa diterjemahkan sesuai keinginan pemodal. Timor Leste aja yang kitan KUHP-nya nyontek Indonesia, sudah menghapuskan segala pasal pencemaran nama baik. Makanya saya juga mendukung penghapusan pasal 27 ayat 3 UU ITE. Undang-undang ITE mutlak tetep diperlukan, tapi 1 ayat itu perlu dibusek.” Mas Roy mengakhiri penjelasan panjangnya sambil berterima kasih atas narasi dan logonya kepada kang Blontankpoer.

Cengkir manggut-manggut sambil akhirnya ikut duduk bersama tamu-tamunya.

“Saya juga mendukung itu, lho Ceng!” kata Lik Power bersemangat.

“Pokoknya, saya juga mendukung itu!”  Juragan Brono tidak mau kalah.

Semua bersemangat. Benar-benar mencitrakan Pejuang Pembela hak Rakyat Sejati.

Wajah Cengkir menjadi cerah sumringah. Cengkir berkata. “Wah,wah…brati, nanti kalo ada tulisan-tulisan yang isinya mengeluhkan kinerja pemerintahan desa Carangpedopo ini, brati ndak bakal dituntut, kan ya? Ya?”

“Ngg…nganu…itu..eh…” kata Lik Power, Juragan Brono dan Mas Roy tergagap berjamaah menjawab pertanyaan Cengkir.

Obrolan Sore pun berakhir.

*Seluruh masyarakat desa Carangpedopo mendukung penghapusan Pasal 27 ayat 3 UU ITE…yah, setidaknya, Cengkir mendukung.*